Nama Kusni Kasdut menjadi salah satu sosok paling kontroversial dalam sejarah kriminal Indonesia.
Ia dikenal sebagai perampok legendaris yang selama bertahun-tahun menjadi buronan aparat keamanan, tetapi di sisi lain juga dijuluki sebagai “Robin Hood Indonesia”.
Julukan tersebut muncul karena berkembang anggapan bahwa sebagian hasil kejahatannya pernah digunakan untuk membantu rakyat kecil maupun mantan pejuang. Meski demikian, klaim tersebut tidak pernah sepenuhnya dapat dibuktikan secara historis.
Kusni Kasdut lahir di Blitar dengan nama Ignatius Waluyo sekitar tahun 1929. Masa kecilnya diwarnai kemiskinan setelah sang ayah meninggal dunia ketika ia masih belia.
Kehidupan yang serba kekurangan memaksanya bekerja sejak kecil demi membantu keluarga. Kondisi tersebut membentuk karakter Kusni sebagai pribadi yang keras, berani mengambil risiko, dan terbiasa bertahan dalam situasi sulit.
Ketika Jepang menduduki Indonesia, Kusni bergabung dengan Heiho, pasukan pembantu bentukan militer Jepang.
Dari sana ia memperoleh berbagai keterampilan militer, mulai dari penggunaan senjata, teknik penyamaran hingga strategi gerilya.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, kemampuan tersebut digunakannya untuk bergabung bersama Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal bakal Tentara Nasional Indonesia.
Dalam masa Revolusi Fisik, Kusni ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan melawan Belanda dan dikenal sebagai pejuang yang memiliki keberanian tinggi.
Namun, kehidupan setelah perang tidak berjalan seperti yang diharapkannya. Berakhirnya revolusi tidak serta-merta menghadirkan kesejahteraan bagi para bekas pejuang.
Dalam sejumlah catatan sejarah disebutkan bahwa Kusni merasa kecewa terhadap kondisi sosial dan ekonomi yang dihadapinya setelah kemerdekaan.
Kekecewaan tersebut perlahan mengubah arah hidupnya. Bekal kemampuan militer yang dahulu digunakan untuk mempertahankan negara justru beralih menjadi modal dalam melakukan berbagai aksi kriminal yang semakin terorganisasi.
Pada awal kemunculannya sebagai pelaku kejahatan, Kusni dikenal sebagai perampok yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
Ia mampu menyusun rencana dengan matang, piawai menyamar, serta memiliki kemampuan meloloskan diri yang berkali-kali membuat aparat keamanan frustrasi.
Kemampuan tersebut membuat namanya cepat dikenal di kalangan kepolisian. Sebagian masyarakat bahkan mulai menyebutnya sebagai “Robin Hood” karena berkembang cerita bahwa ia tidak semata-mata memperkaya diri sendiri.
Meski demikian, seiring waktu, aksi-aksi yang dilakukannya justru semakin brutal dan memakan korban jiwa sehingga julukan tersebut menjadi perdebatan hingga sekarang.
Seiring berjalannya waktu, aksi kejahatan Kusni Kasdut semakin meningkat, baik dari sisi nilai kerugian maupun tingkat kekerasannya.
Salah satu kasus yang paling terkenal adalah perampokan terhadap Museum Nasional Jakarta pada 31 Mei 1963.
Bersama tiga rekannya, Herman, Budi serta Sumali, Kusni menyamar sebagai anggota kepolisian agar dapat memasuki museum tanpa menimbulkan kecurigaan.
Dengan memanfaatkan kelengahan petugas, mereka berhasil membobol lemari penyimpanan koleksi berharga dan membawa kabur 11 batu permata atau berlian kuno beserta sejumlah perhiasan emas koleksi Museum Nasional yang pada masa itu ditaksir bernilai sekitar Rp2,5 miliar, angka yang sangat fantastis untuk ukuran dekade 1960-an.
Ketika aksi mereka diketahui, dua petugas museum yang berusaha menggagalkan pelarian komplotan tersebut tewas setelah ditikam oleh anggota kelompok Kusni.
Peristiwa ini menjadi salah satu pencurian benda cagar budaya terbesar dalam sejarah Indonesia dan menggemparkan publik.
Sebenarnya, jauh sebelum perampokan Museum Nasional terjadi, nama Kusni telah masuk dalam daftar kriminal yang paling diburu aparat keamanan.
Pada awal 1950-an ia terlibat dalam perampokan terhadap seorang hartawan keturunan Arab di Jakarta bernama Ali Bajhened, yang dalam sejumlah arsip juga ditulis sebagai Ali Badjened.
Dalam aksi tersebut, Ali ditembak hingga meninggal dunia. Kasus pembunuhan itu menjadi salah satu titik balik yang mengubah citra Kusni dari pelaku perampokan menjadi kriminal bersenjata yang tidak segan menghilangkan nyawa demi mencapai tujuannya.
Daftar kejahatan Kusni terus bertambah dalam masa pelariannya. Ia juga tercatat melakukan penculikan terhadap seorang dokter keturunan Tionghoa di Surabaya.
Korban disandera dan keluarganya diminta membayar uang tebusan dalam jumlah besar agar dapat dibebaskan.
Meski identitas korban tidak banyak disebut dalam berbagai arsip sejarah, kasus tersebut menunjukkan bahwa pola kejahatan Kusni telah berkembang dari sekadar perampokan menjadi tindak kriminal yang jauh lebih kompleks.
Aksi kekerasan lainnya terjadi ketika aparat kepolisian berusaha menangkap Kusni di Semarang. Dalam upaya penangkapan tersebut, Kusni melakukan perlawanan bersenjata dan melepaskan tembakan yang mengakibatkan seorang anggota polisi meninggal dunia.
Peristiwa itu membuat statusnya meningkat menjadi buronan utama aparat keamanan Indonesia. Sejak saat itu, operasi pencarian dilakukan secara besar-besaran karena Kusni dianggap sebagai kriminal yang sangat berbahaya sekaligus memiliki kemampuan luar biasa dalam meloloskan diri dari kejaran aparat maupun dari penjara.
Anomali terbesar dalam kisah hidup Kusni Kasdut terletak pada dua wajah yang melekat pada dirinya.
Di satu sisi, ia adalah mantan pejuang kemerdekaan yang pernah mempertaruhkan nyawa demi Republik Indonesia.
Di sisi lain, ia menjelma menjadi pelaku berbagai tindak pidana berat, mulai dari perampokan, penculikan, pembunuhan hingga penyerangan terhadap aparat penegak hukum.
Kontradiksi inilah yang membuat nama Kusni terus menjadi objek kajian para sejarawan dan kriminolog.
Sebagian memandangnya sebagai simbol kegagalan negara dalam menyejahterakan para mantan pejuang, sementara sebagian lainnya menegaskan bahwa apa pun latar belakangnya, tindak pidana yang dilakukan Kusni tetap merupakan kejahatan yang harus dipertanggungjawabkan.
Setelah bertahun-tahun menjadi buronan, perjalanan Kusni akhirnya berakhir di meja hijau. Pengadilan menjatuhkan hukuman mati atas berbagai tindak pidana berat yang dilakukannya.
Selama menjalani masa penahanan, sejumlah kesaksian menyebutkan bahwa Kusni mulai menunjukkan perubahan sikap.
Ia mengisi hari-harinya dengan melukis, membaca, dan lebih mendekatkan diri pada kehidupan religius. Beberapa karya lukisnya bahkan masih dikenang sebagai bagian dari kisah akhir hidup seorang narapidana yang pernah menjadi legenda kriminal Indonesia.
Pada 16 Februari 1980, Kusni Kasdut dieksekusi oleh regu tembak setelah seluruh proses hukum yang dijalaninya berkekuatan hukum tetap.
Dengan berakhirnya eksekusi tersebut, tamat pula perjalanan hidup seorang pria asal Blitar yang pernah dipuja sebagai pejuang, ditakuti sebagai perampok, dijuluki “Robin Hood Indonesia”, sekaligus dikenal sebagai salah satu kriminal paling legendaris dalam sejarah Indonesia.

