Aceh Tamiang — Denyut ekonomi di Kabupaten Aceh Tamiang Februari 2026 pascabanjir besar menampilkan anomali tajam. Di pusat perkotaan, aktivitas perdagangan seolah telah melupakan bencana, namun di pelosok desa, warga masih berjibaku dengan lumpur dan hilangnya daya beli.
Laporan Satuan Tugas Pemulihan Ekonomi Daerah (TPED) Aceh Tamiang mencatat 98 persen UMKM di sektor ritel telah kembali beroperasi per 20 Februari 2026. Namun, angka optimistis ini berbanding terbalik dengan temuan lapangan tim relawan NU Peduli Kabupaten Blitar yang memantau kondisi sejak 17 Februari.
Relawan menemukan bahwa di zona agraris, produktivitas warga masih lemah akibat sedimentasi lumpur yang menutup ribuan hektare lahan sawit dan hortikultura.
Kesenjangan ini diperparah oleh tekanan moneter. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi di Aceh Tamiang menyentuh 7,59 persen, dipicu oleh rusaknya rantai pasok lokal. Bagi warga Desa Banai, Kecamatan Karang Baru, angka ini bukan sekadar statistik, melainkan ancaman kelaparan.
Program Padat Karya
Iyung, salah satu tokoh masyarakat Desa Banai, mengungkapkan bahwa ketergantungan pada bantuan logistik telah mencapai titik jenuh. “Kami berterima kasih pada relawan NU, tapi bantuan-bantuan tidak bisa menggantikan penghasilan yang hilang. Lahan kami mati, dan kami tidak punya uang tunai untuk membeli kebutuhan pokok lainnya,” ujarnya saat ditemui Senin (23/2/2026).
Merespons situasi tersebut, Iyung mendesak pemerintah meninggalkan pola bantuan konsumtif dan beralih ke program Padat Karya Tunai. Ia menilai, pelibatan warga dalam rehabilitasi drainase dan jalan desa dengan upah harian akan menyuntikkan likuiditas langsung ke kantong petani sebelum memasuki bulan Syawal.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang melalui Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian menyatakan bahwa fokus awal pada sektor ritel adalah strategi untuk menekan inflasi agar tidak semakin liar.
Namun, menanggapi aspirasi warga, otoritas setempat tampaknya perlu mulai mengkaji realokasi dana tak terduga untuk program padat karya di wilayah terdampak parah seperti Kejuruan Muda dan Karang Baru.
Langkah ini krusial, sebab tanpa intervensi tunai di tingkat tapak, pulihnya pasar di kota hanya akan menjadi tontonan bagi warga desa yang masih terhimpit lumpur sisa bencana. (sz/blt)

