Blitar – Dalam rangka memperingati 77 tahun eksekusi terhadap tokoh revolusioner Indonesia, Tan Malaka, komunitas Lapak Buku Ceria menggelar diskusi buku bertajuk “Tan dalam Tiga Ingatan” pada Sabtu, 21 Februari 2026.
Kegiatan yang dikoordinatori Reyda Hafis ini berlangsung di Kopi Kalpas, Jl. Beliton No. 54, Karangtengah, Sananwetan, Kota Blitar.
Tanggal 21 Februari dipilih karena bertepatan dengan 77 tahun peristiwa eksekusi Tan Malaka pada 1949 di wilayah Kediri, Jawa Timur, dalam situasi konflik internal pasca-kemerdekaan. Tan Malaka, yang memiliki nama asli Sutan Ibrahim, merupakan tokoh pergerakan yang sejak awal abad ke-20 aktif dalam perjuangan anti-kolonial.
Ia pernah terlibat dalam pergerakan buruh, aktif di Sarekat Islam (SI) dan Partai Komunis Indonesia hingga menjadi tokoh penting dalam jaringan pergerakan internasional.
Pada 1925, saat berada di pengasingan, Tan Malaka menulis Naar de Republiek Indonesia, sebuah risalah politik yang secara tegas menggagas bentuk republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat penuh jauh sebelum proklamasi 1945.
Pemikirannya kerap berada di luar arus utama politik saat itu, bahkan membuatnya berseberangan dengan berbagai kekuatan politik, termasuk sesama tokoh pergerakan.
Diskusi di Blitar ini menghadirkan tiga pemantik yang membedah tiga karya penting Tan Malaka. Reyda Hafis mengulas Naar de Republiek Indonesia dan menekankan bahwa gagasan republik yang ditawarkan Tan Malaka lahir dari analisis tajam terhadap kolonialisme dan kapitalisme global.
“Tan Malaka sudah berbicara tentang republik yang berdiri di atas kedaulatan rakyat sejak 1925. Ia bukan hanya aktivis, tetapi pioner pemikiran kemerdekaan,” ujar Reyda.
Sementara itu, Alex Cahyono membedah buku Semangat Muda. Dalam paparannya, ia menyoroti bagaimana Tan Malaka menempatkan generasi muda sebagai subjek sejarah.
“Semangat Muda adalah sebuah refleksi sekaligus seruan. Tan Malaka menegaskan bahwa perubahan sejarah selalu digerakkan oleh kesadaran generasi muda yang terdidik dan terorganisir,” tegas Alex.
Ia juga mengaitkan konteks historis penulisan buku tersebut dengan situasi pergerakan Indonesia di perantauan, ketika Tan Malaka menghadapi tekanan politik dan hidup dalam pelarian.
“Di tengah pengasingan dan ancaman penangkapan, ia tetap menulis dan merumuskan strategi perjuangan. Itu menunjukkan konsistensi ideologisnya,” tambahnya.
Pemantik ketiga, Iiw Tualang, membahas Aksi Massa. Ia menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari pengalaman panjang Tan Malaka dalam mengorganisir gerakan rakyat.
“Tan Malaka menekankan bahwa aksi massa harus dilandasi kesadaran politik dan pendidikan. Tanpa itu, gerakan mudah dipatahkan,” jelas Iiw.
Diskusi dipandu oleh moderator Imey Chatrine Mufita dari komunitas Rumah Diskusi (Rukus) Moeradi yang menekankan pentingnya membaca Tan Malaka secara utuh, termasuk memahami dinamika konflik politik yang melingkupi hidupnya.
“Secara historis, Tan Malaka adalah tokoh yang sering disalahpahami. Ia pernah dipinggirkan dalam historiografi resmi, padahal kontribusinya dalam merumuskan gagasan republik sangat besar,” ungkap Imey.
Acara berlangsung hangat dengan partisipasi mahasiswa dan pegiat literasi. Selain menjadi ruang diskusi buku, forum ini juga menjadi refleksi atas perjalanan sejarah bangsa dan posisi Tan Malaka di dalamnya adalah seorang tokoh yang dilupakan, namun kini semakin banyak dikaji ulang.
Menutup kegiatan, Reyda Hafis berharap diskusi ini dapat menjadi langkah awal membangun tradisi literasi kritis di Blitar.
“Kami ingin generasi muda tidak hanya mengenang Tan Malaka sebagai korban sejarah, tetapi sebagai pemikir besar yang gagasannya masih relevan. Sejarah harus dibaca ulang agar kita tidak kehilangan arah,” pungkasnya.

