Artikel
Beranda » Drama kolosal PETA Blitar 2026 akan kembali dipentaskan, semangat patriotisme menyala di Hari Cinta Tanah Air

Drama kolosal PETA Blitar 2026 akan kembali dipentaskan, semangat patriotisme menyala di Hari Cinta Tanah Air

Foto: Dok. Disbudpar Kota Blitar

Peradaban di Tanah Bung Karno

14 Februari memiliki arti yang berbeda di Blitar, yang dikenal sebagai “Bumi Bung Karno” dan “Kota Proklamator”. Di kota ini, hari ini, yang di banyak tempat dikenal sebagai hari kasih sayang, dianggap sebagai semangat nasional. Pemerintah Kota Blitar menetapkan 14 Februari sebagai Hari Cinta Tanah Air melalui Peraturan Wali Kota Nomor 10 Tahun 2023.

Kebijakan tersebut lebih dari sekadar penamaan. Ia menjadi penegasan arah bahwa cinta dapat berkembang menjadi komitmen terhadap bangsa dan negara lebih dari hubungan pribadi.

Perlawanan Arisaka dan Bayonet di Daidan Blitar

Pada 14 Februari 1945, pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA) terjadi di Blitar sebagai respons terhadap penindasan militer Jepang yang sistematis. Sebagai prajurit Kyodo Boei Giyugun, para pemuda kita tidak lagi mampu menahan kesedihan melihat rakyat dipaksa menjadi Romusha dan kelaparan karena kewajiban setoran padi.

Alasan mengapa nasi uceng adalah “jiwa” kuliner Blitar

Pemicu tambahan adalah arogansi pelatih Jepang, yang merendahkan martabat prajurit pribumi dan melakukan diskriminasi rasial.Pelatih Jepang juga arogan, melakukan diskriminasi rasial dan merendahkan martabat prajurit pribumi.

Ini adalah rangkaian kejadian heroik:

  • Waktu & Isyarat: Pada pukul 03.00 WIB, pemberontakan memulai dengan dentuman mortar sebagai tanda serangan.

 

Rahasia di balik tarawih kilat Blitar yang tetap eksis selama 100 tahun

  • Militer: Untuk menghadapi kekuatan pendudukan, pasukan PETA menggunakan senjata rampasan seperti senapan mesin Type 99 dan senjata Arisaka.

 

  • Target Utama: Hotel Sakura, tempat para perwira Jepang menginap, menjadi fokus utama serangan awal.

 

  • Tokoh Pergerakan: Sudanco Supriyadi memimpin, didukung oleh Shodancho Dasrip, Shodancho Muradi, Shodancho Sunardjo, dan Budancho Imam Badri.

 

Mengapa Blitar disebut “The land of kings”? ini sejarah dan maknanya

  • Misteri Supriyadi: Setelah perundingan yang brutal dan penipuan Jepang, 68 anggota PETA ditangkap, 8 di antaranya dihukum mati. Namun, pemimpin utama, Sudanco Supriyadi, dinyatakan tidak ada (tidak ada dalam tindakan). Ia dianggap sebagai pahlawan legendaris yang abadi dalam masyarakat, dan ada berbagai spekulasi bahwa ia meninggal dalam bentrokan atau mengasingkan diri di daerah Trenggalek.

Persiapan Megah Sanggar Patrialoka 2026

Pemerintah Kota Blitar melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) telah menyiapkan pementasan yang lebih kolosal dan teatrikal untuk memperingati ke-81 tahun peristiwa PETA.

Kategori Rincian Pelaksanaan
Waktu & Tanggal Sabtu, 14 Februari 2026, pukul 19.00 WIB
Lokasi Taman Plaza Museum PETA / Monumen PETA (Tepat di depan TMP Kota Blitar)
Tema Utama “Alap-alap Daidan PETA Blitar” atau “PETA Blitar Menginspirasi Gelora Cinta Tanah Air”
Pemeran Kolaborasi dinamis antara seniman lokal dan pelajar dari Sanggar Patrialoka sebagai jembatan regenerasi nilai
Sutradara Komite Teater Dewan Kebudayaan dan Kesenian Kota Blitar

Edukasi dan Kemandirian Ekonomi

Persiapan intensif yang dimulai sejak Januari 2026 bukan tanpa alasan. Secara kebijakan, agenda ini merupakan upaya nyata mencapai Misi 3 Disbudpar, yaitu meningkatkan kemandirian ekonomi yang berorientasi pada industri pariwisata. Dengan kemasan yang apik, sejarah tidak hanya menjadi pelajaran di kelas, tetapi juga daya tarik wisata edukasi yang kompetitif.

Plt. Kepala Disbudpar Kota Blitar menegaskan visi besar di balik acara ini:

Dari Garum tersenyum ke Nikita Jibril, jejak sejarah komunitas punk sejak 1996

“Pementasan ini adalah media edukasi sejarah yang vital. Melalui keterlibatan anak muda dalam seni pertunjukan, kita tidak hanya menghidupkan kualitas seni budaya lokal, tetapi juga membakar kembali semangat nasionalisme dan patriotisme sebagai benteng identitas bangsa di era global.”

Panduan Pengamanan dan Rekayasa Lalu Lintas

Demi mendukung kelancaran kegiatan serta menjaga Harkamtibmas (Pemeliharaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat), Polres Blitar Kota akan menerapkan rekayasa lalu lintas khusus di sekitar area Monumen PETA dan Taman Makam Pahlawan (TMP) pada hari Sabtu tersebut.

Penutupan Jalan dan Pengalihan Arus:

Menyingkap misteri Supriyadi lewat kesaksian keluarga di Blitar

  1. Sisi Barat: Penutupan dilakukan mulai dari pertigaan lampu merah SPBU Bendogerit (Jalan Sudanco Supriyadi).
  2. Sisi Timur: Penutupan berakhir di depan Kantor Kejaksaan Negeri Blitar.
  3. Sisi Utara: Penutupan akses di Jalan Hasanuddin hingga perempatan Jalan WR. Supratman.
  4. Arus kendaraan dari arah barat akan dialihkan melalui simpang SPBU Bendogerit untuk mengurai potensi kemacetan.

Informasi Kantong Parkir: Pengunjung dapat memarkirkan kendaraan di lokasi yang telah disediakan di luar zona pementasan:

  • Area Jalan Sudanco Supriyadi sisi Barat dan Timur.
  • Jalan Dr. Soetomo.
  • Sepanjang Jalan Hasanuddin dan Jalan Teuku Umar (wilayah yang tidak terdampak penutupan total).

Mari Menjadi Saksi Estafet Semangat Proklamasi

Drama Kolosal PETA 2026 adalah undangan terbuka bagi seluruh warga dan wisatawan untuk menyaksikan bagaimana kemerdekaan Indonesia diperjuangkan dengan darah dan harga diri. Di depan TMP Kota Blitar nanti, kita tidak hanya akan melihat sebuah pertunjukan, tetapi juga merenungi kembali esensi pengabdian kepada bangsa.

Mari hadir dan ajak generasi muda untuk menyelami sejarah hebat dari tanah kelahirannya. Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah lelah merawat ingatan akan pahlawannya. Sampai jumpa di pelataran Monumen PETA!

Bumi Penataran 2026 hadirkan wajah baru seni dan budaya Blitar


Artikel ini diolah dari berbagai sumber yang dibantu AI

Berita Terbaru

×