Artikel
Beranda » Lebih dari sekadar tren estetik: mengapa matcha menjadi ‘bahasa baru’ gen z

Lebih dari sekadar tren estetik: mengapa matcha menjadi ‘bahasa baru’ gen z

Satu gelas es matcha. (Foto : unsplash.com/Daniel Stiel)

Di sudut-sudut kafe urban Jakarta yang minimalis, pemandangan meja kerja kini mulai mengalami pergeseran warna yang signifikan.

Jika beberapa tahun lalu gelas berisi cairan hitam pekat seperti americano atau espresso mendominasi layar laptop para pekerja kreatif, kini gradasi hijau cerah dari matcha latte menjadi pemandangan utama.

Fenomena ini bukan sekadar pergantian menu atau bukan semata-mata visual instagram melainkan fenomena sosial.

Mengenal kebiasaan “ngopi” kalangan gen z

Bagi Generasi Z, matcha telah melampaui fungsi dasarnya sebagai komoditas. Ia telah menjelma menjadi simbol pergeseran nilai generasi yang mengutamakan well-being dan mindfulness di tengah tuntutan dunia yang semakin cepat.

Namun, di balik popularitasnya yang melonjak, terdapat paradoks pahit: minuman yang menjadi nafas baru bagi gaya hidup sehat ini tengah berada di ambang ancaman serius akibat krisis iklim global.

Dirty Matcha: Rahasia Kafein Tinggi di Balik Layer Hijau yang Cantik

Bagi banyak penikmat kopi yang mulai melirik teh hijau, “Dirty Matcha” sering kali menjadi gateway atau pintu masuk utama.

Kopi Bang Madhun road show di Blumbang Gede Gandusari, bagikan 50 cup kopi gratis untuk pengunjung

Racikan yang memadukan espresso, matcha, dan susu ini menawarkan visual tiga lapis (3-layer) yang memikat, namun di baliknya tersimpan kandungan kafein yang justru sangat efektif untuk memacu fokus tanpa drama.

Ketika dipadukan dengan satu shot espresso (30 ml) yang mengandung sekitar 63 mg kafein, Dirty Matcha menjadi amunisi energi yang luar biasa kuat.

Uniknya, kombinasi ini memberikan efek “melek” yang stabil berkat tekstur susu yang melembutkan profil rasa pahit dan sepatnya.

Kedai Kopi Nongkrong: Tempat asik untuk makan dan santai di Blitar

“Matcha bikin aku lebih tenang pas ngerjain tugas desain, memberikan energi yang lebih stabil tanpa harus merasakan ‘drama’ pada tubuh seperti jantung berdebar,” ujar Dea (21), seorang mahasiswa desain grafis, menggambarkan pengalamannya beralih dari kopi murni.

“Soft is the New Strong”: Matcha Sebagai Identitas Melawan Hustle Culture

Analisis sosiologis menunjukkan bahwa beralihnya Gen Z dari kopi ke matcha adalah bentuk perlawanan elegan terhadap hustle culture.
Jika americano merepresentasikan citra agresif, efisiensi tinggi, dan tekanan untuk terus bekerja, matcha membawa narasi slow living dan self-care.

Sejalan dengan itu, laporan dari Global Wellness Institute mencatat bahwa 73% responden Gen Z mulai mengurangi kopi secara drastis karena rawan memicu kecemasan (anxiety) dan gangguan tidur.

Warkop Mbah Adjam Blitar: Menyeruput kopi sambil menyusuri kenangan tempo dulu

Produktivitas bukan lagi soal seberapa cepat kita berlari, tapi seberapa sehat kita bertahan. Sains di Balik Ketenangan: Keajaiban L-Theanine dan Antioksidan

Perbedaan mendasar antara energi dari kopi dan matcha terletak pada cara kerja molekulnya di dalam tubuh.

Matcha menawarkan apa yang disebut sebagai calm alertness atau ketenangan yang waspada. Berikut adalah keunggulan fungsionalnya:

Menyeruput kopi ijo di Warung Kopi Waris, ikon ngopi khas Tulungagung

  • L-Theanine: Asam amino unik ini membantu menenangkan sistem saraf dan memastikan kafein dilepaskan secara perlahan ke aliran darah. Hasilnya adalah fokus yang tajam tanpa efek crash atau jantung berdebar.
  • Antioksidan Catechins (EGCG): Mengutip riset dari Weiss & Anderton, matcha kaya akan EGCG yang berperan penting melawan radikal bebas dan mendukung kesehatan jantung.
  • Klorofil: Berfungsi sebagai agen detoks alami yang memberikan sifat anti-inflamasi, membantu tubuh pulih dari kelelahan fisik.

Realitas Pahit: Matcha, Kopi, dan Cokelat di Ambang Krisis Iklim

Namun, estetika clean living yang di nikmati pada kafe-kafe Jakarta kini berbenturan dengan realitas lingkungan yang hancur di lapangan.

Daun teh hijau yang menjadi bahan utama matcha, bersama dengan biji kopi dan kakao, kini menjadi komoditas paling rentan terhadap perubahan iklim.

Di uji Jepang wilayah legendaris penghasil matcha terbaik, suhu ekstrem telah merusak kualitas daun teh muda.

Kopi Robusta Milik Petani Asal Blitar Raih Juara Tiga Nasional, Siap Tembus Pasar Mancanegara

“Suhu ekstrem dan gelombang panas menyebabkan penurunan hasil panen hingga 25% pada tahun 2025,” ungkap Masahiro Yoshida, seorang petani teh di Uji melalui laporan Mongabay.

Kondisi serupa terjadi pada kopi, di mana studi memproyeksikan penyusutan lahan global hingga 50% pada 2050.
Di Indonesia, dampaknya terasa nyata di Luwu Utara, Sulawesi Selatan, di mana petani kakao melaporkan penurunan panen drastis dari 4 ton menjadi hanya 600-800 kilogram akibat kekeringan ekstrem.

Kesimpulan & Refleksi Masa Depan

Secangkir matcha yang kita nikmati hari ini adalah simbol komitmen terhadap kesehatan diri dan bentuk kesadaran sosial yang baru.

Split Espresso Blitar Kedai Kopi Minimalis yang Menawarkan Rasa Kelas Wahid

Namun, popularitas ini membawa tanggung jawab besar bagi para konsumen.

Gen Z memiliki kekuatan untuk mendorong transparansi rantai pasok dan menuntut praktik pertanian berkelanjutan guna menyelamatkan komoditas ini dari kepunahan.

Pada akhirnya, pilihan minuman adalah cerminan dari bagaimana manusia memandang masa depan. Sebagai bahan refleksi: “Apakah secangkir matcha hari ini sudah cukup untuk membuat orang peduli pada masa depan bumi tempatnya tumbuh?” Karena tanpa tindakan nyata terhadap krisis iklim, kemewahan hijau ini mungkin hanya akan menjadi kenangan dalam arsip digital kita.

Kopi Singgah Membuat Nyaman untuk Mampir Ngopi di Penataran Blitar


Artikel ini dibuat berdasrkan beberapa sumber dan di bantu oleh AI

Berita Terbaru

×