Artikel Opini

Kenapa orang Jawa lebih takut keluarganya konflik daripada terjadi ketidakadilan?

Cover Buku “Keluarga Jawa” Karya Hildred Geertz. Dok. IST.

Ada sebuah keluarga yang hampir tidak pernah bertengkar. Di rumahnya tidak terdengar suara pintu dibanting, tidak ada meja yang dipukul, tidak ada orang yang meninggikan suara karena perbedaan pendapat.

Ketika muncul persoalan, semuanya segera diredam. Orang lebih muda diminta memahami yang lebih tua, saudara diminta mengalah kepada saudara lainnya serta orang yang keberatan sering kali justru diberi nasihat agar tidak memperpanjang masalah.

Dari luar, keluarga semacam itu tampak ideal. Mereka terlihat adem, guyub serta rukun. Tetapi ada satu pertanyaan yang sering kali tidak pernah berani diungkapkan, apakah sebuah keluarga benar-benar rukun karena setiap anggotanya merasa diperlakukan dengan adil, atau karena ada orang-orang tertentu yang sejak lama dilatih untuk menahan keberatan demi menjaga suasana tetap tenang?.

Pertanyaan ini menjadi jauh lebih menarik ketika kita membaca kembali pemikiran Hildred Geertz mengenai keluarga Jawa. Melalui kajiannya tentang keluarga, kekerabatan, pengasuhan, dan proses sosialisasi, Geertz memperlihatkan bahwa menjadi “orang Jawa” bukan semata-mata persoalan lahir dari keluarga Jawa.

Ada proses panjang ketika seorang anak belajar bagaimana menempatkan dirinya di tengah orang lain, belajar menghormati, belajar memahami batas, belajar mengendalikan keinginan serta pada saat yang sama belajar membaca perasaan orang lain.

Dalam proses tersebut, keluarga bukan hanya tempat seseorang dibesarkan secara biologis, tetapi juga menjadi sekolah sosial pertama tempat seseorang belajar bagaimana seharusnya ia bersikap.

Di situlah konsep rukun menjadi penting. Dalam kehidupan sosial Jawa, kerukunan tidak hanya keadaan ketika semua orang sedang bahagia.

Kerukunan merupakan cara menjaga agar hubungan sosial tidak mudah pecah oleh benturan kepentingan.

Orang diajarkan untuk tidak mempertajam perbedaan, menghindari konflik terbuka, mempertimbangkan perasaan orang lain hingga sebisa mungkin menyelesaikan persoalan tanpa mempermalukan pihak yang bersangkutan.

Dalam banyak keadaan, kemampuan seperti ini merupakan bentuk kecerdasan sosial yang sangat berharga. Kehidupan bersama tentu akan menjadi melelahkan apabila setiap orang merasa bahwa keinginannya harus selalu dimenangkan.

Namun persoalannya muncul ketika kerukunan tidak lagi menjadi cara untuk menjaga hubungan, melainkan berubah menjadi alasan untuk menghindari pertanyaan mengenai keadilan.

Pada titik tertentu, kita dapat menemukan keluarga yang terlihat sangat rukun justru karena setiap orang sudah mengetahui siapa yang harus mengalah ketika konflik muncul.

Ada anak yang selalu diminta memahami orang tua. Ada saudara yang selalu diminta mengalah kepada kakaknya. Ada seseorang yang selalu dianggap paling kuat sehingga kepadanyalah pekerjaan keluarga dibebankan.

Ada pula orang yang terus-menerus diminta membantu secara ekonomi karena dianggap paling mampu.

Ketika orang tersebut akhirnya keberatan, respons yang muncul bukanlah pertanyaan tentang mengapa pembagian beban tidak seimbang, melainkan nasihat sederhana, “Sudahlah, demi keluarga.”

Kalimat “demi keluarga” terdengar sangat luhur. Tetapi justru karena keluhurannya, kalimat tersebut kadang menjadi sangat sulit untuk diperdebatkan.

Siapa yang tega mengatakan tidak kepada keluarga? Siapa yang ingin dianggap sebagai anak yang tidak tahu balas budi hanya karena meminta pembagian tanggung jawab yang lebih adil? Siapa yang ingin disebut egois ketika mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap sebagai kewajiban? Di sinilah sebuah persoalan sosial yang jauh lebih rumit muncul.

Ketidakadilan dalam keluarga tidak selalu datang dalam bentuk kekerasan, bentakan, atau penghinaan. Tapi bisa hadir dengan bahasa yang sangat lembut, dengan senyum, dengan nasihat bahkan dengan kalimat yang terdengar penuh kasih sayang.

Seseorang mungkin sebenarnya sedang keberatan, tetapi memilih diam karena merasa “ora penak”.

Ia ingin mengatakan bahwa beban yang ditanggungnya sudah terlalu berat, tetapi takut dianggap tidak menghormati orang tua.

Ia ingin mempertanyakan perlakuan saudaranya, tetapi khawatir hubungan keluarga menjadi renggang. Ia tahu ada sesuatu yang tidak adil, tetapi kemudian bertanya kepada dirinya sendiri apakah pantas persoalan itu dipermasalahkan.

Kemudian muncul pertanyaan “Apakah perlakuan ini adil?” berubah menjadi “Apakah pantas saya membantah?” Perubahan kecil dalam pertanyaan tersebut sebenarnya menunjukkan sesuatu yang sangat besar. Ketika persoalan keadilan telah digantikan oleh persoalan kepantasan.

Di sinilah nilai wedi, isin serta sungkan menjadi menarik untuk dibaca bukan sebagai kosakata kebudayaan, melainkan sebagai mekanisme sosial yang bekerja sangat dalam.

Anak belajar wedi, belajar merasa tidak nyaman ketika melakukan sesuatu yang dianggap salah atau melampaui batas. Ia belajar isin ketika dirinya berada dalam posisi yang membuatnya merasa dipandang buruk oleh orang lain.

Ia kemudian belajar sungkan ketika berhadapan dengan orang yang dianggap lebih tua, lebih tinggi kedudukannya, atau mempunyai hubungan sosial tertentu dengannya.

Nilai-nilai tersebut membantu menciptakan kemampuan mengendalikan diri. Tetapi sebagaimana kebajikan sosial lainnya, persoalannya bukan apakah nilai itu baik atau buruk secara mutlak, melainkan bagaimana nilai tersebut digunakan dan sampai di mana batasnya.

Sebab seseorang yang terlalu lama belajar mengendalikan dirinya dapat menjadi seseorang yang kesulitan membela dirinya sendiri.

Ia menjadi sangat mahir memahami perasaan orang lain, tetapi tidak lagi tahu bagaimana menyampaikan perasaannya sendiri. Ia mampu memaklumi kesalahan saudara, memahami kesibukan orang tua, mengerti keadaan keluarga serta terus memberikan kesempatan kedua.

Tetapi ketika dirinya sendiri membutuhkan pengertian, ia justru merasa bersalah karena harus meminta. Ia terbiasa menjadi orang yang memahami sehingga ketika suatu hari ia berkata “saya juga ingin dipahami”, kalimat tersebut terdengar asing bahkan bagi dirinya sendiri.

Fenomena semacam ini sebenarnya tidak sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Ada keluarga yang membagi pekerjaan berdasarkan senioritas, bukan kemampuan.

Anak sulung dianggap paling bertanggung jawab hanya karena ia lahir lebih dahulu. Anak yang memiliki pekerjaan lebih baik dianggap harus memberikan bantuan lebih besar kepada keluarga.

Anak yang tinggal paling dekat dengan orang tua dianggap otomatis mempunyai kewajiban lebih besar untuk merawat mereka.

Sementara saudara yang lain dapat bersembunyi di balik kesibukan masing-masing. Ketika anak yang paling banyak berkorban mulai lelah, ia justru dianggap berubah. Padahal mungkin bukan dia yang berubah. Mungkin hanya kesabarannya yang akhirnya mencapai batas.

Hal yang lebih menarik lagi adalah bagaimana masyarakat sering kali lebih cepat menilai seseorang dari cara ia menyampaikan keberatan daripada dari alasan mengapa ia keberatan.

Orang yang selama bertahun-tahun diam dianggap baik, sabar, dewasa bahkan pengertian.

Namun ketika suatu hari ia berbicara dengan nada tinggi karena sudah terlalu lama menahan tekanan, tiba-tiba seluruh perhatian diarahkan kepada kemarahannya. “Kenapa kamu bicara seperti itu kepada orang tua?” “Kenapa harus marah?” “Kenapa masalah kecil dibesar-besarkan?” Persoalan awal yang menyebabkan kemarahan itu perlahan menghilang.

Hal yang dibicarakan justru perilaku orang yang akhirnya berani mengeluh. Dalam kondisi semacam itu, tata krama dapat secara tidak sengaja menggeser pembicaraan mengenai keadilan menjadi pembicaraan mengenai sopan santun.

Padahal keduanya tidak selalu berada dalam posisi yang sama. Seseorang dapat menyampaikan sesuatu dengan cara yang kurang baik, tetapi persoalan yang ia sampaikan tetap benar.

Sebaliknya, seseorang dapat berbicara dengan sangat halus dan sopan, tetapi tetap melakukan ketidakadilan kepada orang lain.

Karena itu, menilai persoalan keluarga hanya berdasarkan cara seseorang berbicara sering kali membuat kita gagal melihat persoalan yang sebenarnya.

Kita juga perlu berhati-hati agar pembahasan semacam ini tidak berubah menjadi tuduhan bahwa orang Jawa adalah masyarakat yang takut konflik atau bahwa budaya Jawa identik dengan ketidakadilan.

Kesimpulan semacam itu terlalu sederhana. Kajian Hildred Geertz sendiri lahir dari penelitian terhadap masyarakat tertentu dalam konteks sejarah tertentu.

Temuannya tidak seharusnya diperlakukan sebagai hukum tetap mengenai watak jutaan orang Jawa yang hidup dalam kondisi sosial, ekonomi, pendidikan hingga generasi yang berbeda.

Bahkan nilai rukun, hormat serta sungkan tidak perlu dibuang hanya karena dalam kondisi tertentu ia dapat disalahgunakan.

Justru nilai-nilai tersebut perlu dibaca secara lebih dewasa. Menghormati orang tua tidak berarti membenarkan semua keputusan orang tua.

Menghargai senioritas tidak berarti orang yang lebih muda kehilangan hak untuk berbicara. Menjaga perasaan keluarga tidak berarti seseorang harus terus-menerus mengorbankan dirinya.

Mengalah juga tidak selalu merupakan kebajikan apabila yang diminta mengalah selalu orang yang sama. Sebab ketika pengorbanan hanya bergerak dari satu pihak kepada pihak lain, yang terbentuk bukan lagi hubungan yang saling menghormati, melainkan hubungan yang timpang.

Kita sering kali begitu takut terhadap keluarga yang bertengkar sehingga lupa bahwa konflik tidak selalu merupakan tanda kehancuran hubungan.

Konflik dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang selama ini tidak pernah dibicarakan. Konflik dapat menjadi kesempatan bagi anggota keluarga untuk mengatakan bahwa dirinya lelah, kecewa, merasa tidak dihargai atau merasa diperlakukan berbeda.

Konflik memang dapat menghancurkan hubungan jika dibiarkan menjadi kekerasan dan permusuhan.

Tetapi konflik yang dibicarakan secara sehat justru dapat menyelamatkan hubungan dari keretakan yang jauh lebih dalam.

Sebab ada konflik yang jauh lebih berbahaya daripada pertengkaran. Namanya adalah diam terlalu lama.

Orang berhenti membantah bukan karena masalah selesai, melainkan karena merasa tidak ada gunanya berbicara.

Ia berhenti menjelaskan karena setiap penjelasan selalu dianggap sebagai pembelaan diri. Ia berhenti meminta bantuan karena selalu merasa bersalah ketika meminta.

Ia berhenti pulang bukan karena membenci keluarganya, melainkan karena rumah yang dahulu menjadi tempat berlindung perlahan berubah menjadi tempat di mana dirinya harus terus memainkan peran sebagai orang yang baik-baik saja.

Hubungan keluarga tidak selalu rusak melalui satu pertengkaran besar. Banyak hubungan keluarga justru rusak secara perlahan melalui akumulasi kekecewaan kecil yang tidak pernah memperoleh ruang untuk dibicarakan.

Hari ini seseorang mengalah. Besok ia mengalah lagi. Tahun berikutnya ia kembali mengalah. Sampai suatu ketika ia tidak lagi marah. Ia hanya tidak peduli.

Ketika seseorang sudah sampai pada tahap tidak peduli, sering kali hubungan tersebut jauh lebih sulit diperbaiki daripada ketika mereka masih mau bertengkar.

Karena itu, mungkin kita perlu mengubah cara memahami kerukunan dalam keluarga. Rukun tidak semestinya berarti tidak pernah ada perbedaan pendapat.

Rukun tidak seharusnya berarti anak harus selalu mengalah. Rukun bukan berarti orang tua tidak boleh dikritik. Rukun juga bukan berarti saudara harus selalu mengatakan iya terhadap semua permintaan.

Kerukunan yang sehat justru harus memberikan ruang kepada setiap anggota keluarga untuk mengatakan tidak tanpa kehilangan martabatnya sebagai bagian dari keluarga.

Keluarga yang sehat bukan keluarga yang tidak pernah konflik. Keluarga yang sehat adalah keluarga yang mampu menghadapi konflik tanpa mencari satu orang untuk dikorbankan demi ketenangan bersama.

Di dalam keluarga semacam itu, orang tua dapat meminta maaf kepada anak. Kakak dapat dikritik oleh adiknya. Anak dapat menyampaikan ketidaksetujuan tanpa langsung dicap durhaka.

Saudara dapat mengatakan bahwa pembagian tanggung jawab tidak adil tanpa dianggap sedang menghitung-hitung jasa. Nantinya seseorang dapat berkata, “Saya sudah tidak sanggup,” tanpa harus merasa bahwa dirinya sedang mengkhianati keluarganya.

Barangkali inilah alasan mengapa membaca kembali pemikiran Hildred Geertz tentang keluarga Jawa masih relevan.

Bukan karena buku tersebut dapat memberikan jawaban final tentang bagaimana orang Jawa harus hidup, melainkan karena ia membuat kita melihat bahwa sesuatu yang tampak sangat biasa dalam kehidupan keluarga ternyata mempunyai proses sosial yang panjang di belakangnya.

Cara seorang anak menghormati orang tua, cara seseorang belajar malu, cara seseorang menahan diri, cara seseorang memahami kedudukan orang lain, semuanya bukan muncul begitu saja.

Ia dipelajari, dibentuk serta diwariskan melalui interaksi sehari-hari. Namun kebudayaan bukan benda mati. Nilai sosial selalu dapat ditafsirkan kembali sesuai dengan perubahan zaman.

Jika dahulu mengalah mungkin menjadi cara penting untuk menjaga hubungan, hari ini kita juga perlu mengajarkan bahwa mempertahankan batas diri merupakan bagian dari kedewasaan.

Jika dahulu diam dianggap sebagai bentuk penghormatan, kita juga harus mampu menerima bahwa berbicara dengan jujur dapat menjadi bentuk penghormatan yang lain.

Sebab hubungan yang hanya bertahan karena seseorang tidak pernah boleh mengatakan keberatan sebenarnya bukan hubungan yang sepenuhnya sehat.

Mungkin karena itu pertanyaan tentang keluarga Jawa seharusnya tidak berhenti pada “mengapa orang Jawa takut konflik?”.

Pertanyaan yang lebih dalam adalah mengapa kita begitu sering menganggap konflik sebagai sesuatu yang lebih memalukan daripada ketidakadilan yang melahirkannya.

Mengapa keluarga lebih sibuk menjaga agar tidak terdengar bertengkar daripada memastikan tidak ada anggota keluarga yang terus-menerus menjadi korban pembagian beban yang tidak seimbang?.

Mengapa anak yang akhirnya bersuara sering kali dianggap lebih bermasalah daripada sistem keluarga yang membuatnya harus diam selama bertahun-tahun?.

Kita mungkin perlu berhenti mengatakan kepada seseorang, “Mengalahlah demi keluarga,” sebelum bertanya mengapa ia yang selalu diminta mengalah.

Kita perlu berhenti menganggap setiap anak yang membuat batas sebagai anak durhaka. Kita juga perlu berhenti mengira bahwa keluarga yang tidak pernah bertengkar otomatis merupakan keluarga yang paling bahagia.

Sebab bisa saja di balik rumah yang terlihat sangat tenang terdapat seseorang yang setiap malam belajar menerima kenyataan bahwa perasaannya sendiri selalu menjadi urusan paling terakhir yang dipertimbangkan.

Kerukunan memang penting. Hormat juga penting. Sungkan pun memiliki fungsi sosial. Tetapi semua kebajikan itu membutuhkan batas kewenangan.

Jangan sampai keinginan menjaga kerukunan justru membuat ketidakadilan menjadi sesuatu yang tidak boleh dibicarakan.

Jangan sampai rasa hormat membuat seseorang kehilangan hak untuk mempertanyakan. Hingga jangan sampai kata “keluarga” digunakan sebagai alasan untuk meminta seseorang terus menanggung sesuatu yang seharusnya dipikul bersama.

Sebab keluarga seharusnya menjadi tempat pertama seseorang belajar menghormati orang lain, tetapi sekaligus menjadi tempat pertama seseorang belajar bahwa dirinya juga layak dihormati.

Anak harus belajar mengalah, tetapi ia juga harus tahu kapan ia boleh berkata tidak. Ia harus belajar menghormati orang tua, tetapi juga harus memahami bahwa orang tua adalah manusia yang bisa salah.

Ia harus belajar menjaga perasaan keluarga, tetapi juga perlu tahu bahwa perasaannya sendiri tidak boleh selalu dikorbankan.

Mungkin pertanyaan paling penting bukan lagi, “Apakah keluarga kita rukun?” Pertanyaan yang jauh lebih jujur adalah, “Rukun untuk siapa?” Jika kerukunan membuat semua orang merasa aman untuk berbicara, maka ia adalah kebajikan.

Tetapi jika kerukunan hanya dapat bertahan karena satu orang terus-menerus diam, mengalah, memahami, memaafkan serta menanggung beban, maka kita perlu berani menyebutnya dengan nama yang berbeda.

Sebab keluarga yang benar-benar rukun bukan keluarga yang tidak pernah bertengkar. Keluarga yang benar-benar rukun adalah keluarga yang mampu bertengkar tanpa kehilangan rasa hormat, mampu berbeda tanpa saling menghancurkan serta mampu membicarakan ketidakadilan tanpa menganggap orang yang mengeluh sebagai ancaman bagi keharmonisan.

Mungkin sudah saatnya kita mengganti satu pertanyaan yang selama ini terlalu mudah kita ucapkan. Bukan lagi, “Kenapa kamu tidak mengalah demi keluarga?” Melainkan, “Kenapa selama ini hanya kamu yang selalu diminta mengalah?”.

Di antara dua pertanyaan tersebut terdapat perbedaan yang sangat besar. Pertanyaan pertama berusaha mempertahankan ketenangan. Pertanyaan kedua berusaha mencari keadilan. Mungkin, justru di sanalah kerukunan yang lebih dewasa seharusnya dimulai.

Lihat Semua Artikel Bicara Blitar
×