Artikel Pop Culture

Killing Me Inside, band post-hardcore Jakarta yang bertahan lintas generasi

Killing Me Inside, band post-hardcore Jakarta yang bertahan lintas generasi
Ilustrasi AI/Bicara Blitar

Blitar – Killing Me Inside merupakan band post-hardcore asal Jakarta Selatan yang dibentuk pada Juni 2005 oleh Josaphat Klemens pada gitar, Onadio Leonardo pada bass, Rendy pada drum, dan Raka Cyril Damar pada gitar.

Setelah pencarian vokalis, band ini menemukan Fauzan ‘Sansan’ yang bergabung pada Desember 2005. Sebelum merilis album debut, mereka sempat merilis demo tiga lagu yang kemudian direkam ulang untuk album pertama mereka.

Pergantian formasi dan album ketiga

Sepanjang perjalanannya, Killing Me Inside mengalami banyak perubahan formasi karena beberapa personel sering keluar masuk. Album ketiga mereka, ‘1 Reason’, dirilis pada September 2012 dan melahirkan sejumlah single seperti ‘Menyesal’, ‘Never Go Back’, dan ‘For 1 Last Time’.

Adhitia Sofyan rayakan hampir dua dekade bermusik lewat showcase After All This Time 2.0

Genre musik yang diusung Killing Me Inside cukup beragam, mencakup emo, post hardcore, electronicore, heavy metal, metalcore, alternative rock, hingga screamo, menunjukkan fleksibilitas mereka dalam mengeksplorasi berbagai sub-genre musik keras.

Fakta unik

Fakta menarik, Killing Me Inside sempat dikenal dengan nama singkatan ‘Kilms’ di kalangan penggemar, sebuah panggilan akrab yang menunjukkan kedekatan basis penggemar dengan band ini selama bertahun-tahun berkarya.

Aruma, musisi indie yang rilis singel Jalan Buntu
Lihat Semua Artikel Bicara Blitar
×