Sering kali, saat melintasi jalur penghubung Blitar dan Tulungagung, Kecamatan Wonodadi hanya tampak sebagai hamparan persawahan yang tenang di balik kaca jendela kendaraan.
Namun, bagi mereka yang bersedia menepi sejenak dan menelusuri jalanan desanya, Wonodadi akan menyingkapkan dirinya bukan sekadar wilayah administratif, melainkan sebuah ruang di mana sejarah kuno dan inovasi modern bersinggungan secara elegan.
Di tengah kejenuhan terhadap wisata kota yang seragam, Wonodadi menawarkan kemewahan berupa “penemuan”. Wilayah di ujung barat Kabupaten Blitar ini menyimpan narasi yang jarang terjamah: tentang peradaban yang bernapas lebih dulu dari Majapahit, kedaulatan pangan yang naik kelas menjadi ruang kelas, hingga harmoni magis antara artefak Hindu-Buddha dengan nilai pesantren.
Inilah rahasia-rahasia Wonodadi yang akan mendefinisikan ulang cara Anda melihat potensi desa.
1. Desa Pikatan: Jejak Peradaban Kuno dan Geliat Berkuda Tingkat Nasional
Banyak yang menyangka narasi besar Blitar bermula dari era Majapahit. Namun, Desa Pikatan mematahkan asumsi itu dengan garis waktu yang jauh lebih purba. Desa ini adalah salah satu pemukiman tertua di Blitar yang eksistensinya telah diakui sejak sebelum tahun 1117 Masehi.
Hal ini dibuktikan oleh Prasasti Pandlegan I (1038 Caka) yang mengaitkan wilayah ini dengan Raja Sri Bameswara dari Kerajaan Panjalu Kediri penguasa yang bertakhta bahkan sebelum ramalan-ramalan Raja Jayabaya melegenda.
Namun, Pikatan tidak hanya hidup di masa lalu. Kini, desa ini bertransformasi menjadi pusat atraksi yang unik melalui wisata berkuda. Tidak tanggung-tanggung, budaya berkuda di sini telah menembus kancah nasional melalui berbagai perlombaan prestisius.
Rencana ambisius pun tengah disiapkan: pembangunan “Pusat Literasi Wisata” di atas lahan seluas 7 hektar yang akan mengintegrasikan museum prasasti, wisata budaya, dan edukasi berkuda dalam satu kawasan terpadu.
Analisis: Mengejutkan melihat bagaimana sebuah desa mampu menjaga relevansi sejarahnya selama hampir satu milenium. Pikatan berhasil membuktikan bahwa garis waktu sejarah yang melampaui era kejayaan Majapahit bisa bersanding manis dengan industri hobi modern yang kompetitif.
2. Bukan Sekadar Kolam: Mengubah Budi Daya Gurami Menjadi Ruang Kelas Terbuka
Di Dusun Seduri, ikan gurami bukan sekadar komoditas piring saji. Melalui tangan dingin Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) yang beranggotakan sekitar enam orang visioner, budidaya ini dikemas dalam bingkai Smart Village melalui pilar Ekonomi Cerdas.
Wisata Gurami Seduri hadir sebagai destinasi “edu-kuliner” di mana pengunjung diajak menyelami siklus hidup ikan, mulai dari pembenihan, pembibitan, hingga teknik panen yang efisien.
Ikon patung gurami raksasa menyambut setiap tamu untuk memasuki area yang tertata asri. Di sini, akuarium-akuarium edukasi diletakkan di ruang terbuka agar anak-anak sekolah hingga mahasiswa dapat mengamati langsung proses biologis ikan air tawar ini.
Pengalaman ini memberikan dimensi baru bagi pariwisata: sebuah kolaborasi antara produktivitas ekonomi warga dan transfer pengetahuan bagi publik.
“Suasananya memang enak untuk nongkrong sembari melihat pemandangan kolam ikan di Wisata Gurami Seduri. Seperti berasa di rumah sendiri,” ungkap Ahmad Rizal, salah satu pengunjung yang terpikat oleh kedamaian di tengah hamparan kolam.
Analisis: Keberhasilan Seduri terletak pada keberanian mereka memberikan nilai tambah (value-added) pada sektor perikanan. Tren wisata edukatif ini membuktikan bahwa ekonomi komunitas bisa tumbuh pesat ketika pengetahuan dibagikan sebagai bagian dari pengalaman rekreasi.
3. Keajaiban di Pekarangan: “Herbs Medical Garden” yang Mendunia
Jika Anda mencari aroma aromatis dari ratusan jenis empon-empon, Desa Kebonagung adalah tujuannya. Di sini berdiri “Herbs Medical Garden” atau Taman Apotik Herbal Turi Putih yang digagas oleh Nur Tajiaturrohmah. Bermula dari pekarangan rumah sejak 2013, tempat ini kini mengoleksi lebih dari 200 jenis tanaman herbal.
Menariknya, pengunjung tidak hanya datang untuk melihat, tetapi bisa memilih tiga paket pembelajaran spesifik: Paket Temulawak (pembuatan ramuan dasar), Paket Kunyit (inovasi olahan pangan), dan Paket Jahe Merah (pelatihan lengkap dari hulu ke hilir).
Prestasi tempat ini tidak main-main. Mulai dari juara UKM Berprestasi tingkat provinsi hingga membawa sang pemilik diundang langsung ke Istana Negara pada peringatan 17 Agustus.
Turi Putih adalah bukti bahwa sesuatu yang dianggap “tradisional” bisa menjadi magnet wisata yang sangat modern jika dikelola dengan standar kualitas tinggi.
“Dulu saya sempat dicibir masyarakat karena dianggap terlalu kuno. Ya, karena masyarakat sekarang maunya serba instan dan tidak mau diajak berproses,” kenang Nur Tajiaturrohmah mengenai awal perjuangannya.
Analisis: Ada kontras yang indah antara metode herbal yang sempat dianggap ketinggalan zaman dengan pengakuan nasional yang diterima Nur Tajiaturrohmah. Ini menunjukkan bahwa kearifan lokal adalah “tambang emas” yang hanya menunggu sentuhan inovasi untuk bersinar.
4. Prasasti Cemandi: Harmoni Cagar Budaya dalam Lingkungan Pesantren
Wonodadi menyimpan sebuah potret toleransi fisik yang luar biasa di Dusun Cemandi, Desa Kunir. Di lingkungan Pondok Pesantren Al-Kamal, terdapat sebuah prasasti masa klasik yang dijaga dengan penuh hormat. Uniknya, prasasti kuno ini berfungsi sebagai nisan (patok) pada makam ulama besar, Mbah Imam Hambali (Mbah Sumare).
Jika diamati pada bagian recto (sisi depan), terdapat sebuah lancana atau lencana kerajaan yang secara visual menyerupai simbol Raja Kertajaya raja terakhir Kerajaan Kediri.
Meskipun aksara pada sisi recto dan verso (sisi belakang) telah aus termakan usia, kehadirannya di tengah kompleks religi Islam memberikan pesan kuat tentang kesinambungan sejarah. Di sini, masa lalu Hindu-Buddha dan masa kini Islam tidak saling meniadakan, melainkan hidup berdampingan dalam satu pusara yang sakral.
Analisis: Prasasti Cemandi adalah manifestasi fisik dari identitas Blitar sebagai melting pot peradaban. Integrasi benda cagar budaya ke dalam praktik religi pesantren menunjukkan kedalaman spiritualitas masyarakat Wonodadi yang mampu memuliakan sejarah tanpa kehilangan jati diri.
5. Sungai Brantas: Nadi Kehidupan di Antara Tradisi dan Energi
Sungai Brantas adalah detak jantung Wonodadi. Sebagai sungai terpanjang di Jawa Timur, perannya di wilayah ini mencakup spektrum yang sangat luas: dari ekologi, energi, hingga tradisi transportasi.
Alirannya tidak hanya menghidupi sawah-sawah melalui sistem irigasi, tetapi juga menjadi sumber energi utama lewat bendungan-bendungan strategis seperti Bendungan Wlingi dan Bendungan Lodoyo yang menggerakkan PLTA.
Namun, wajah paling ikonik dari Brantas di Wonodadi adalah “Perahu Tambang”. Di tengah gempuran modernitas, perahu kayu tradisional ini tetap menjadi moda transportasi vital bagi penduduk yang ingin menyeberangkan kendaraan menuju Srengat atau Tulungagung.
Suara gemericik air sungai yang membelah perahu di bawah rona matahari terbenam menciptakan pemandangan yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga merupakan urat nadi ekonomi bagi warga yang menggantungkan hidup pada jasa penyeberangan ini.
Analisis: Tantangan geografis arus Brantas yang besar justru dikonversi menjadi peluang ekonomi unik. Kehadiran perahu tambang di antara infrastruktur modern seperti bendungan menunjukkan bagaimana tradisi lokal mampu bertahan dan tetap relevan sebagai pendukung mobilitas daerah.
Kesimpulan: Menuju Wonodadi yang “Berdaya dan Berjaya”
Potensi Wonodadi adalah spektrum luas yang mencakup sejarah kuno yang mendalam, inovasi UMKM yang kreatif seperti produksi senapan angin dan kerajinan dompet kulit di Desa Kolomayan hingga wisata edukasi berbasis komunitas yang mapan. Wonodadi membuktikan bahwa kemajuan tidak harus menggerus akar budaya.
Pemerintah Kabupaten Blitar pun mempercepat pertumbuhan ini melalui program OSS Loss Dol. Bupati Rini Syarifah secara konsisten mendorong agar para pelaku usaha di Wonodadi memanfaatkan program perizinan ini agar produk lokal memiliki legalitas kuat untuk menembus pasar yang lebih luas di luar daerah.
Dengan dukungan birokrasi yang memadai dan semangat inovasi warga, Wonodadi kini bukan lagi sekadar titik transit, melainkan destinasi yang wajib masuk dalam daftar perjalanan Anda.
Jika sejarah sedalam ini dan inovasi sekeren ini ada di dekat kita, masihkah kita mencari inspirasi ke tempat yang jauh?
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

