Artikel
Beranda » Warisan budaya Tionghoa di Blitar: tradisi cap go meh

Warisan budaya Tionghoa di Blitar: tradisi cap go meh

foto tradisi cap go meh (foto: web blitarkota.go.id)

Kota Blitar memegang peranan penting sebagai wadah pertemuan bagi beragam tradisi yang hidup selaras dalam dinamika sosial masyarakat sejak dahulu.

Masyarakat mengenal kota ini bukan hanya sebagai tempat peristirahatan Sang Proklamator, melainkan juga pusat akulturasi yang kaya akan nilai luhur.

Komunitas etnis Tionghoa memegang peran kunci dalam membentuk identitas sosial serta memutar roda ekonomi masyarakat Blitar hingga saat sekarang ini.

Kendang jimbe di Blitar: industri kreatif lokal

Kehadiran mereka membawa warna unik melalui arsitektur bangunan, ritual keagamaan, serta perayaan tahunan yang selalu memikat perhatian ribuan warga lokal.

Hubungan harmonis antarsetiap elemen masyarakat menciptakan pondasi kuat bagi stabilitas serta kemajuan kota dalam menghadapi berbagai bentuk perubahan zaman.

Kelenteng Poo An Kiong berdiri megah sebagai saksi bisu perjalanan panjang komunitas ini dalam merajut keberagaman di Bumi Bung Karno.

Hal yang mungkin belum kamu tahu tentang Jembatan Trisula di Blitar Selatan

Narasi mengenai warisan budaya ini senantiasa mengalir melalui setiap sudut kawasan etnis Tionghoa yang menyimpan banyak cerita tentang semangat kebersamaan.

Asal-usul kawasan etnis Tionghoa di Kota Blitar

Bermula dari kebijakan tata ruang yang pemerintah kolonial Belanda berlakukan pada abad ke-19 silam.

Sebelum aturan pemukiman muncul, pemerintah Hindia Belanda menerapkan regulasi Passenstelsel pada tahun 1816 guna membatasi ruang gerak warga Tionghoa.

Blitar menyambut Ramadan 2026: antara ketegasan dan tenggang rasa

Kebijakan itu mewajibkan setiap orang memiliki surat jalan khusus jika ingin bepergian keluar dari wilayah atau memasuki daerah pedalaman.

Tekanan regulasi ini justru memicu konsolidasi kuat komunitas Tionghoa hingga akhirnya pemerintah mengeluarkan undang-undang Wijkenstelsel pada tahun 1826 lalu.

Aturan tersebut mengonsentrasikan masyarakat etnis Tionghoa pada area khusus atau Chinezen Wijk guna memudahkan pengawasan serta kepentingan kontrol ekonomi.

Dari megengan ke bukber modern: Wajah ramadan 2026 di Blitar

Etnis Tionghoa menempati posisi strategis sebagai pedagang perantara yang menghubungkan hasil bumi masyarakat pribumi dengan para pedagang besar asal Eropa.

Menariknya, arsitektur kawasan etnis Tionghoa Blitar menunjukkan adaptasi harmonis karena memadukan unsur dekoratif Tionghoa dengan gaya bangunan lokal masyarakat Jawa yang unik.

Berikut adalah tiga faktor strategis yang mendasari penempatan kawasan etnis Tionghoa di sepanjang Jalan Merdeka dan Jalan Ahmad Yani Blitar:

Masjid ar-rahman: suasana madinah di Jawa Timur

  • Kedekatan dengan Pusat Kota/Alun-alun: lokasi ini memudahkan aksesibilitas bagi warga serta meningkatkan intensitas aktivitas ekonomi pada pusat urusan pemerintahan kota.
  • Kedekatan dengan Pasar Tradisional: peran ini mendorong interaksi sosial yang intens serta mempercepat putaran arus jual-beli barang kebutuhan pokok sehari-hari.
  • Aksesibilitas melalui Jalan Utama: penempatan pada jalur protokol memfasilitasi mobilitas penduduk serta memperlancar distribusi barang dagangan menuju wilayah di luar kota.

Kelenteng Poo An Kiong di Blitar

Setiap kelenteng memiliki dewa utama yang bertindak sebagai tuan rumah dengan karakter serta filosofi yang sangat spesifik bagi para umat.

Kelenteng Poo An Kiong memuliakan sosok Kongco Kong Tek Cun Ong sebagai dewa utama yang mendiami ruang peribadatan pada pusat kelenteng.

Rohaniwan kelenteng, Titis Triwarsi, “Sosok dewa ini adalah anak muda yang sangat rajin bekerja, selalu menghormati orang tua, dan ringan tangan membantu sesama,” ungkapnya.

Tradisi unik masyarakat Blitar menyambut Ramadan

Karakter ini mencerminkan harapan masyarakat masa lalu yang melihat warga Blitar sebagai pribadi yang giat serta sangat suka menolong.

Penggambaran kaki kanan yang menekuk mirip posisi Sang Buddha menambah nilai spiritual serta kedamaian bagi setiap mata yang memandang patung.

Sosok Kongco Kong Tek Cun Ong menjadi simbol keteladanan bagi umat dalam menjalankan kehidupan sehari-hari dengan penuh semangat kerja keras.

Masuk Ramadan, jam kerja ASN berkurang namun target kinerja tetap

Tradisi cap go meh di Blitar

Puncak perayaan Imlek di Kota Blitar mencapai kemeriahannya melalui pelaksanaan kirab Cap Go Meh yang melibatkan ribuan warga berbagai latar belakang.

Parade ini menampilkan atraksi barongsai dan naga liong yang menyusuri rute sepanjang 8 kilometer mengelilingi sudut-sudut utama pada pusat kota.

Rombongan kirab memulai perjalanan dari Kelenteng Poo An Kiong di Jalan Mawar, kemudian menyisir Jalan Merdeka Barat, Mastrip, hingga Jalan TGP.

Serunya basah-basahan di Blumbang Gede: 5 Alasan mengapa kamu harus mencoba Stand Up Paddle di sini!

Peserta parade melanjutkan aksi mereka menuju Jalan Ahmad Yani, Jalan Merdeka, Jalan Anggrek, Jalan Cepaka, sebelum akhirnya kembali menuju titik awal.

Sebanyak 7 barongsai serta 1 naga liong menunjukkan aksi lincah yang memukau mata para penonton di sepanjang jalur protokol.

Mayoritas pemain barongsai, yakni sekitar 70 persen, berasal dari kalangan warga pribumi yang memiliki semangat tinggi dalam menjaga kelestarian seni.

Penonton dapat menyaksikan secara langsung para pemain yang mengenakan hijab saat menggerakkan barongsai dengan penuh energi serta keterampilan teknik tinggi.

Hal ini membuktikan bahwa tradisi Tionghoa kini telah menjadi milik bersama serta mempererat ikatan persaudaraan antarwarga tanpa batasan etnis.

Kirab ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan sebuah pernyataan nyata tentang indahnya toleransi serta keharmonisan hidup dalam balutan perbedaan.

Pelaksanaan parade barongsai mengandung makna spiritual yang mendalam, khususnya bagi para pemilik toko yang berada pada kawasan etnis Tionghoa Kota Blitar.

Masyarakat meyakini bahwa kehadiran barongsai ke dalam bangunan usaha mampu menyucikan area tersebut dari berbagai pengaruh energi negatif yang merugikan.

Berikut adalah rangkuman elemen tradisi beserta makna filosofis yang terkandung dalam setiap urutan ritual perayaan Cap Go Meh di Blitar:

Elemen tradisi makna dan harapan

Barongsai masuk toko mengusir energi negatif serta menolak bala dari lingkungan sekitar tempat usaha.

Pemberian angpao membawa keberuntungan serta memperlancar arus usaha bagi para pemilik toko.

Ritual air bunga membersihkan Kiem Sien (patung dewa) serta menyucikan diri manusia dari noda batin.

Setiap pemilik toko menyambut kedatangan barongsai dengan penuh antusias serta menyiapkan angpao sebagai simbol rasa syukur dan harapan kemakmuran.

Unsur-unsur tradisi ini menciptakan interaksi positif antara pemain barongsai, pemilik usaha, serta warga yang menonton jalannya kirab dari pinggir jalan raya.

Jika mampir ke kota Blitar pada saat perayaan imlek, jangan lewatkan untuk ikut memeriahkan tradisi ini ya, di momen perayaan imlek seperti ini bisa jadi pengalaman yang seru bersama teman atau keluarga.

Kita jadikan keberagaman ini sebagai energi positif untuk membangun masa depan yang lebih harmonis, inklusif, serta penuh rasa hormat.

Warisan budaya ini bukan hanya milik satu golongan, melainkan harta karun seluruh warga Blitar yang harus kita jaga bersama-sama.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Berita Terbaru

×