Ketika Umar bin Khattab menjadi khalifah, wilayah Islam tidak lagi kecil. Masalah yang dihadapi juga bukan sekadar soal iman, tapi soal mengatur masyarakat yang makin luas dan beragam. Umar dikenal tegas sejak awal. Tantangannya adalah mengubah ketegasan pribadi itu menjadi sistem yang bisa berjalan lama.
Di masa Umar, wilayah Islam berkembang cepat: Syam, Irak, Mesir, hingga Persia masuk dalam kekuasaan Islam. Ekspansi ini membawa konsekuensi: penduduk berbeda agama dan budaya, kebutuhan administrasi yang rapi, potensi penyalahgunaan kekuasaan.
Membangun Sistem, Bukan Mengandalkan Figur
Umar mulai membentuk struktur pemerintahan yang lebih jelas: pembagian wilayah administrasi, pengangkatan gubernur dengan pengawasan ketat, pencatatan keuangan negara (Baitul Mal).
Para pejabat diminta melaporkan harta sebelum dan sesudah menjabat. Kalau ada kejanggalan, Umar tidak segan menegur atau mencopot. Ini bukan soal curiga berlebihan. Ini soal mencegah kekuasaan liar.
Salah satu ciri Umar adalah tidak membedakan rakyat biasa dan pejabat. Kalau melanggar, tetap dihukum. Ia sering berkeliling malam hari untuk melihat langsung kondisi masyarakat.
Bukan untuk pencitraan, tapi untuk memastikan kebijakan benar-benar terasa. Cerita tentang Umar memikul gandum untuk rakyat miskin bukan dongeng moral. Itu gambaran bagaimana ia melihat jabatan: beban, bukan fasilitas.
Umar menjaga hak kelompok non-Muslim. Mereka diberi perlindungan dan kebebasan beribadah dengan kewajiban tertentu sebagai warga negara. Ketika Yerusalem ditaklukkan, Umar menolak shalat di gereja agar tidak dijadikan alasan pengambilalihan tempat ibadah. Keputusan sederhana, tapi dampaknya panjang.
Meski tegas, Umar tidak kaku. Dalam masa paceklik, ia menangguhkan hukuman potong tangan bagi pencuri. Ini menunjukkan bahwa hukum diterapkan dengan konteks, bukan secara buta.
Dari Umar bin Khattab, terlihat bahwa: kekuatan negara ada pada sistem, bukan figur
ketegasan perlu diimbangi keadilan, pemimpin harus siap diawasi. Umar bukan pemimpin yang ingin disukai. Ia ingin urusan berjalan benar.
Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury

