Artikel
Beranda » Transformasi jalan stasiun Kediri: upaya menata ruang kota yang lebih tertib

Transformasi jalan stasiun Kediri: upaya menata ruang kota yang lebih tertib

jalan stasiun kediri (Foto: pemkot kediri)

jalamalan Stasiun Kediri kini tengah berada dalam fase metamorfosis. Sebagai koridor vital yang menghubungkan akses transportasi utama dengan pusat denyut nadi ekonomi di Jalan Dhoho, kawasan ini sedang “bersolek” melalui proyek rehabilitasi pedestrian yang ambisius.

Namun, estetika modern trotoar yang kini lebih luas berbenturan tajam dengan realitas di lapangan: pelanggaran lalu lintas masih menjamur dan parkir liar tetap menjadi pemandangan rutin, terutama saat malam hari.

Sebagai bagian dari strategi penataan, pemerintah telah memberlakukan sistem arus lalu lintas satu arah dari Barat ke Timur. Transformasi ini bukan sekadar soal keindahan visual, melainkan sebuah upaya manajemen ruang publik inklusif yang sedang diuji ketangguhannya.

Kampung Inggris Pare, Kediri: lebih dari tempat belajar bahasa Inggris

Artikel ini akan membedah dinamika manajemen lalu lintas yang sedang berlangsung dan mengapa menyelaraskan ketertiban dengan hajat hidup orang banyak adalah sebuah seni kebijakan yang rumit.

Aturan Main yang Berubah: Manajemen Lalin Dinamis dan Peran Komunitas

Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Perhubungan (Dishub) menerapkan skema parkir berbasis waktu yang dirancang untuk mengakomodasi fluktuasi aktivitas warga. Namun, kebijakan ini tidak lahir di ruang hampa.

Detail pembatasan ini merupakan hasil musyawarah yang dilakukan di kediaman Ketua RW 07, Mujianto, pada pertengahan Januari lalu.

Ketika budidaya Lele mendukung program makan bergizi gratis di Kediri

Berikut adalah pembagian zona parkir yang berlaku:

  • Siang Hari (07.00 – 17.00 WIB): Parkir diperbolehkan namun terbatas pada satu sisi jalan.
  • Malam Hari (18.00 – 24.00 WIB): Larangan parkir total di sepanjang bahu jalan.

Meskipun petugas Dishub bersiaga melakukan pengawasan intensif hingga pukul 22.00 WIB, tantangan sesungguhnya muncul setelah jam tersebut. Di sinilah aspek pemberdayaan masyarakat bermain; sesuai kesepakatan warga, Linmas dan masyarakat setempat turut membantu mengawasi area agar tetap steril setelah petugas ditarik.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Kediri, Arief Cholisudin, mengakui bahwa periode malam hari tetap menjadi titik paling krusial.

Informasi THR ASN 2026 di Kediri: jadwal cair hingga besarannya

“Kami bersama Satlantas Polres Kediri Kota mulai menerapkan aturan parkir untuk siang itu di satu sisi saja, kemudian malam tidak boleh sama sekali. Dan diakui pengawasan dan penertiban di malam hari masih menjadi kendala petugas karena sering kali tempat parkir yang di eks Pasific itu sudah penuh.”

Sisi Selatan sebagai Pilihan Strategis: Melindungi Akses Pendidikan

Memasuki Uji Coba Tahap 2, pemerintah menetapkan bahwa parkir siang hari hanya diperbolehkan di sisi selatan jalan. Kebijakan ini adalah bentuk mitigasi terhadap potensi konflik ruang di sisi utara, di mana terdapat lembaga pendidikan.

Dengan menetapkan sisi selatan sebagai area parkir, pemerintah berupaya menjaga agar sisi utara tetap berfungsi sebagai drop zone bagi siswa sekolah. Tanpa pemisahan ini, risiko kemacetan parah saat jam pulang sekolah menjadi tak terhindarkan.

Membaca tanda-tanda dari Sungai Brantas di Kediri

Penataan ini menunjukkan bahwa setiap jengkal bahu jalan dikelola untuk menyeimbangkan kepentingan mobilitas pelajar dan kelancaran arus kendaraan umum.

Dilema Ekonomi: “Spatial Conflict” dan Penurunan Omzet

Namun, setiap kebijakan penataan ruang selalu membawa konsekuensi ekonomi. Estetika pedestrianisasi yang modern saat ini justru dirasakan sebagai pukulan telak bagi para Pedagang Kaki Lima (PKL).

Terdapat spatial conflict yang nyata: di satu sisi kita menginginkan jalan yang tertib dan indah, di sisi lain, aksesibilitas pelanggan adalah nyawa bagi pedagang kecil.

Ramadan 2026: Ide tempat buka puasa bersama di Kediri yang layak dicoba

Data menunjukkan penurunan omzet PKL mencapai lebih dari 50% sejak larangan parkir diperketat. Pelanggan cenderung enggan berhenti jika harus memarkir kendaraan jauh dari lapak.

Konektivitas antara kantong parkir dan titik perdagangan menjadi mata rantai yang hilang dalam transisi ini.

“Apalagi setelah rehabilitasi Jalan Stasiun, mestinya bisa mendongkrak penghasilan. Tapi justru sebaliknya, karena ada uji coba larangan parkir tepat di depan lapak.

Pasar Kediri dan Ramadan 2026: menghadapi pedasnya harga cabai dengan bijak

Dulu bisa dapat Rp 500 ribu semalam, sekarang cari Rp 200 ribu saja sulit,” keluh Wahyu, salah satu pedagang minuman yang terdampak.

Transformasi Eks Pasific: Solusi Parkir dan Strategi Mitigasi PKL

Pemerintah Kota Kediri tidak menutup mata terhadap dampak ekonomi tersebut. Lahan Eks Pasific di Jalan Stasiun disiapkan bukan sekadar sebagai kantong parkir, tetapi sebagai sentra kuliner masa depan melalui koordinasi dengan Disperindagin. S

trategi ini dirancang untuk memitigasi hilangnya pendapatan pedagang dengan memindahkan mereka ke pusat keramaian yang lebih teratur.

Perayaan Imlek di Kediri: Lebih dari sekadar lampion merah dan barongsai

Informasi teknis lahan Eks Pasific saat ini:

  • Kapasitas: 70-80 unit mobil dan 100 unit kendaraan roda dua.
  • Status Tarif: Gratis selama masa uji coba (menunggu pengesahan Perda).
  • Fasilitas Mendatang: Digitalisasi sistem pembayaran non-tunai (cashless).
  • Alternatif: Jika lahan Eks Pasific penuh, pengendara diarahkan menggunakan kantong parkir di sepanjang Jalan Dhoho.

Masa “Teguran Simpatik” Menuju Penegakan Hukum

Hingga laporan ini disusun pada akhir Februari 2026, pendekatan yang diambil oleh Unit Turjagwali Satlantas Polres Kediri Kota masih mengedepankan sisi humanis melalui “Teguran Simpatik”.

Petugas melakukan sterilisasi dengan memberikan imbauan persuasif agar masyarakat terbiasa dengan pola satu arah dan pembatasan parkir.

Dari Viral Menjadi berkah: Kisah “Macan Gemoy” Balongjeruk yang menggerakkan ekonomi desa

Namun, jendela waktu edukasi ini hampir mencapai batasnya. Mengingat masa transisi dua minggu yang dicanangkan sejak pertengahan Februari sudah hampir usai, penegakan hukum melalui sanksi tilang diperkirakan akan segera diberlakukan secara tegas bagi pelanggar arus maupun parkir liar.

Kesimpulan: Harmoni antara Ketertiban dan Kesejahteraan

Penataan Jalan Stasiun Kediri adalah pelajaran berharga tentang kompleksitas manajemen kota.

Keberhasilan transformasi ini tidak hanya diukur dari indahnya trotoar, tetapi dari sejauh mana pemerintah mampu menjamin konektivitas antara kantong parkir dan keberlangsungan ekonomi pedagang kecil.

Adaptasi perilaku memang membutuhkan waktu, namun ketertiban adalah prasyarat mutlak bagi terciptanya ruang publik yang ikonik.

Sebagai warga kota, kita berada di persimpangan antara kenyamanan pribadi dan kepentingan kolektif.

Sanggupkah kita mengorbankan sedikit kenyamanan pribadi dalam parkir demi wajah kota yang lebih tertib dan ikonik?


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

×