Tujuh hari setelah lebaran, warga Blitar rayakan kupatan
Masyarakat merayakan tradisi Lebaran Ketupat tujuh hari usai hari raya Idulfitri. Warga Blitar menyebut momen istimewa ini dengan istilah Bakdo Kupat.
Penduduk setempat menyiapkan hidangan ketupat sebagai simbol kemenangan spiritual. Warga menyajikan ketupat bersama opor ayam, sayur lodeh, atau sambal goreng lezat.
Momen ini mempererat jalinan silaturahmi antarwarga melalui hantaran makanan khas. Setiap keluarga berkunjung ke rumah tetangga untuk saling memaafkan segala khilaf.
Budaya luhur ini melestarikan nilai-nilai kebersamaan sejak masa lampau. Warga merasakan suasana hangat saat menyantap hidangan itu bersama kerabat jauh.
Perayaan ini menandai akhir dari rangkaian ibadah pada bulan suci.
Sejarah ketupat
Sunan Kalijaga memperkenalkan tradisi ketupat pada abad kelima belas masehi. Wali Songo menyebarkan ajaran Islam melalui perpaduan budaya lokal yang kental.
Kata kupat berasal dari frasa bahasa Jawa yaitu Ngaku Lepat. Kalimat itu bermakna mengakui kesalahan di hadapan orang tua atau sesama.
Masyarakat melakukan prosesi sungkeman sebagai wujud kerendahan hati dan penghormatan. Sungkeman mengajarkan warga untuk memohon keikhlasan serta ampunan atas segala dosa.
Tradisi ini menjadi sarana dakwah yang sangat efektif pada zamannya.
Makna dibalik anyaman janur kuning
Warga menganyam janur kuning sebagai pembungkus beras dengan makna mendalam. Janur memiliki arti filosofis sejane ning nur atau arah menggapai cahaya Illahi.
Warna kuning melambangkan sabdo dadi yang lahir dari hati yang bening. Bentuk segi empat ketupat mewakili konsep penting yaitu kiblat papat limo pancer.
Konsep itu menunjukkan empat arah mata angin dengan Allah sebagai pusat utama. Secara akhlak, bentuk itu melambangkan pengendalian empat macam nafsu manusia.
Ibadah puasa membantu manusia menaklukkan nafsu amarah, aluamah, supiah, dan mutmainah. Anyaman janur yang rumit menyimbolkan tumpukan dosa serta berbagai kesalahan manusia.
Namun, isi ketupat yang berwarna putih bersih melambangkan kesucian jiwa.
Beras di dalam anyaman itu membawa pesan kemakmuran bagi seluruh masyarakat. Penduduk akan meraih kesejahteraan apabila selalu menjaga kebersihan hati dan pikiran.
Pembuatan ketupat di Blitar oleh para pengrajin
Pengrajin Blitar memilih daun kelapa muda atau janur berkualitas tinggi. Pembuat ketupat memisahkan daun dari lidi yang keras secara perlahan.
Pengrajin menganyam janur itu hingga membentuk wadah kerucut atau tumpeng. Pelanggan sangat menyukai jenis ketupat tumpeng karena memiliki nilai estetika tinggi.
Bentuk itu menjadi produk paling laku saat musim lebaran tiba. Warga mengisi anyaman janur dengan beras pilihan hingga hampir penuh.
Pengrajin mengolah ketupat menggunakan kayu bakar pada tungku berukuran besar. Panas kayu bakar menjaga suhu tetap stabil selama proses pengolahan.
Pengrajin membutuhkan waktu lima jam agar ketupat matang secara sempurna. Penggunaan kayu bakar juga menghemat biaya operasional daripada menggunakan gas.
Usai memasak, pengrajin menggantung ketupat pada bilah kayu agar air segera mengalir. Cara itu mencegah ketupat menjadi cepat basi atau berlendir.
Ketupat matang memiliki tekstur padat serta rasa yang sangat gurih.
Bakdo Kupat memicu geliat ekonomi yang luar biasa bagi warga Blitar. Pedagang memadati Pasar Templek, Jalan Anggrek, dan Pasar Legi setiap hari.
Banyak penduduk beralih profesi menjadi penjual ketupat musiman demi meraup untung.
Momen tahunan ini seolah menjadi angin segar bagi pelaku usaha kecil yang biasanya mengandalkan penghasilan harian yang tidak menentu.
Kesempatan ini tidak disia-siakan warga, dari ibu rumah tangga hingga pedagang kaki lima berlomba menganyam rezeki dari tradisi yang telah mengakar kuat ini.
Warga Blitar terus menjaga kelestarian tradisi Lebaran Ketupat dengan penuh semangat. Kegiatan ini tidak hanya memelihara nilai spiritual peninggalan para leluhur.
Bakdo Kupat memacu pertumbuhan ekonomi kerakyatan melalui penguatan sektor UMKM daerah. Pengrajin dan pedagang kecil meraih kesempatan emas untuk meningkatkan taraf hidup.
Semangat gotong royong antarwarga semakin kuat melalui proses pembuatan ketupat bersama. Masyarakat menghidupkan budaya luhur ini agar nilai spiritual tidak sirna.
Kesejahteraan daerah meningkat seiring perputaran modal yang terjadi selama hari raya. Ketupat tetap menjadi lambang suci bagi kemenangan dan kedamaian umat manusia.

