Table of Contents−
Sejenak melangkah keluar dari teriknya aspal pusat kota dan langsung disambut oleh kanopi hijau raksasa yang berfungsi sebagai filter alami dari matahari Blitar. Di Taman Kebon Rojo, hiruk-pikuk suara klakson seketika luruh, digantikan oleh simfoni kicauan burung yang menenangkan jiwa.
Sebagai paru-paru kota yang legendaris, ruang terbuka hijau ini menawarkan kemewahan yang jarang ditemukan di kota besar. Sebuah pelarian asri yang bisa dinikmati tanpa biaya masuk sepeser pun.
Bagi seorang pelancong urban, Kebon Rojo bukan sekadar taman, tetapi juga ruang memori tempat keluarga berkumpul.
Namun, akhir-akhir ini, ada gairah baru yang menyelimuti area ini. Penambahan koleksi satwa eksotis telah mengubah wajah taman ini menjadi sebuah kebun binatang mini yang dinamis, memicu rasa penasaran siapa
pun yang melintasi pagar gerbangnya.
Kejutan di Balik Pagar: Dari Burung Unta Hingga Merak Hijau
Transformasi Taman Kebon Rojo menjadi destinasi edukatif dimulai dari visi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Blitar untuk menghadirkan pengalaman liar ke pusat kota.
Sebagai katalis perubahan pada tahun 2021, pemerintah mendatangkan penghuni-penghuni baru yang langsung menjadi primadona.
Satwa-satwa ini bukan didatangkan dari tempat sembarangan, melainkan berasal dari Penangkaran Madiun untuk menjamin kualitas genetik dan kesehatannya. Koleksi eksotis tersebut meliputi:
• 4 ekor burung unta yang didatangkan saat masih berusia 3 bulan.
• 2 ekor merak hijau yang megah dan 1 ekor landak.
• Penghuni Aviary yang lebih lengkap, termasuk burung Elang yang gagah dan Gagak yang misterius.
Kehadiran burung unta di tengah Kota Blitar tentu menjadi fenomena tersendiri. Tidak setiap hari warga lokal bisa berinteraksi dengan burung terbesar di dunia ini di taman kota mereka sendiri.
“Anggaran yang digunakan sebesar Rp 90 juta dari P-APBD 2021 untuk pengadaan ini,” ungkap Jajuk Indihartiati, Sekretaris DLH Kota Blitar.
Kesejahteraan Satwa: Bukan Sekadar Pajangan
Menghadirkan satwa langka di tengah pemukiman padat tentu menuntut tanggung jawab etis yang tinggi. Pemerintah Kota Blitar memastikan bahwa satwa-satwa ini bukan sekadar objek tontonan, melainkan makhluk hidup yang dipelihara dengan standar profesional.
Satu dokter hewan khusus dan tim perawat satwa disiagakan untuk memantau proses adaptasi dan kesehatan harian mereka. Pendekatan ini sangat krusial, mengubah citra taman dari sekadar tempat bermain menjadi sarana pembelajaran edukatif yang bertanggung jawab bagi generasi muda. Anak-anak tidak hanya melihat hewan, mereka belajar tentang ekosistem dan empati.
“Karena hewan ini kan membutuhkan adaptasi, jadi untuk memastikan kesehatannya sudah ada petugasnya. Untuk makanannya juga sudah ada. Sekarang hewan-hewannya sudah bisa dilihat di Kebon Rojo,” jelas Jajuk Indihartiati.
Sensasi Prasejarah dan Piknik Mandiri
Bagi pengunjung yang membawa anak kecil, Kebon Rojo menawarkan “perjalanan waktu” melalui patung dinosaurus dan gorila raksasa yang dilengkapi teknologi sensor gerak dan suara. Sensasi prasejarah di tengah hutan kota ini selalu berhasil memancing gelak tawa sekaligus decak kagum anak-anak.
Namun, daya tarik sejati dari taman ini adalah budaya “piknik mandiri” yang kental. Ada harmoni yang hangat saat melihat keluarga membentangkan tikar di bawah naungan pohon rindang, membuka bekal dari rumah, dan menikmati momen sederhana di tengah kota.
Bagi pencari adrenalin, tersedia fasilitas flying fox yang dioperasikan oleh profesional setiap akhir pekan, melengkapi berbagai permainan seperti ayunan dan mobil-mobilan.
Taman Kebon Rojo telah membuktikan diri lebih dari sekadar “titik hijau” di peta. Ia adalah paru-paru yang bernapas, pusat edukasi yang hidup, dan bukti nyata bahwa pemerintah kota mampu mengelola keseimbangan antara hiburan publik dan konservasi satwa.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

