Artikel
Beranda » Sepiring pecel Blitar dan kenangan Bung Karno tentang cita rasa tanah kelahiran

Sepiring pecel Blitar dan kenangan Bung Karno tentang cita rasa tanah kelahiran

gambar pecel khas Blitar (Foto: blitarkota.go.id)

Bagi Anda, mungkin sarapan hanyalah rutinitas cepat untuk mengisi tenaga sebelum terjebak macet. Namun, bayangkan seorang pria yang nasib jutaan rakyatnya ada di tangannya, justru menemukan ketenangan paling hakiki di balik lipatan daun pisang yang sederhana.

Di tengah hiruk-pikuk diplomasi dunia, Bung Karno tidak merindukan jamuan mewah beliau merindukan aroma kencur dan gurihnya sambal pecel dari tanah kelahirannya, Blitar.

Pecel Blitar bagi Sang Proklamator bukan sekadar pengganjal perut. Ia adalah pernyataan politik. Melalui sepiring sayuran yang disiram sambal kacang, Soekarno ingin membuktikan bahwa identitas bangsa tidak boleh tunduk pada selera asing.

Kendang jimbe di Blitar: industri kreatif lokal

Di balik kesederhanaan pincuk itu, tersimpan semangat kedaulatan pangan yang menjadi fondasi karakter bangsa Indonesia.

Obsesi Bung Karno: Pecel Sebelum Cuci Muka

Kecintaan Bung Karno pada Pecel Blitar, khususnya racikan Mbok Rah, sudah masuk tahap obsesi. Mbok Rah bukanlah chef hotel berbintang; beliau hanyalah seorang pedagang keliling di Kota Blitar yang usianya terpaut 5-10 tahun lebih tua dari Sang Presiden.

Namun, di tangannyalah, kedaulatan lidah Soekarno bersandar.

Hal yang mungkin belum kamu tahu tentang Jembatan Trisula di Blitar Selatan

Putra sulungnya, Guntur Soekarno Putra, mencatat fakta unik yang mungkin membuat kita geleng-geleng kepala: Bung Karno kerap menyantap 2-3 pincuk pecel tepat setelah bangun tidur.

Tanpa cuci muka, tanpa mandi, apalagi gosok gigi. Mengapa? Karena menurut beliau, sensasi rasanya justru terasa jauh lebih “afdol” dalam kondisi alami tersebut.

Begitu magisnya hidangan ini bagi Bung Karno, hingga Guntur menuliskan pengamatannya dengan nada yang menggugah:

Blitar menyambut Ramadan 2026: antara ketegasan dan tenggang rasa

“Nasi pecel dari Blitar. Wah kalau bapak sedang menikmati, walaupun yang namanya Revolusi Indonesia berhenti, pasti bapak tidak akan ambil pusing.”  Guntur Soekarno Putra dalam buku “Bung Karno & Kesayangannya”

Saking gandrungnya, Bung Karno rutin memesan sambal racikan Mbok Rah untuk dikirim ke Istana di Jakarta setiap tiga bulan sekali.

Diplomasi Sambal Pecel di Tanah Mongolia

Bung Karno adalah sosok yang tidak bisa dipisahkan dari sambal pecel, bahkan saat beliau melakukan misi diplomatik ke luar negeri. Saat berkunjung ke Mongolia, di tengah hamparan padang rumput dan tradisi kuliner lokal yang asing, Bung Karno tetap membawa “senjata” kulinernya.

Dari megengan ke bukber modern: Wajah ramadan 2026 di Blitar

Alih-alih menikmati roti dengan mentega atau susu kuda yang menjadi sajian kehormatan setempat, beliau justru mengolesi rotinya dengan sambal pecel Blitar.

Tak jarang, beliau menambahkan sedikit kecap manis untuk melengkapi cita rasanya. Bagi beliau, sambal pecel adalah rumah yang dibawa dalam koper.

Mengapa sambal pecel Blitar begitu istimewa?

Masjid ar-rahman: suasana madinah di Jawa Timur

  • Profil Rasa: Berbeda dengan varian lain, sambal Blitar memiliki keseimbangan antara manis yang legit, gurih yang dalam, serta pedas yang mantap.
  • Aroma Kencur yang Tajam: Penggunaan kencur yang dominan memberikan aroma segar yang membangkitkan indra penciuman.
  • Tekstur Halus: Sambal kacang Blitar cenderung diolah hingga halus, memberikan sensasi creamy yang pas menyelimuti sayuran.

Revolusi Makanan Rakyat: Melawan Dominasi Kuliner Eropa

Bung Karno sangat gusar melihat kabinetnya yang mengidap penyakit “rendah diri” (inferioritas) terhadap makanan Barat. Beliau melihat kegemaran para menteri menyuguhkan keju, margarin, dan kue taart sebagai bentuk penjajahan mental.

Baginya, margarin adalah simbol propaganda fabrikasi Eropa yang menggeser kekayaan lokal.

Dalam wawancara ikonik dengan Cindy Adams untuk buku “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”, Bung Karno meledak:

Tradisi unik masyarakat Blitar menyambut Ramadan

“Sampai sekarang orang Indonesia masih terbawa-bawa oleh sifat rendah diri, yang masih saja mereka pegang teguh secara tidak sadar… Wanita-wanita dari kabinetku selalu menyediakan jualan makanan Eropa. Kita mempunyai penganan enak kepunyaan kita sendiri, kataku dengan marah. Mengapa tidak itu saja dihidangkan?”

Puncak dari kegusaran ini adalah proyek politik pangan raksasa bertajuk Mustika Rasa (1964-1966). Di tengah tahun yang beliau sebut sebagai Vivere Pericoloso (Hidup Penuh Bahaya), Bung Karno menyerukan rakyat untuk berani mengubah menu mencampur nasi dengan jagung, singkong, dan ubi demi kedaulatan pangan.

Buku Mustika Rasa adalah warisan monumental yang mendokumentasikan 1.600 resep Nusantara

Masuk Ramadan, jam kerja ASN berkurang namun target kinerja tetap

Sambal Tumpang: “Jiwa” Tersembunyi dari Pecel Blitar

Jika Anda mengaku pecinta pecel, Anda harus tahu bahwa pecel Jawa Timur bukanlah entitas tunggal. Ada perbedaan tajam berdasarkan “kepribadian” sambalnya:

  • Pecel Madiun: Lebih manis dan tekstur sambalnya sangat kental.
  • Pecel Kediri: Sambalnya memiliki tekstur lebih kasar dan rasa pedas yang lebih menyengat.
  • Pecel Blitar: Unggul pada aroma kencur yang tajam dan seringkali dipadukan dengan Sambal Tumpang.

Sambal Tumpang adalah olahan ajaib berbahan dasar Tempe Semangit (tempe yang telah difermentasi lanjut hingga hampir busuk).

Dalam filosofi Jawa, tempe semangit adalah simbol kesabaran; sesuatu yang dianggap “tua” namun memberikan rasa gurih mendalam (umami) yang tidak bisa digantikan bahan segar manapun.

Serunya basah-basahan di Blumbang Gede: 5 Alasan mengapa kamu harus mencoba Stand Up Paddle di sini!

Dapur Sambal Tumpang:

  • Bahan Utama: Tempe semangit dan santan kental.
  • Bumbu Rempah: Cabai, bawang putih, kencur, daun salam, lengkuas, dan serai.
  • Sensasi: Gurih, sedikit asam, dan aromatik yang kuat.

Variasi Unik: Mengenal Pecel Punten

Di Blitar, pecel juga memiliki pasangan “selingkuh” yang sah bernama Punten. Meskipun kini identik dengan Blitar, kuliner ini sebenarnya berakar dari Tulungagung.

Punten adalah beras yang dimasak dengan santan dan garam, kemudian ditumbuk atau dihaluskan selagi panas hingga memadat dan kenyal.

Destinasi Legendaris yang Masih Bertahan

Ingin merasakan getaran rasa yang sama dengan Sang Proklamator? Anda wajib berkunjung ke Pecel Mbok Bari. Berdiri sejak tahun 1964, warung ini adalah penjaga gawang resep tradisional yang kini diteruskan oleh generasi ketiga.

Panduan Berburu Pecel Mbok Bari:

Lokasi: Jl. Ir. Soekarno No. 189, Kelurahan Sentul, Blitar (Sangat dekat dengan Makam Bung Karno).

Jam Operasional: 05.00 WIB – 10.00 WIB (Jangan telat, biasanya ludes sebelum tutup).

Ciri Khas: Masih menggunakan daun pisang (pincuk) yang memberikan aroma alami yang tak tergantikan.

Harga: Sangat merakyat, berkisar Rp10.000 hingga Rp15.000 per porsi.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Rasa

Pecel Blitar adalah bukti bahwa revolusi bisa dimulai dari meja makan. Bagi Bung Karno, memilih pecel di atas keju atau margarin adalah tindakan patriotik.

Ia adalah simbol harga diri, kesederhanaan, dan bukti bahwa bumi pertiwi telah menyediakan segala yang kita butuhkan untuk hidup sehat dan berdaulat.

Jika seorang pemimpin besar dunia saja begitu bangga dengan sepiring sayuran desa, lantas mengapa kita masih merasa rendah diri dengan kuliner kita sendiri?

Apa makanan tradisional dari daerahmu yang membuatmu merasa paling “Indonesia”? Mari kita jaga Mustika Rasa kita masing-masing.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Berita Terbaru

×