Jejak Sejarah
Selopuro dikenal sebagai tempat yang strategis di masa klasik karena letaknya yang berbatasan dengan Sungai Brantas. Nama “Selopuro” secara mitos berarti “gapura batu”. Beberapa situs cagar budaya masa klasik yang ditemukan di wilayah ini.
Situs dan Inskripsi Selopuro
Terletak di Dusun Selopuro dan Dusun Jabon, mencakup Punden Mbah Soko (di belakang Puskesmas Selopuro) yang memiliki batu berlubang menyerupai sistem kunci bangunan klasik.
Sebuah balok batu berinskripsi yang diduga bagian dari ambang pintu. Pembacaan oleh peneliti menunjukkan angka tahun 1351 Saka (1429 Masehi), yang berasal dari era Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Ratu Suhita.
Situs Jabon, dan lain-lain
Menyimpan fragmen lingga, yoni kurmanaga, serta arca mahayogi dan maharesi. Terdapat pula Situs Mronjo, Situs Ploso, Situs Trenceng di Desa Popoh, dan penemuan batu bata kuno di Dusun Jombor, Desa Mandesan.
Selain benda-benda tersebut, laporan penelitian tahun 1995 sempat menyebutkan adanya sebuah struktur bangunan batu bata di lokasi ini. Akan tetapi, dalam penelusuran berikutnya struktur tersebut dilaporkan sudah tidak dapat ditemukan lagi.
Benda-benda cagar budaya di Situs Jabon ini diketahui telah dilaporkan sejak tahun 1908 oleh Knebel dalam Rapporten van de Commissie in Nederlandsch-Indie voor Oudheidkundig Onderzoek op Java en Madoera (ROC)
Profil Wilayah dan Daftar Desa
Kependudukan dan Layanan Publik
Inovasi dan Kemajuan Desa Saat Ini
Kecamatan Selopuro didominasi oleh sektor pertanian (agraris), sehingga kesejahteraan masyarakatnya sangat bergantung pada hasil bumi. Dalam rencana strategisnya, kecamatan ini berkomitmen untuk meningkatkan kemandirian desa dan kualitas pelayanan publik hingga ke tingkat desa melalui pemanfaatan teknologi informasi yang terintegrasi.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

