BLITAR – Suasana khidmat menyelimuti Pendopo Sasana Adi Praja pada Jumat, 20 Februari 2026. Di bawah langit Blitar yang baru saja dibasuh hujan, Bupati Drs. H. Rijanto, MM, dan Wakil Bupati H. Beky Herdihansah duduk bersama tokoh masyarakat, jajaran Forkopimda, serta para penggerak komunitas untuk merenungkan satu tahun perjalanan visi “Blitar Jaya Linuwih”.
Bagi pasangan Rijanto-Beky, refleksi ini bukan sekadar seremoni formalitas tahunan. Ini adalah panggung keterbukaan untuk menunjukkan bagaimana fondasi pembangunan yang inklusif telah diletakkan.
Fokusnya jelas: membangun manusia Blitar yang sehat, berdaya, dan tetap memegang teguh kearifan lokal. Pembangunan di satu tahun pertama ini adalah tentang membuka akses—memastikan warga di pelosok desa merasakan sentuhan nyata pemerintah, terutama di sektor kesehatan.
Kehadiran DPC P-AP3I: Apresiasi untuk Profesionalisme Penyehat Tradisional
Di tengah deretan tamu undangan, hadir sosok M. Fuad Hasim, Sekretaris DPC P-AP3I (Perkumpulan Para Pemijat Penyehatan Indonesia) Kabupaten Blitar.
Kehadirannya menjadi simbol penting bahwa dalam ekosistem “Blitar Jaya Linuwih”, para praktisi kesehatan tradisional bukan lagi dianggap pelengkap, melainkan mitra profesional yang setara.
Pak Fuad menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas pengakuan pemerintah daerah terhadap Pelayanan Kesehatan Tradisional (Yankestrad). “Kami merasa sangat dihargai. Sinergi ini memacu kami untuk terus meningkatkan profesionalisme,” ungkapnya.
Melalui pendampingan dari Pj. Sekretaris Daerah Khusna Lindarti, S.Sos. M.SI., pemerintah daerah aktif menjembatani aspirasi para praktisi agar layanan kesehatan tradisional di Blitar tidak hanya berbasis tradisi, tetapi juga memenuhi standar sertifikasi kompetensi (LSK PITRA) yang kredibel.
Griya Sehat: Mewujudkan Mimpi Pelayanan Kesehatan Kelas Dunia di Kanigoro
Langkah paling progresif dalam integrasi layanan ini adalah beroperasinya Griya Sehat di Jalan Manowari, Kanigoro. Fasilitas ini bukan sembarang klinik;
ia merupakan Pilot Project nasional dari Kementerian Kesehatan RI dan menjadi satu-satunya Griya Sehat milik Pemerintah Daerah di Jawa Timur.
Kehadiran Griya Sehat membuktikan bahwa warga Blitar kini bisa mengakses layanan kesehatan komplementer yang aman dan terukur.
Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 Tahun 2023, masyarakat dapat menikmati layanan profesional dengan tarif retribusi yang sangat terjangkau:
- Akupuntur: Rp50.000
- Akupresur (Pijat Wajah, Pijat Baduta, dll): Rp60.000
- Herbal / Ramuan: Rp45.000
- Pijat Tradisional Dewasa (Seluruh Tubuh): Rp75.000
- Pijat Balita dan Anak: Rp50.000
- Spa Dewasa: Rp150.000
- Spa Bayi / Balita / Anak: Rp75.000
Sinergi Hangat P-AP3I: Dari Bakti Sosial hingga Legalitas Praktik
Kehangatan sinergi antara pemerintah dan organisasi profesi ini paling nyata terasa di Dusun Besok Dowo, Desa Ringinonom, Udanawu, pada Desember 2025 lalu.
Puluhan terapis profesional berkumpul di Musala Baitul Muttaqin untuk memberikan layanan pijat gratis bagi warga. Momen ini menjadi istimewa dengan kehadiran tokoh senior seperti Ibu Rodiyah dari Kediri dan Ki Gatot dari Tulungagung.
Kepala Puskesmas Udanawu, In Suhardi, S.Kep., Ns., menyambut hangat aksi ini sebagai bentuk nyata gotong royong. Kolaborasi ini pun berlanjut pada edukasi legalitas.
P-AP3I bersama Dinas Kesehatan aktif mendorong para penyehat tradisional untuk mengurus Surat Terdaftar Penyehat Tradisional (STPT) melalui Dinas Penanaman Modal dan PTSP. Langkah ini memastikan bahwa setiap warga yang datang ke panti sehat mendapatkan pelayanan dari praktisi yang telah terverifikasi keamanannya.
Komitmen Anggaran: Memperkuat Nafas Pelayanan Kesehatan
Visi besar “Blitar Jaya Linuwih” didukung oleh kebijakan fiskal yang berpihak pada rakyat. Pada tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Blitar mengalokasikan Rp15,2 miliar dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) khusus untuk sektor kesehatan.
Dana ini menjadi “ruang nafas” bagi Dinkes untuk memperluas jangkauan layanan, termasuk memberikan dukungan bagi fasilitas Yankestrad di tingkat dasar.
Pada tahun 2025, alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) untuk sektor kesehatan mencapai total Rp15,2 miliar. Anggaran tersebut terbagi dalam beberapa program strategis, di antaranya Program Bantuan Iuran Daerah (PBID/BPJS) sebesar Rp12,6 miliar yang difokuskan untuk menjamin kesehatan warga kurang mampu.
Selain itu, Rp1,68 miliar dialokasikan untuk rehabilitasi fasilitas kesehatan, meliputi Puskesmas Suruhwadang, Pustu Tumpuk Kepuh, Pustu Midodaren, dan Pustu Kaulon. Sementara itu, sebesar Rp864 juta digunakan untuk pengadaan obat-obatan guna memastikan ketersediaan stok di seluruh fasilitas kesehatan.
Catur Dharma: Transformasi SDM dan Kemudahan Akses Masyarakat
Keberhasilan di sektor kesehatan hanyalah satu kepingan dari kerangka besar Catur Dharma. Pembangunan infrastruktur jalan sepanjang 76 km pada tahun 2025 bukan sekadar urusan aspal,
melainkan tentang bagaimana seorang warga dari desa terpencil kini bisa mencapai Griya Sehat di Kanigoro dengan lebih cepat dan aman.
Kualitas hidup masyarakat Blitar juga melonjak melalui capaian-capaian berikut:
- Pengentasan Kemiskinan: Angka kemiskinan turun ke titik 7,57%, terendah dalam dua dekade terakhir.
- Pendidikan Inklusif: Sebanyak 5.500 siswa SD/SMP menerima bantuan khusus, 18.000 seragam gratis dibagikan, serta beasiswa untuk 1.700 mahasiswa telah disalurkan.
- Konektivitas Digital: Tersedianya 351 titik internet gratis yang kini terintegrasi dengan aplikasi SATRIO (Sistem Antrian Online) dan SiGAB (Service Gawat Darurat), memudahkan warga mendaftar layanan kesehatan dari rumah tanpa perlu mengantre lama.
Penutup: Menjaga Stamina dalam Maraton Pembangunan
Menutup pidato refleksinya, Bupati Rijanto mengingatkan bahwa membangun Blitar adalah perjuangan kolektif. “Pembangunan ini bukan lari cepat (sprint), melainkan maraton panjang yang membutuhkan stamina dan kerja sama tim,” tegasnya.
Optimisme terpancar dari wajah-wajah para penggerak komunitas seperti P-AP3I. Dengan sinergi yang telah terjalin, integrasi layanan kesehatan tradisional yang profesional akan terus menjadi salah satu pilar kekuatan Kabupaten Blitar.
Semangat gotong royong itu kini menjadi energi bersama menuju Blitar yang semakin sehat, berdaya, dan jaya linuwih bagi generasi mendatang.

