Blitar – Bulan Ramadhan tak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga arena kontemplasi intelektual. Komunitas literasi di Blitar menggelar diskusi tematik kajian politik bertajuk “Negara Dalam Pandangan Sosialis” pada Rabu, 25 Februari 2026.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Lapak Baca Ceria itu berlangsung di Kedai Satu Rasa Blitar, Jl. Cakraningrat, Sentul, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar.
Forum ini menghadirkan Alex Cahyono sebagai pemantik diskusi. Dalam pemaparannya, Alex mengurai negara dari perspektif sosialisme klasik hingga refleksi kontemporer.
Ia menegaskan bahwa dalam tradisi Karl Marx dan Friedrich Engels, negara tidak pernah berdiri sebagai entitas netral melainkan lahir dari sejarah konflik kelas dan mencerminkan kepentingan kelas dominan.
“Negara dalam pandangan sosialis tidak pernah dipahami sebagai entitas netral. Namun adalah produk pertentangan kelas. Karena itu, sosialisme melihat negara bukan sebagai tujuan akhir, melainkan alat transisional untuk menghancurkan dominasi kelas lama,” tegas Alex.
Mengulas lebih jauh, Alex merujuk gagasan dalam The Communist Manifesto (1848) serta pemikiran Vladimir Lenin dalam State and Revolution (1917). Ia menyoroti bahwa dalam teori, negara proletariat merupakan fase sementara sebelum menuju masyarakat tanpa kelas. Namun praktik sejarah menunjukkan paradoks tersendiri.
“Sejarah memperlihatkan bahwa tanpa kontrol demokratis, negara mudah berubah menjadi instrumen dominasi baru. Negara yang dimaksudkan untuk membebaskan justru berpotensi menjadi mesin kontrol,” ujarnya.
Alex kemudian menarik relevansi sosialisme dengan konteks kekinian. Menurutnya, tantangan hari ini bukan hanya memilih antara pasar bebas atau negara kuat, melainkan merumuskan sintesis baru yang berpihak pada keadilan sosial tanpa mengorbankan kebebasan.
“Negara dalam pandangan sosialis adalah proyek besar pembebasan manusia. Namun sejarah menunjukkan bahwa tanpa kontrol demokratis, negara mudah berubah menjadi instrumen dominasi baru. Masa depan sosialisme mungkin terletak pada sintesis seperti mewujudkan keadilan sosial tanpa totalitarianisme, negara kesejahteraan tanpa penindasan, dan demokrasi ekonomi tanpa mengorbankan kebebasan,” jelasnya.
Pernyataan tersebut memantik diskusi hangat di antara peserta, terutama mahasiswa dan pemuda yang hadir. Beberapa peserta menyoroti perbedaan antara sosialisme dan komunisme yang kerap dipahami secara simplistik.
Dalam forum itu ditegaskan bahwa secara tekstual dalam tradisi Marxis, sosialisme merupakan fase awal menuju komunisme, meski dalam praktik politik abad ke-20 keduanya mengalami diferensiasi strategis.
Koordinator Lapak Baca Ceria, Reyda Hafis, menyampaikan bahwa diskusi tematik seperti ini akan digelar secara intens selama Ramadhan. Ia menilai Blitar masih minim ruang diskursus kritis yang konsisten.
“Diskusi ini kami hadirkan untuk memantik semangat revolusioner mahasiswa dan pemuda di Blitar. Minimnya wahana dialektika membuat pragmatisme tumbuh subur. Kami ingin Ramadhan juga menjadi momentum pembebasan pemikiran,” pungkasnya.

