Blitar – Mengakhiri masa bakti sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) sering kali hanya dimaknai sebagai urusan administrasi. Namun, purnatugas H. Baharuddin sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pacitan menyuguhkan narasi berbeda. Tokoh yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua PCNU Kabupaten Blitar ini diantar pulang ke kediamannya di Desa Gogodeso, Blitar, oleh rombongan besar pengurus PCNU dan warga Pacitan pada Sabtu dini hari (28/02), sebuah pemandangan yang mempertegas bahwa dedikasi melampaui batas jabatan formal.
Kepulangan Baharuddin tidak sekadar kepulangan seorang pejabat, melainkan simbol harmoni presisi antara Kemenag dan Nahdlatul Ulama (NU).
Di tengah dinamika birokrasi yang terkadang kaku dan berjarak dengan basis massa keagamaan, kedekatan organik yang ditunjukkan Baharuddin di Pacitan menjadi preseden penting mengenai bagaimana seharusnya Kemenag bersinergi dengan organisasi keagamaan: saling menguatkan, bukan sekadar hubungan formal-administratif.
Ketua PCNU Kabupaten Blitar, Kiai Muqorrobin, saat menyambut rombongan tersebut, memberikan apresiasi tinggi atas jejak pengabdian Baharuddin. Ia menyoroti bagaimana kapasitas Baharuddin justru semakin bersinar saat ditugaskan di luar daerah asalnya.
“Seringkali gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan tampak. Kehebatan Bapak Baharuddin ini sangat dirasakan di Pacitan, dan hari ini kita di Blitar disadarkan kembali akan mutiara yang kita miliki melalui kesaksian warga Pacitan,” ungkap Muqorrobin dalam sambutannya.
Kehadiran para tokoh kunci, mulai dari Ketua PCNU Kabupaten dan Kota Blitar, Ketua PCNU Pacitan, hingga Ketua LTN NU Kabupaten Blitar, Latif Najibullah, menegaskan bahwa kepulangan ini adalah momentum konsolidasi SDM organisasi.
Baharuddin diharapkan membawa pengalaman manajerial birokrasinya untuk membenahi tata kelola jam’iyah di Blitar agar lebih profesional.
Senada dengan hal tersebut, Muqorrobin menegaskan bahwa organisasi telah menanti sumbangsih penuh Baharuddin pasca-pensiun.
“Kami sangat berbahagia beliau kembali sepenuhnya ke pangkuan organisasi. Banyak agenda besar PCNU yang membutuhkan sentuhan tangan dingin dan pengalaman beliau untuk segera kita tuntaskan bersama,” tegasnya.
Prosesi pengantaran lintas kabupaten ini menjadi catatan penting dalam tradisi santri dan birokrat. Baharuddin membuktikan bahwa ketika seorang pemimpin mampu memadukan loyalitas pada negara dan khidmat pada ulama, masa purnatugas bukanlah akhir dari pengabdian, melainkan transisi menuju ruang pengabdian yang lebih luas dan tanpa batas. (sz/blt)

