Kondisi geografis Kecamatan Wonotirto
Kecamatan Wonotirto menempati wilayah strategis pada bagian selatan Kabupaten Blitar. Wilayah ini berbatasan langsung dengan hamparan luas Samudera Hindia yang megah.
Kebijakan administratif tersebut mengambil lima desa dari wilayah Kecamatan Sutojayan. Selain itu, tiga desa lainnya berasal dari wilayah Kecamatan Bakung. Wonotirto kini menjadi bagian integral dari kawasan pembangunan Blitar Selatan.
Posisi geografisnya berada tepat pada sisi selatan aliran Sungai Brantas yang panjang. Wilayah ini menawarkan perpaduan pemandangan antara pegunungan hijau dan garis pesisir.
Kecamatan Wonotirto mencakup delapan desai. Desa-desa tersebut meliputi Gununggede, Kaligrenjeng, Ngadipuro, serta Desa Ngeni. Selain itu, wilayah ini memiliki Desa Pasiraman, Sumberboto, Tambakrejo, dan Wonotirto.
Kawasan perbukitan luas membentuk karakteristik utama geografi pada kecamatan ini. Kepadatan penduduk pada seluruh wilayah Wonotirto masuk kategori yang kecil. Masyarakat membangun pemukiman yang menyebar pada area dataran tinggi perbukitan.
Desa Ngeni memiliki puluhan dusun kecil seperti Krajan, Bantut, Dringo, dan Gampingan. Desa Gununggede juga memiliki dusun Kalikenongo serta Kalikuning pada area perbukitan. Kantor pusat pemerintahan kecamatan kini berada pada wilayah Desa Wonotirto.
Sementara itu, Desa Tambakrejo menempati titik paling selatan dekat pesisir samudera.
Potensi ekonomi dan sumber daya alam
Alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan tebu mengubah wajah alam Wonotirto. Wonotirto saat ini memegang status sebagai produsen tebu di Blitar. Pohon kelapa juga tumbuh subur dan menghasilkan komoditas bagi warga.
Sektor perikanan laut berpusat sepenuhnya pada kawasan pesisir Desa Tambakrejo. Kampung nelayan Tambakrejo menyandang predikat sebagai pusat perikanan paling produktif. Kehadiran Instalasi Pelabuhan Perikanan Pantai (IPPP) mendukung operasional harian para nelayan.
Tempat Pelelangan Ikan (TPI) menjadi pusat transaksi hasil laut yang segar. Pasar ikan setempat menyediakan beragam jenis ikan asap dengan aroma khas. Pembeli dapat memilih ikan tuna, kakap, hingga cumi asap yang lezat.
Potensi pariwisata bahari dan infrastruktur
Deretan pantai yang menawan menghiasi sepanjang garis pantai selatan Wonotirto. Pantai Tambakrejo menjadi primadona utama bagi wisatawan lokal maupun mancanegara. Keindahan pasir putih Pantai Pasetran Gondo Mayit juga menyihir setiap mata pengunjung.
Wisatawan dapat menjelajahi Pantai Banteng Mati yang asri. Pantai Jebring, Pantai Keben, dan Pantai Pudak menawarkan keheningan alam yang luar biasa. Pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) membawa perubahan besar bagi akses transportasi daerah.
Jalan raya ini membelah perbukitan guna menghubungkan area pesisir secara lebih cepat. Proyek JLS tersebut menyambungkan wilayah Kabupaten Blitar dengan Tulungagung dan Malang. Infrastruktur modern ini memudahkan masyarakat dalam mengeksplorasi seluruh potensi wisata bahari.
Tradisi larung sesaji dan identitas budaya
Masyarakat pesisir menjaga kelestarian tradisi Larung Sesaji secara rutin setiap tahun. Ritual adat ini berlangsung tepat pada tanggal 1 Muharam atau Sura. Tradisi tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil laut. Nelayan memohon keselamatan serta berkah melimpah selama mencari ikan di samudera.
Prosesi upacara adat bermula dengan pertunjukan wayang kulit purwa pada malam hari. Seni wayang tersebut membawakan kisah luhur yang mengandung nilai moral bagi warga. Tokoh adat memimpin doa bersama demi keselamatan seluruh warga.
Keesokan harinya, masyarakat mengarak gunungan sesaji dari kantor desa menuju bibir pantai. Gunungan tersebut berisi berbagai hasil bumi, buah-buahan, serta kepala hewan ternak. Warga juga menyiapkan sesaji khusus berupa takir plontang dan tumpeng emas.
Penabuh gamelan memainkan instrumen musik tradisional untuk menciptakan suasana yang khidmat. Tari kuda lumping memperkuat kemeriahan suasana selama perjalanan menuju dermaga pelabuhan. Nelayan kemudian menaikkan sesaji ke atas perahu motor untuk melepaskannya ke samudera.
Upaya pengembangan pariwisata Wonotirto harus tetap menjaga keaslian tradisi budaya lokal. Wilayah ini memiliki aset yang sangat berharga bagi masa depan Kabupaten Blitar.
Keharmonisan antara alam dan kearifan lokal memperkuat identitas sosial masyarakat pesisir. Semua pihak perlu menjaga kelestarian ekosistem agar sumber daya alam tetap berkelanjutan. Dukungan pemerintah pusat dan daerah menjamin tradisi ini terus menjadi magnet global.
Sinergi antara nelayan, petani, serta pelaku wisata akan memajukan ekonomi daerah. Keunikan Wonotirto senantiasa memberikan kontribusi besar bagi kemasyhuran nusantara di mata dunia. Pelestarian budaya merupakan investasi penting bagi kesejahteraan generasi masa depan bangsa.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

