Suasana Kota Kediri perlahan mulai bersolek dengan rona kemerahan yang magis. Jika Anda melintasi Jalan Yos Sudarso, deretan lampion yang menggantung cantik seolah menari ditiup angin sore dari arah Sungai Brantas.
Kontras dengan hiruk-pikuk lalu lintas, gerbang Kelenteng Tjoe Hwie Kiong menawarkan ketenangan yang dalam.
Bagi kita yang tinggal di “Kota Tahu”, Imlek bukan sekadar tradisi tahunan; ia adalah napas harmoni yang telah berembus selama ratusan tahun di tepian sungai bersejarah ini.
1. Ritual Suci di Balik Kilauan Rupang: Puasa Daging dan Pengendalian Diri
Persiapan menyambut tahun baru di Tjoe Hwie Kiong dimulai jauh sebelum lilin-lilin besar dinyalakan. Ada sebuah tradisi sakral yang disebut pembersihan rupang (patung dewa-dewi). Namun, ini bukan sekadar aktivitas bersih-bersih biasa.
Para umat yang terpilih untuk menyentuh patung-patung suci ini wajib melakukan “pengendalian diri” yang ketat: mereka harus berpuasa daging dan menjaga perilaku serta tutur kata minimal selama tiga hari sebelum ritual dimulai.
Bayangkan kekhidmatan saat sekitar 100 rupang yang bersemayam di 17 altar dibersihkan dengan penuh cinta. Menggunakan air sabun yang harum semerbak bercampur aneka bunga, para umat membasuh setiap detail patung secara manual.
Ritual ini dilakukan tepat setelah sembahyang Sang Sin momen di mana dewa-dewi dipercaya naik ke langit untuk melapor sebagai simbol penyucian hati dan lingkungan sebelum lembaran tahun yang baru dibuka.
2. Menelusuri Jejak Sejarah yang “Hanyut” oleh Banjir 1955
Kelenteng Tjoe Hwie Kiong bukan sekadar bangunan tua; ia adalah kelenteng tertua kelima di Jawa Timur yang diperkirakan berdiri sejak tahun 1817. Ada sebuah melankoli sejarah di sini.
Akibat banjir besar Sungai Brantas pada tahun 1955, banyak arsip dan catatan resmi mengenai pendiri kelenteng ini “hanyut” ditelan arus.
Namun, sejarah tidak benar-benar hilang. Ia bertahan dalam memori kolektif tentang para musafir asal Tiongkok yang berlayar menyusuri Brantas dan membawa patung Dewi Laut, Thian Sang Sing Bo (Mak Co), lalu meletakkannya di tepi sungai sebagai tempat bersandar secara spiritual.
Nilai sejarah dan akulturasi ini membuat Tjoe Hwie Kiong kini ditetapkan sebagai Cagar Budaya. Mengenai semangat keberagaman ini, Wali Kota Kediri yang akrab disapa Mbak Wali Vinanda Prameswati, berpesan:
“Kota Kediri dibangun di atas keberagaman suku, budaya, dan agama. Jangan jadikan keberagaman sebagai sumber permusuhan, tetapi jadikanlah keberagaman sebagai kekuatan. Karena perbedaan itu indah.”
3. Ambisi Menjadi Kota Paling Toleran Nomor 1 di Indonesia
Saat ini, Kota Kediri dengan bangga menempati peringkat ke-7 sebagai Kota Paling Toleran secara nasional menurut Indeks Kota Toleran.
Namun, Mbak Wali memiliki ambisi besar: membawa Kediri ke posisi pertama. Momentum Imlek 2577 Kongzili ini menjadi buktinya.
Perayaan di kelenteng tidak hanya dihadiri oleh umat Tridharma, tetapi juga para tokoh dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).
Kehadiran sosok seperti Wakil Wali Kota Qowimuddin dan tokoh lintas agama lainnya menunjukkan bahwa toleransi di Kediri bukan sekadar jargon di atas kertas, melainkan “bahan bakar” nyata yang menggerakkan pembangunan kota.
4. Dampak Ekonomi: Wangi Dupa Gunung Kawi yang Memikat Pasar
Wangi dupa (hio) yang khas kini mulai tercium hingga ke pasar-pasar tradisional. Di sudut Kabupaten Kediri, tepatnya di Jl. Mastrip, Pare, seorang penjual eceran bernama Sri Lestari merasakan langsung berkah Imlek.
Meskipun hanya pedagang kecil, ia mencatat peningkatan penjualan sekitar 10% dibanding hari biasa.
Masyarakat dan umat mulai berburu perlengkapan ritual untuk memastikan sembahyang mereka berjalan khidmat. Beberapa barang yang paling laris manis di antaranya:
- Dupa Stik (Hio): Varian “Gunung Kawi” menjadi primadona, disusul dengan aroma Melati (Jasmine) yang menenangkan.
- Lilin Merah: Berbagai ukuran, dari yang kecil hingga raksasa, melambangkan penerangan jalan hidup.
- Minyak Esensial: Digunakan untuk menambah kekhidmatan di area altar.
5. Barongsai: Sang Penolak Bala yang Berprestasi Nasional
Tak lengkap rasanya bicara Imlek tanpa gemuruh genderang barongsai. Di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, atraksi barongsai bukan sekadar hiburan rakyat.
Secara filosofis, gerakan singa ini dipercaya sebagai simbol pembersihan energi negatif dan penolak bala bagi kota.
Kebanggaan warga Kediri kian lengkap karena tim barongsai dari kelenteng ini bukan kaleng-kaleng; mereka memegang predikat Juara Umum Jawa Timur dan berada di peringkat tujuh nasional.
Saat singa-singa lincah ini mulai membagikan jeruk kepada penonton, itulah momen paling puitis: simbol berbagi rezeki dan harapan agar keberuntungan mengalir deras kepada siapa saja, tanpa memandang latar belakang.
6. Akulturasi dan Kuliner: Wayang Potehi serta Lontong Cap Go Meh
Sebagai ikon wisata religi di tepian Brantas, kelenteng ini menjadi ruang akulturasi yang cantik. Selain barongsai, hadir pula Wayang Potehi seni boneka kain asal Tiongkok yang telah beradaptasi dengan narasi dan sentuhan lokal, menciptakan jembatan budaya yang unik.
Puncak kebersamaan ini pun mewujud dalam sepiring Lontong Cap Go Meh. Pihak kelenteng biasanya menyiapkan hingga 500 porsi hidangan ini untuk dinikmati bersama.
Lontong yang merupakan kuliner lokal berpadu dengan gurihnya kuah dan lauk khas Tionghoa, menciptakan simfoni rasa yang mengingatkan kita bahwa perbedaan jika disatukan akan menghasilkan harmoni yang lezat.
Kesimpulan: Merayakan Perbedaan di Kota Tahu
Perayaan Imlek di Kediri adalah potret peradaban yang terjaga selama lebih dari dua abad. Dari ritual puasa daging para umat hingga ambisi pemerintah menjadi kota paling toleran di Indonesia, semuanya bermuara pada satu doa di tahun 2577 Kongzili: keselamatan dan kemajuan bagi seluruh warga.
Sungai Brantas telah menjadi saksi bagaimana perbedaan suku dan keyakinan justru memperkuat fondasi “Kota Tahu”. Sekarang, mari kita lihat ke lingkungan kita sendiri.
Sudahkah Kediri yang harmonis ini tercermin dalam cara kita menyapa tetangga yang berbeda keyakinan hari ini? Bagaimana cara Anda merayakan perbedaan di sekitar Anda?
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

