Artikel Feature
Beranda » Perang Shiffin, Tahkim, dan lahirnya konflik baru pada zaman ALi bin Abi Thalib

Perang Shiffin, Tahkim, dan lahirnya konflik baru pada zaman ALi bin Abi Thalib

Kakbah di Mekah. (unsplash.com/id/@sul3li)

Setelah Perang Jamal, masalah utama belum selesai. Ali bin Abi Thalib masih menghadapi penolakan dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, gubernur Syam. Mu’awiyah menolak baiat sebelum pembunuh Utsman dihukum.

Posisi keduanya sama-sama rumit. Ali sudah menjadi khalifah sah. Mu’awiyah menuntut keadilan atas kematian kerabatnya. Tidak ada jalan tengah yang cepat.

Menuju Perang Shiffin

Ali bin Abi Thalib dan awal perang saudara dalam Islam

Kedua pasukan akhirnya bertemu di daerah Shiffin, dekat Sungai Efrat. Jumlah pasukan besar. Tensi tinggi, tapi perang tidak langsung pecah. Beberapa upaya damai dilakukan.

Namun masing-masing pihak tetap bertahan pada posisinya. Ketika pertempuran akhirnya terjadi, korban jatuh dari kedua sisi. Ini bukan perang melawan musuh luar. Ini perang antar sesama muslim, dan itu membuat situasinya jauh lebih berat.

Saat pasukan Mu’awiyah terdesak, muncul usulan mengangkat mushaf Al-Qur’an di ujung tombak. Pesannya jelas: hentikan perang, kembalikan perkara pada Al-Qur’an. Sebagian pasukan Ali ragu.

Jose Mourinho: Antitesis filosofi Cruyff di Barcelona

Ali sendiri menilai ini bisa jadi taktik politik. Namun tekanan dari pasukannya sendiri membuat Ali menerima tahkim atau arbitrase. Keputusan ini mengubah arah konflik.

Perwakilan dari kedua pihak ditunjuk. Ali diwakili Abu Musa al-Asy’ari. Mu’awiyah diwakili Amr bin Ash. Hasil tahkim tidak memberikan keputusan tegas. Ali tidak dipulihkan sepenuhnya sebagai khalifah, Mu’awiyah juga tidak dinyatakan bersalah. Ali justru kehilangan dukungan sebagian pengikutnya.

Sebagian pasukan Ali marah atas keputusan tahkim. Mereka beranggapan bahwa hukum hanya milik Allah dan manusia tidak berhak memutuskan. Kelompok ini keluar dari barisan Ali. Mereka dikenal sebagai Khawarij.

Janji politik Soekarno dan uji konsistensi dalam revolusi

Masalahnya, Khawarij tidak hanya berbeda pendapat. Mereka menganggap pihak lain salah dan halal diperangi. Ali kini menghadapi dua lawan sekaligus: Mu’awiyah di Syam, Khawarij di dalam wilayahnya sendiri

Secara militer, Ali masih kuat. Secara politik, posisinya melemah. Ia harus memilih antara: menyelesaikan konflik lama atau menghentikan ancaman baru dari Khawarij. Waktu dan energi terpecah.

Pelajaran yang Tidak Nyaman

Pengepungan rumah Utsman bin Affan dan krisis kepemimpinan

Dari Perang Shiffin dan Tahkim terlihat bahwa: simbol agama bisa dipakai sebagai alat politik, keputusan kompromi bisa memperparah keadaan jika waktunya salah, perpecahan internal lebih sulit dikendalikan daripada perang terbuka. Ali tidak kekurangan niat baik. Ia kekurangan kondisi yang mendukung.

Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury

Konflik Johan Cruyff dan manajemen Barcelona: Perpisahan yang buruk
×