Artikel Soccer
Beranda » Pep Guardiola dan warisan Cruyff di sepak bola modern

Pep Guardiola dan warisan Cruyff di sepak bola modern

Jonathan Wilson, The Barcelona Legacy: Guardiola, Mourinho and the Fight for Football’s Soul (Blink Publishing, 2018).

Pep Guardiola adalah bukti paling nyata bahwa warisan Johan Cruyff tidak berhenti pada satu generasi. Saat pertama kali masuk tim utama Barcelona, Guardiola bukan pemain dengan fisik menonjol. Ia lambat, kurus, dan kerap diremehkan. Namun Cruyff melihat sesuatu yang lain: pemahaman permainan.

Cruyff menempatkan Guardiola sebagai poros permainan di lini tengah. Dari posisi itu, Guardiola belajar mengatur tempo, membaca ruang, dan menghubungkan semua lini. Ia dididik bukan hanya sebagai pemain, tetapi sebagai pemikir sepak bola.

Metode latihan Cruyff sangat detail. Setiap posisi, jarak antar pemain, dan sudut operan diawasi ketat. Kesalahan kecil langsung dihentikan. Tujuannya bukan menghukum, melainkan membangun kebiasaan berpikir yang benar.

Akhir kepemimpinan Umar bin Khattab dan warisan keadilan

Ketika Guardiola kemudian menjadi pelatih, prinsip-prinsip itu muncul kembali dengan bahasa baru: juego de posición. Intinya tetap sama, penguasaan ruang melalui struktur posisi dan disiplin kolektif.

Barcelona, Bayern München, hingga Manchester City menjadi contoh bagaimana ide Cruyff berevolusi dalam konteks sepak bola modern.

Meski Guardiola mengembangkan gagasannya sendiri, fondasinya jelas. Tanpa Cruyff, sulit membayangkan arah sepak bola modern seperti sekarang. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, warisan itu terus hidup.

Dari Ajax ke Barcelona: Akar filosofi sepak bola Johan Cruyff

Sumber: Jonathan Wilson, The Barcelona Legacy: Guardiola, Mourinho and the Fight for Football’s Soul (Blink Publishing, 2018).

×