Artikel Pop Culture
Beranda » “Moonfall”: Saat Bulan menabrak Bumi dan logika tak lagi berlaku

“Moonfall”: Saat Bulan menabrak Bumi dan logika tak lagi berlaku

Moonfall (2022) (Gambar: YouTube Lionsgate Movies)
Ada alasan psikologis yang mendalam mengapa kita, sebagai audiens, selalu terhipnotis saat menyaksikan dunia luluh lantak di layar perak. Genre disaster movie menawarkan semacam pelepasan emosi visual sebuah ruang aman bagi manusia untuk memproses ketakutan purba akan kepunahan massal dari balik kenyamanan kursi bioskop.
Dalam semesta kehancuran ini, Roland Emmerich adalah sang arsitek utama. Setelah sukses meratakan metropolis dalam Independence Day (1996) dan menenggelamkan peradaban lewat 2012 (2009), Emmerich kembali dengan ambisi yang jauh lebih liar dalam Moonfall.
Kali ini, targetnya bukan sekadar cuaca ekstrem, melainkan satelit alami kita sendiri yang tiba-tiba mogok dari orbitnya. Secara teknis, Emmerich membuktikan bahwa ia masih memegang takhta dalam merangkai estetika kiamat. 
Moonfall menyuguhkan kualitas audio-visual yang luar biasa megah, di mana setiap inci kehancuran dipoles dengan detail yang sanggup memicu vertigo.
Penonton disuguhi pemandangan tsunami raksasa yang menelan daratan, hujan meteor yang membara, hingga fenomena anomali gravitasi yang membuat segala sesuatu di permukaan bumi melayang tak beraturan.  Scoring musik yang mencekam berpadu apik dengan desain suara yang menggelegar, terutama saat menggambarkan momen disipasi atmosfer yang dramatis.
Film ini merupakan puncak kematangan Emmerich dalam mengeksekusi “tontonan bencana” skala masif. Ia berhasil menangkap kengerian dari material bulan yang berjatuhan ke bumi dengan presisi teknis yang memukau.
Namun, daya tarik utama Moonfall justru terletak pada premisnya yang sangat berani atau mungkin terlalu berani. Plot film ini berporos pada klaim K.C. Houseman bahwa bulan bukanlah sekadar bola batu ruang angkasa, melainkan sebuah megastruktur buatan manusia purba atau entitas asing. Sebuah konsep yang mengingatkan kita pada teori Dyson Sphere atau konspirasi alien kuno.
Ketegangan memuncak ketika terungkap adanya kekuatan misterius berwarna hitam yang bersemayam di inti bulan. Entitas ini menyerap energi dan menyebabkan ketidakstabilan orbit, sebuah anomali yang rupanya dipicu oleh resonansi tangki bahan bakar Apollo 11 yang dibuang puluhan tahun silam.
Ide ini memang sangat out of the box, namun di saat yang sama, ia menjadi pisau bermata dua yang membelah logika cerita hingga hancur berkeping-keping.
Di tengah naskah yang seolah kehilangan gravitasi rasionilnya, performa trio pemeran utama menjadi jangkar yang menjaga film ini agar tidak sepenuhnya melayang tanpa arah. Brian Harper (Patrick Wilson), Jo Fowler (Halle Berry), dan K.C. Houseman (John Bradley) menunjukkan chemistry yang dinamis.
John Bradley, khususnya, tampil sebagai pencuri perhatian dengan humor-humor cerdas dan karakter “ahli teori konspirasi” yang memberikan kesegaran di tengah situasi apokaliptik yang tegang. Meski begitu, aktor pendukung berbakat seperti Charlie Plummer dan Michael Peña sayangnya terasa agak tersia-siakan dalam skenario yang lebih fokus pada skala bencana ketimbang kedalaman karakter.
Satu fakta yang sulit diabaikan adalah status Moonfall sebagai salah satu film independen termahal dalam sejarah sinema, dengan anggaran fantastis mencapai $138-145 juta. Ironisnya, ambisi finansial dan visual yang masif ini harus berbenturan keras dengan kritik pedas dari para pengamat film.
Skenario yang ditulis oleh Emmerich bersama Harald Kloser dan Spenser Cohen dianggap terlalu rumit di bawah beban ambisinya sendiri. Transisi menuju bagian resolusi bahkan terasa tidak realistis. Meninggalkan penonton dengan dahi berkerut akibat logika sains yang dipaksakan demi mencapai akhir yang bombastis.
Lantas, bagaimana cara terbaik menikmati Moonfall? Jawabannya sederhana, yakni lepaskan segala tuntutan terhadap hukum fisika maupun logika dasar.
Film berdurasi 130 menit ini adalah sebuah guilty pleasure yang murni sebuah perayaan atas imajinasi tanpa batas yang tidak perlu dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Moonfall adalah petualangan visual yang ambisius, sebuah bukti bahwa dalam fiksi, ruang untuk kemungkinan tidak pernah terbatas. Meski naskahnya kerap terasa seperti kekacauan yang terlepas dari orbit, film ini tetap berhasil memberikan hiburan berskala kolosal bagi mereka yang mendambakan sensibilitas campy dalam balutan teknologi CGI mutakhir.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Alasan film animasi “Jumbo” adalah standar baru sinema lokal
×