Artikel Feature
Beranda » Misteri candi palah: 5 fakta tersembunyi dari situs terluas di Jawa Timur

Misteri candi palah: 5 fakta tersembunyi dari situs terluas di Jawa Timur

Ilustrasi NotebookLM

Angin sejuk berembus pelan dari lereng barat daya Gunung Kelud, membawa aroma tanah basah yang menyelimuti kompleks bebatuan purba di ketinggian 450 mdpl.

Di sinilah Candi Penataran berdiri, sebuah mahakarya yang bisu namun menyimpan narasi megah lintas zaman, mulai dari era Kadiri hingga kejayaan Majapahit.

Namun, di balik kemegahannya, terselip sebuah ironi modern masyarakat kita kini lebih sering menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan atau terbuai layar gawai, sementara nilai-nilai luhur yang terpahat di batu andesit ini perlahan memudar.

Hagia Sophia: keajaiban arsitektur dunia

Padahal, mengunjungi situs sejarah bukanlah sekadar tugas sekolah yang menjemukan, melainkan upaya menjemput kembali jati diri bangsa yang kian tergerus zaman.

Apa sebenarnya rahasia yang tersembunyi di balik tumpukan batu Candi Palah yang melegenda ini?

Berikut adalah lima fakta tersembunyi yang merajut identitas Candi Penataran sebagai situs sejarah paling berpengaruh di Jawa Timur.

Candi penataran: situs besar di Jawa Timur yang masih kokoh

1. Detektif Arkeologis: Teka-Teki Ganesha Berkepala Singa

Salah satu “plot twist” paling menarik dalam dunia arkeologi modern ditemukan justru di dalam ruang penyimpanan atau gudang Museum Penataran.

Di sudut yang sunyi, tersimpan sebuah arca batu andesit bernomor koleksi 121 yang sempat memicu perdebatan intelektual saat kegiatan Summer Programme tahun 2016.

Banyak peserta menduga bahwa sosok berkepala singa tersebut adalah Narasimha perwujudan Dewa Wisnu saat membasmi raksasa Hiranyakasipu.

Menyingkap misteri Supriyadi lewat kesaksian keluarga di Blitar

Namun, penelitian tajam oleh arkeolog Ashar Murdihastomo mengungkap fakta berbeda. Arca tersebut tidak memegang chakra maupun sankha (kerang) dua atribut mutlak Narasimha.

Sebaliknya, arca ini justru dipenuhi ciri ikonografis ke-Siwa-an yang kental: memiliki mata ketiga (trinetra) di dahi, perut buncit (tundila), dan mengenakan tali kasta (upavita) berwujud ular. Di atas mahkotanya (jatamakuta), terpahat hiasan tengkorak dan bulan sabit (ardhacandrakapala).

Sosok unik ini akhirnya diidentifikasi sebagai Simha-Ganapati, perwujudan langka Dewa Ganesha berkepala singa yang duduk dengan posisi kedua telapak kaki saling bersentuhan (utkutikasana).

Bagaimana pengaruh sejarah Kerajaan Majapahit terhadap situs wisata di Blitar?

Pemujaan terhadap Simha-Ganapati bertujuan untuk menghadirkan kekuatan dan keberanian serta memberikan kepercayaan diri dalam menghadapi permasalahan dengan cara menghancurkan semua bentuk pikiran negatif.

2. Perisai Spiritual: Mitigasi Bencana Berbasis Iman

Nama “Penataran” sebenarnya adalah nama baru. Berdasarkan Prasasti Palah (1197 M), situs ini awalnya bernama Candi Palah.

Raja Kertajaya dari Kadiri membangun tempat ini bukan sebagai makam, melainkan sebagai “candi gunung” untuk membentengi kerajaan dari amuk Gunung Kelud.

Menelusuri jejak bersejarah stasiun Blitar: dari arsitektur dulu hingga tokoh – tokoh dibalik pembangunan rel kereta

Dalam prasasti tersebut, tersirat ungkapan kebahagiaan Kertajaya karena empat penjuru wilayahnya tidak hancur diterjang bencana.

Fungsi spiritual ini berlanjut hingga masa Majapahit. Raja Hayam Wuruk tercatat rutin mengunjungi Palah untuk memuja Hyang Acalapati, perwujudan Dewa Siwa sebagai Raja Penguasa Gunung.

Bagi nenek moyang kita, arsitektur candi adalah bentuk mitigasi bencana; sebuah permohonan kepada penguasa alam agar keseimbangan kosmos tetap terjaga.Mereka menggunakan spiritualitas sebagai perisai mistis untuk meredam kekuatan geologis yang dahsyat.

Lebih dari sekadar letusan: Wajah lain Gunung Kelud yang akan mengubah cara pandang Anda

3. Candi Brawijaya: Sang Penjaga Waktu dan Identitas Modern

Di halaman tengah, berdiri tegak sebuah bangunan kecil yang hampir seluruh strukturnya masih utuh. Masyarakat mengenalnya sebagai Candi Angka Tahun.

Nama ini merujuk pada angka tahun 1291 Saka (1369 M) yang terpahat jelas di ambang pintunya. Karena keutuhan bangunannya yang luar biasa dibandingkan struktur lain di sekitarnya, candi ini menjadi identitas visual yang ikonik.

Menariknya, masyarakat lokal lebih akrab menyebutnya sebagai “Candi Brawijaya”. Profil bangunan yang elegan dan tangguh ini kemudian diadaptasi menjadi inspirasi utama logo Komando Daerah Militer (Kodam) Brawijaya.

Konsolidasi Dinasti Umayyah: Stabilitas yang dibangun dari kontrol ketat

Hal ini membuktikan bahwa estetika dari abad ke-14 tidak pernah benar-benar mati; ia bertransformasi menjadi simbol kedaulatan dan kebanggaan nasional di era modern.

4. Estetika Candi Naga: Simbolisme Pengikat Langit dan Bumi

Melangkah lebih jauh ke halaman tengah, mata kita akan terpukau oleh keunikan Candi Naga.Sesuai namanya, tubuh candi ini seolah-olah “diikat” oleh pahatan naga raksasa yang melilit sekeliling dindingnya.

Naga tersebut disangga oleh tokoh-tokoh berbusana bangsawan, menciptakan kesan visual bahwa sang naga sedang menjaga kesucian bangunan tersebut.

Dunia Islam pasca Karbala: Kekuasaan berjalan, luka tetap ada

Secara arsitektural, Kompleks Penataran menggunakan konsep linier yang merupakan ciri khas candi Jawa Timur, berbeda dengan konsep konsentris (memusat) pada candi-candi di Jawa Tengah.

Tingkat kesakralannya disusun secara bertahap:

  • Halaman Depan: Area publik yang dijaga dua arca Dwarapala (reco pentung) dan Bale Agung.
  • Halaman Tengah: Area transisi tempat Candi Naga dan Candi Angka Tahun berada.
  • Halaman Belakang: Area paling suci yang menampung Candi Utama. Terdiri dari tiga teras setinggi tujuh meter, dindingnya dipenuhi relief epik Ramayana dan Kresnayana yang seolah “berbicara” melalui pahatan detailnya.

5. Petirtaan Suci: Ekosistem Kehidupan yang Abadi

Di sudut belakang yang paling tenang, terdapat sebuah petirtaan atau kolam pemandian kuno dengan air yang tetap jernih dan mengalir meski zaman telah berganti ribuan tahun.

Di dasar kolam yang berada di atas padmasana air ini, ribuan ikan warna-warni berenang dengan bebas. Ada tradisi unik di mana pengunjung sering melemparkan koin ke dalam kolam sebagai simbol permohonan keberuntungan.

Keberadaan petirtaan ini menegaskan bahwa candi bukan sekadar artefak batu yang mati. Ia adalah ekosistem yang menghubungkan manusia dengan sumber kehidupan.

Di masa lalu, air ini digunakan untuk penyucian diri sebelum memuja Hyang Acalapati. Kini, ia menjadi ruang rekreasi edukatif yang mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya alam dan warisan leluhur.

Menatap Masa Lalu untuk Masa Depan

Mengunjungi Candi Penataran bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana kita menghargai warisan bangsa.

Sejarah bukan untuk dilupakan, melainkan untuk diselamatkan agar kita tidak kehilangan arah di masa depan.

Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Berita Terbaru

×