Artikel
Beranda » Menyorot sisi lain dari kesenian ikonik khas Blitar

Menyorot sisi lain dari kesenian ikonik khas Blitar

pagelaran kesenian jaranan (sumber foto: web pemkot Blitar)
Blitar sering kali dikenal sebagai Bumi Bung Karno, sebuah label historis yang sangat kuat namun terkadang menutupi lapisan identitas budayanya yang jauh lebih kompleks. Di balik riuh rendah gamelan dan aroma kemenyan, tersimpan rahasia yang jarang terjamah oleh wisatawan biasa.
Banyak yang mengira kesenian tradisional Blitar hanyalah sekadar tarian mistis atau hiburan rakyat tanpa makna.
Padahal, setiap jengkal gerakannya adalah kode rahasia perjuangan, simbol perlawanan kelas, hingga bentuk adaptasi global yang cerdas.
Artikel ini akan mengajak Anda menyelami sisi lain kebudayaan Blitar yang intelektual, tak terduga, dan penuh daya hidup.

1. Jaranan Mataraman: Tipu Muslihat di Balik Simbol Kuda

Dalam kacamata umum, seorang penari jaranan adalah ksatria yang menunggangi kuda. Namun, Jaranan Mataraman dari Dusun Sanan menyuguhkan filosofi yang berlawanan dengan intuisi tersebut. Di sini, penari tidak sekadar menunggangi kuda; mereka adalah representasi dari kuda itu sendiri.
Peralihan perspektif ini adalah bentuk perlawanan kelas sosial yang lahir di masa kolonial Belanda. Saat itu, kuda adalah simbol status dan kekuasaan penjajah. Rakyat jelata dilarang menunggangi kuda, dan melakukannya dianggap sebagai pemberontakan terbuka. Maka, para seniman menciptakan sebuah tipu muslihat yang halus.
Mereka tidak menunggangi kuda fisik, melainkan menjadi kuda dalam tarian. Strategi ini memungkinkan rakyat mengekspresikan perlawanan identitas tanpa memicu kecurigaan otoritas Belanda.
Kuda dianggap sebagai simbol penjajahan oleh pihak Belanda. Sistem pembagian kelas menyatakan bahwa rakyat kecil yang menunggang kuda akan dianggap sebagai wujud perlawanan.
Kesenian ini pun berkembang bukan sekadar sebagai estetika, melainkan sebagai alat penguat kerukunan dan pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam, terutama pelestarian sumber air bagi penduduk setempat.

2. Reog Bulkiyo: Napas Islam dan Adrenalin Prajurit Diponegoro

Lupakan barongan raksasa yang berat seperti pada Reog Ponorogo. Reog Bulkiyo dari Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, tampil dengan kesederhanaan visual yang justru sarat akan narasi kepahlawanan.
Kesenian ini merupakan warisan murni dari prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke arah timur setelah kekalahan perang pada tahun 1825.
Bagi mereka, Reog Bulkiyo adalah media latihan perang yang disamarkan. Dinamika emosi para prajurit tersebut terekam dengan jelas dalam struktur musikalnya yang dibagi menjadi tiga fase dramatis.
• Bagian pembuka: Irama lambat yang menciptakan suasana tenang, khidmat, dan sakral. Fase ini menggambarkan kesiapan mental dan spiritual prajurit sebelum terjun ke medan laga.
• Adegan perang: Ritme beralih menjadi cepat dan intens, membangun adrenalin taktis yang menggambarkan dinamika konflik dan ketegangan di medan tempur.
• Bagian penutup: Tempo mencapai puncaknya dengan musik dinamis, menciptakan atmosfer heroik yang menggugah semangat kemenangan dan keteguhan iman.

3. Jaranan Tril: Status Panglima dan Identitas Tanpa Logam

Jaranan Tril adalah varian unik Blitar yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) sejak tahun 2021. Berbeda dengan model Kediri atau Tulungagung, Jaranan Tril menggambarkan prajurit andalan sekelas panglima.
Keagungan status ini justru dibalut dengan kesederhanaan instrumen yang tidak menggunakan gamelan logam, melainkan alat dari kayu dan kulit seperti kentongan, angklung, dan kendang.

4. Kendang Jimbe: Inovasi Global dari Tangan Lokal

Siapa sangka bahwa alat musik ikonik Blitar memiliki akar di Afrika Barat? Kendang Jimbe adalah contoh sukses bagaimana kreativitas lokal mampu melakukan adaptasi budaya lintas benua. Terinspirasi dari djembe Afrika, para pengrajin Blitar mulai memodifikasinya sejak tahun 1980-an dengan sentuhan Jawa yang kental.
Menggunakan kayu mahoni atau nangka dan kulit kambing, Kendang Jimbe Blitar memiliki nilai estetika tinggi berkat ukiran motif batik, flora, dan fauna. Lebih dari sekadar alat musik, industri ini telah menjadi motor ekonomi yang menyelamatkan ribuan kepala keluarga.
“Usaha kendang jimbe sangat mendorong perekonomian daerah, karena bisa menyejahterakan masyarakat kecil, menambah lapangan pekerjaan, dan mengurangi pengangguran,” ungkap Pak Wawan, seorang pemilik usaha kendang jimbe.

5. Jaranan Jur Ngasinan: “Hak Paten” Terbaru di Tahun 2024

Kekayaan budaya Blitar bukanlah sesuatu yang statis, melainkan terus berkembang. Bukti terbarunya adalah ditetapkannya Jaranan Jur Ngasinan dari Desa Sukorejo, Kecamatan Sutojayan, sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada September 2024.
Penetapan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah hak paten budaya yang didasarkan pada dokumen akademis yang kuat.
Status WBTb memberikan perlindungan hukum sekaligus senjata promosi yang ampuh bagi identitas daerah. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Blitar tidak hanya mewarisi masa lalu, tetapi terus berjuang secara intelektual untuk mendapatkan pengakuan resmi di tingkat nasional.
Melalui Jaranan Tril (2021), Reog Bulkiyo (2019), hingga Jaranan Jur Ngasinan (2024), Blitar membuktikan bahwa tradisi bisa tetap relevan jika didorong oleh inovasi masyarakatnya. Pelestarian budaya bukan hanya tugas pemerintah untuk mencatat data, melainkan tugas kita untuk memahami narasi di baliknya.

Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Berita Terbaru

×