Artikel
Beranda » Menyingkap misteri Supriyadi lewat kesaksian keluarga di Blitar

Menyingkap misteri Supriyadi lewat kesaksian keluarga di Blitar

Wisma Darmadi di Kota Blitar, rumah keluarga Supriyadi. Foto: tangkapan layar Instagram Pemkot Blitar

Pendahuluan: Teka-Teki Terbesar Revolusi Indonesia

Dalam lembaran sejarah revolusi kita, tidak ada nama yang lebih diselimuti kabut misteri selain Syodanco Supriyadi. Pemimpin pemberontakan tentara PETA (Pembela Tanah Air) di Batalyon Blitar pada 14 Februari 1945 ini adalah sosok pahlawan yang “hilang” tepat saat fajar kemerdekaan akan menyingsing.

Secara resmi, ia adalah Pahlawan Nasional dan Menteri Keamanan Rakyat pertama yang kursinya tetap kosong karena sang pemilik tak kunjung datang.

Selama puluhan tahun, publik disuguhi narasi mistis tentang sosoknya yang bisa menghilang atau sedang bertapa. Namun, sejarah menuntut kejujuran faktual. Melalui penelusuran di Wisma Darmadi, rumah peninggalan ayah Supriyadi, kita mendapati sudut pandang berbeda dari Suroto, adik kandung sang komandan.

Alasan mengapa nasi uceng adalah “jiwa” kuliner Blitar

Kesaksian ini bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya keluarga untuk menempatkan Supriyadi kembali pada khitahnya: sebagai pejuang manusiawi yang berani mati, bukan mitos yang menguap begitu saja.

Rahasia di Balik Rencana Tuban: Mengapa Pemberontakan Ini Berujung Tragedi?

Buku sejarah sekolah sering kali menggambarkan pemberontakan di Blitar sebagai letupan spontan para pemuda yang tak tahan melihat penderitaan rakyat. Namun, Suroto mengungkap sisi lain yang lebih strategis sekaligus tragis. Peristiwa itu sebenarnya berpangkal pada sebuah rencana besar yang gagal karena kebocoran intelijen.

Berikut adalah sintesis penting dari kesaksian Suroto mengenai peristiwa 14 Februari tersebut:

Rahasia di balik tarawih kilat Blitar yang tetap eksis selama 100 tahun

  •  Bukan Pemberontakan Spontan: Peristiwa ini awalnya direncanakan sebagai bagian dari “latihan gabungan” di Tuban. Rencana ini sudah terendus oleh intelijen Jepang yang menggunakan taktik “ambil ikannya tanpa membuat keruh airnya.

 

  • Vulnerabilitas Pasukan: Saat itu, Batalyon Blitar terdiri dari empat kompi. Tiga kompi dikirim ke Tuban untuk latihan tersebut, menyisakan hanya satu kompi—kompi yang dipimpin Supriyadi—di Blitar. Hal ini membuat posisi pasukan pemberontak sangat lemah dan mudah dijepit.

 

  • Peringatan Bung Karno yang Terabaikan: Sepekan sebelum meletusnya senjata, Supriyadi sempat menemui Bung Karno di Blitar. Bung Karno, yang memahami peta kekuatan militer saat itu, secara tegas tidak menyetujui rencana tersebut karena jumlah pasukan yang terlalu kecil. Namun, gelora jiwa muda Supriyadi tak terbendung; ia memilih jalan pedang meski risiko maut di depan mata.

 

Mengapa Blitar disebut “The land of kings”? ini sejarah dan maknanya

  • Percikan di Hotel Sakura: Sebelum mundur ke arah hutan, pasukan PETA melakukan serangan berani ke markas perwira Jepang di Hotel Sakura (sekarang menjadi kantor Dinas Pemuda dan Olahraga Blitar). Perang terbuka ini menewaskan empat orang Jepang dan tujuh kolaborator lokal.

Suroto menekankan bahwa ayah mereka, Raden Darmadi—yang merupakan anggota PETA angkatan pertama bersama tokoh besar seperti Soeharto dan Nasution—sebenarnya sudah mencium bahaya ini, namun tak kuasa menahan takdir sang putra.

Tragedi di Hutan Maliran: Titik Akhir Sang Pahlawan?

Narasi mistis yang menyebut Supriyadi “menghilang secara supranatural” dibantah keras oleh keluarga. Titik kunci dari tragedi ini adalah Hutan Maliran (Alas Maliran), Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. Di sinilah, menurut kesaksian lisan yang turun-temurun di keluarga Darmadi, sang Syodanco kemungkinan besar mengembuskan napas terakhirnya.

Pada pukul 07.30 WIB, pasukan PETA yang dipimpin Supriyadi terjebak dalam pengepungan maut. Militer Jepang tidak main-main dalam menumpas pembangkangan ini; mereka mengerahkan tank baja untuk memberondong pasukan darat yang hanya bersenjata ringan.

Candi penataran: situs besar di Jawa Timur yang masih kokoh

“Jam 07.30 WIB pagi di Hutan Maliran Ponggok dikepung rapet gak iso metu (dikepung rapat tidak bisa keluar), ditembaki. Ya mesti ada Supriyadi, dia yang memimpin,” tutur Suroto dengan nada yakin.

Keluarga meyakini bahwa dalam hujan peluru dan gempuran tank tersebut, Supriyadi tidak mungkin melarikan diri secara gaib. Ia gugur sebagai ksatria di tengah pasukannya, meski jasadnya hingga kini tak pernah ditemukan akibat pembersihan medan tempur oleh pihak Jepang.

Sikap Keluarga terhadap “Supriyadi Palsu” dan Mitos Mistis

Dari Garum tersenyum ke Nikita Jibril, jejak sejarah komunitas punk sejak 1996

Sejarah yang “bolong” sering kali diisi oleh oportunis atau orang-orang yang berhalusinasi. Keluarga besar Supriyadi pun jengah dengan fenomena munculnya sosok-sosok yang mengaku sebagai sang pahlawan.

1. Penolakan terhadap Narasi Mistis: Suroto menegaskan bahwa Supriyadi adalah pemuda berpendidikan modern, bukan tokoh klenik. “Kakak saya pejuang sejati, bukan orang sakti yang menghilang,” tegasnya.

2. Kecaman terhadap Konten Viral: Sri Astuti, keponakan Supriyadi (putri dari adik Supriyadi, R.W. Prodjo), mengecam keras konten viral di TikTok yang menampilkan sosok sepuh yang diklaim sebagai Supriyadi sedang merayakan ulang tahun ke-122. Secara matematis, klaim ini adalah pembohongan. Supriyadi lahir pada 13 April 1923; pada saat video itu viral (2022), ia seharusnya berusia 99 tahun, bukan 122.

Bumi Penataran 2026 hadirkan wajah baru seni dan budaya Blitar

3. Uji “Kata Kunci” Keluarga: Keluarga memiliki “rahasia internal” atau kata kunci tertentu yang hanya diketahui oleh lingkaran inti keluarga Darmadi. Hingga hari ini, puluhan orang yang mengaku Supriyadi tak satu pun mampu menjawab teka-teki keluarga tersebut.

“Tokoh yang beredar di video TikTok tersebut kami pastikan bukanlah Shodanco Supriyadi. Ini jelas-jelas pembohongan sejarah dan pembunuhan karakter,” tegas Sri Astuti.

Kritik terhadap Pemerintah: Menuntut Kejelasan Sejarah

Kekecewaan keluarga memuncak pada lambannya pemerintah dalam mengungkap fakta kematian Supriyadi. Ada sebuah kontras tajam yang dirasakan keluarga ketika membandingkan Indonesia dengan mantan penjajahnya.

Pagelaran seni tradisi meriahkan Paseban PIPP 2026

Suroto mempertanyakan mengapa bangsa Jepang yang kerap disebut “biadab” dalam sejarah, justru begitu gigih mencari tulang-belulang tentaranya yang gugur di pelosok Indonesia. Sementara Indonesia, yang membanggakan diri sebagai bangsa religius yang menghormati pahlawan, justru membiarkan sejarah pahlawannya terkubur dalam desas-desus tak berdasar.

Mengenai sikap diam sang ayah, Raden Darmadi, yang tidak mencari Supriyadi meski ia menjabat sebagai Bupati Blitar pasca-kemerdekaan, hal itu dijelaskan melalui filosofi “Mikul dhuwur mendem jero”. Ini bukan berarti melupakan, melainkan bentuk penghormatan tertinggi sekaligus menjaga marwah keluarga di tengah situasi politik yang sensitif saat itu. Namun, bagi generasi sekarang, “mendem jero” (mengubur dalam) tidak boleh diartikan sebagai membiarkan kebenaran sejarah lenyap.

Kesimpulan: Menghargai Jasa dengan Kebenaran

Mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di Hutan Maliran adalah utang sejarah negara ini kepada keluarga Supriyadi dan kepada bangsa Indonesia. Kita tidak butuh sosok Supriyadi yang bisa menghilang; kita butuh Supriyadi yang manusiawi—seorang pemuda yang gemetar namun tetap melangkah melawan tank baja demi martabat bangsanya.

Gado-Gado Yami Sari Ayu, hidden gem di Sananwetan

Menghormati Supriyadi berarti berhenti merawat mitos dan mulai berani menghadapi fakta pahit bahwa ia kemungkinan besar gugur dalam tugas. Dengan mengungkap kebenaran, kita memberikan penghormatan yang layak bagi sang Syodanco: bukan sebagai misteri, melainkan sebagai martir sejati revolusi.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan Ai

Berita Terbaru

×