Table of Contents−
Blitar bukan sekadar titik pemberhentian untuk berziarah ke makam Sang Proklamator. Jika Anda melangkah sedikit lebih jauh ke pasar-pasar tradisional atau sudut-sudut desanya, Anda akan menemukan bahwa kota ini adalah museum budaya yang hidup.
Kesuburan tanah vulkaniknya tidak hanya menghidupi sektor agraris, tetapi juga mewariskan tradisi yang berakar hingga zaman Kerajaan Majapahit. Seperti kerajinan gerabah dari Plumpungrejo yang tekniknya masih terjaga hingga kini.
Keripik Gadung: Camilan Lezat di Balik Keahlian Khusus
Pernahkah Anda membayangkan memakan sesuatu yang secara alami mengandung racun? Di Blitar, tantangan ini dijawab dengan sebuah mahakarya kuliner bernama Keripik Gadung. Berbahan dasar umbi pohon gadung, tanaman ini sejatinya memiliki racun alami yang bisa berakibat fatal jika diolah sembarangan.
Di sinilah letak keajaibannya. Dibutuhkan sifat ketelatenan (meticulousness) luar biasa sebuah nilai budaya yang melekat pada masyarakat Blitar untuk mengubah umbi berbahaya ini menjadi keripik yang renyah dan gurih.
Proses penghilangan racunnya melibatkan tahapan panjang yang hanya dikuasai oleh tangan-tangan ahli. Hasilnya? Sebuah tekstur yang sangat ringan di lidah dengan rasa gurih alami yang membuat siapa pun sulit untuk berhenti mengunyah.
Batik Tutur: Ketika Kain Bercerita
Batik Blitar memiliki nyawa yang berbeda melalui Batik Tutur. Identitas ini lahir dari motif kuno Afkomstig Uit Blitar yang kini kembali bersinar, salah satunya berkat upaya pelestarian di De Karanganjar Koffieplantage.
Di sana, Anda bahkan bisa melihat koleksi sejarahnya yang megah di Museum Noegroho. Kata “Tutur” dalam bahasa Jawa berarti cerita atau ucapan. Batik ini tidak sekadar bermain dengan estetika visual. Motif binatang dan tumbuhannya dirangkai sedemikian rupa untuk membentuk alur cerita moral.
Batik ini adalah instrumen diplomasi budaya yang cerdas. Melalui sehelai kain, wisatawan diajak untuk “mendengarkan” nasihat bijak para leluhur, menjadikannya oleh-oleh yang penuh kedalaman makna.
Wajik Kletik dan Jenang Besek: Filosofi Kemasan Tradisional
Blitar sangat menghargai material alami, dan hal ini tercermin kuat pada kudapan manisnya. Dua ikon yang wajib Anda bawa pulang adalah Wajik Kletik dan Jenang Ketan Besek.
Wajik Kletik memiliki tekstur unik yang sedikit kasar karena butiran ketannya yang masih utuh (kletik). Keunikan utamanya terletak pada bungkus kulit jagung kering yang memberikan aroma khas saat dibuka.
Berbeda dengan wajik, jenang memiliki tekstur yang sangat halus dan lembut. Keistimewaannya terletak pada taburan biji wijen di atasnya yang memberikan keseimbangan rasa gurih pada adonan manis. Jenang ini dikemas cantik dalam besek (anyaman bambu).
Penggunaan kulit jagung dan bambu bukan sekadar urusan estetika, melainkan simbol hubungan harmonis manusia dengan alam yang sangat dihargai oleh para pelancong modern.
Sambal Pecel: Kuliner Blitar yang Paling Dicari
Inilah comfort food yang menjadi buruan utama, terutama saat musim mudik. Sambal pecel Blitar memiliki reputasi legendaris karena konsistensi rasa pedas dan gurihnya. Di toko-toko seperti milik Ibu Hj. Suyati, Anda bisa memilih tingkat kepedasan sesuai selera. Mulai dari yang “ekstra pedas” yang membakar lidah hingga yang “tidak pedas” sama sekali. Harganya pun sangat bersahabat, berkisar antara Rp13.000 hingga Rp30.000 tergantung ukuran kemasan.
Blitar menawarkan lebih dari sekadar pemandangan; ia menawarkan rasa dan cerita melalui produk lokalnya. Dari keripik yang membutuhkan ketelatenan tinggi hingga kain yang memberikan nasihat, setiap oleh-oleh adalah potongan kecil dari jiwa masyarakatnya yang gigih dan kreatif.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

