Artikel
Beranda » Mengulas histori Kecamatan Gandusari di Blitar

Mengulas histori Kecamatan Gandusari di Blitar

(Wisata Rambut Monte) Gambar oleh Muniroh di Gmaps
Jika kita melintasi bagian utara Kabupaten Blitar, kita akan menemukan sebuah wilayah yang menjadi gerbang menuju kemegahan lereng Gunung Kelud.
Gandusari bukan sekadar titik di peta administrasi Jawa Timur, melainkan sebuah hamparan tanah tempat sejarah, geologi, dan mitologi terjalin dengan harmonis.
Sebagai sebuah desa yang juga menjadi pusat kecamatan, Gandusari menyimpan cerita tentang ketangguhan manusia di tengah alam vulkanik yang dinamis.

Profil Singkat Kecamatan Gandusari

Secara geografis, Desa Gandusari menempati posisi strategis di utara Blitar dengan luas wilayah sekitar 2,16 km². Kehidupan di desa yang dihuni oleh sekitar 3.300 jiwa ini dipagari oleh batas-batas alam dan pemukiman yang asri.

Utara: Desa Gadungan

Selatan: Desa Tambakan

Barat: Desa Sukosewu

Di balik Kota Blitar: 5 cerita menarik dari Sanankulon yang penuh sejarah dan tradisi

Timur: Desa Butun

Asal-Usul Nama Gandusari

Narasi tentang Gandusari selalu berpusat pada sosok Mbah Suko Driyo, seorang tokoh dari Mataram (Yogyakarta) yang dipercaya sebagai pembuka lahan (babat alas).

Konon, rombongan beliau pertama kali menjejakkan kaki di wilayah ini pada hari Selasa Wage di bulan Suro. Melalui tradisi lisan yang turun-temurun, terdapat empat versi populer mengenai penamaan wilayah ini.

Mengenal sejarah dan geografis Kecamatan Talun, Blitar

1. Versi Gandu-soro

Berasal dari kata Gandu yang berarti tulang lutut (patella) dan Soro yang berarti sengsara. Kisah ini bermula saat Mbah Suko Driyo sedang menebang pohon.

Nahas, lututnya terkena tangkai kapak hingga beliau mengalami kesakitan yang luar biasa. Seiring waktu, nama Gandusoro bergeser menjadi Gandusari agar lebih luwes diucapkan.

2. Versi Gondangsari

Saat mencari tempat bermukim, Mbah Suko Driyo mendapatkan petunjuk gaib untuk berjalan ke selatan lereng Kelud hingga menemukan pohon Gondang raksasa.
Pohon tersebut ternyata membawa berkah melimpah kayunya digunakan untuk membangun padepokan dan buahnya menjadi sumber pangan. Sari-sari kebaikan dari pohon inilah yang melahirkan nama Gondangsari, yang kemudian meluluh menjadi Gandusari.

3. Versi Gadungsari

Versi ini menceritakan kekaguman rombongan pembuka lahan saat menemukan tanaman gadung dalam jumlah banyak dengan ukuran yang luar biasa besar, jauh di atas ukuran normal.
Fenomena alam ini dianggap sebagai ciri khas wilayah tersebut sehingga dinamai Gadungsari.

4. Versi Gandulsari

Nama ini lahir dari peristiwa erupsi Gunung Kelud. Saat Mbah Suko Driyo mengungsi ke wilayah yang lebih landai, beliau melihat sisa-sisa lahar atau lumpur kering (endut garing) yang menggantung (gandul) di dahan-dahan pohon.
Beliau meyakini bahwa endut garing yang menggantung itu membawa sari-sari yang akan menyuburkan tanah di masa depan.

Kondisi Geografis dan Kesuburan Tanah

Terletak di ketinggian +303 mdpl, Gandusari adalah “anak kandung” Gunung Kelud. Lapisan tanah di sini merupakan buku sejarah vulkanik yang mencatat setiap letusan besar sejak zaman kuno. Aktivitas vulkanik ini memberikan dua jenis tanah yang menentukan corak ekonomi dan budaya setempat.
Tanah Regosol
Tanah muda berwarna kelabu kekuningan ini bersifat gembur dan sangat subur. Di atas tanah inilah komoditas pangan seperti padi dan sayuran tumbuh subur. Menariknya, tradisi penanaman tembakau di tanah ini memiliki akar sejarah yang panjang, yakni sejak wilayah ini masuk dalam jurisdiksi kolonial Belanda pada abad ke-17.
Tanah Latosol (Laterit)
Berbeda dengan regosol, tanah ini lebih tua, berwarna merah kekuningan, dan banyak yang telah membatu. Batu-batu dari lapisan latosol inilah yang menjadi sumber material utama bagi pembangunan candi-candi megah di seantero Blitar. Selain menjadi penyedia bahan bangunan suci, tanah ini sangat cocok untuk perkebunan kopi, cokelat, dan cengkeh.

Jejak Sejarah Klasik di Desa Gadungan

Bersebelahan dengan Gandusari, Desa Gadungan berdiri sebagai saksi bisu kejayaan masa klasik. Kawasan di kaki Gunung Gedang ini merupakan pusat spiritual penting di masa lalu, yang dibuktikan dengan banyaknya temuan arkeologis dari dua era kerajaan besar.
Salah satu permata sejarahnya adalah Candi Wringin Branjang. Nama “Wringin” sendiri merujuk pada kondisi saat candi ini ditemukan, yakni terbelit oleh pohon serupa beringin.
Candi berbahan andesit ini memiliki keunikan pada orientasinya yang menghadap ke selatan (Gunung Kelud), menunjukkan bahwa bangunan ini kemungkinan besar diperuntukkan bagi pemujaan dewa-dewa yang bersemayam di puncak gunung suci tersebut.
Eksplorasi di wilayah ini juga mengungkap kesinambungan sejarah yang luar biasa.

Situs Gadungan (Gunung Gedang)

Menyimpan tugu berinskripsi angka tahun 1231 Saka (1309 Masehi), yang membawa kita kembali ke masa awal pemerintahan Raja Jayanegara dari Majapahit.

Kekunaan Dermosari

Area ini ditemukan inskripsi berangka tahun 1172 Saka (1250 Masehi), jejak dari era Kerajaan Singhasari di bawah kepemimpinan Raja Wisnuwardhana.

Artefak Tersebar

Dusun Rotorejo, mempunyai arca tokoh berlengan empat yang dikenal sebagai Mbah Gimbal, di mana tangan kanan belakangnya terlihat memegang tasbih.
Sementara itu, di Sukomulyo, terdapat sebuah Yoni yang dianggap memiliki ragam hias paling kaya di antara temuan lainnya, berdampingan dengan fragmen terakota dan batu kapur yang kemungkinan didatangkan dari wilayah Blitar Selatan.

Pesona Alam dan Mitologi Rambut Monte

Kunjungan ke Gandusari tidak akan lengkap tanpa menyinggung Rambut Monte di Desa Krisik/Semen. Destinasi yang mulai dikelola swasta sejak 1976 sebelum diambil alih pemerintah daerah pada 1996. Menyuguhkan telaga biru jernih dengan sumber air yang memancar dari dasarnya.
Namun, daya tarik utamanya adalah legenda yang menyelimutinya. Konon, nama ini berasal dari sosok Mbah Monte yang terlibat dalam pertempuran hebat melawan Rahwana dan seekor naga. Dalam legenda tersebut, Mbah Monte mengutuk lawan-lawannya menjadi Candi Rambut Monte.
Sementara itu, Ikan Sengkaring yang menghuni telaga dipercaya sebagai wujud murid-murid atau prajurit Mbah Monte yang dikutuk karena lalai menjalankan perintah untuk menjaga candi.

Hingga hari ini, masyarakat setempat tetap mengeramatkan ikan-ikan tersebut, sehingga kelestariannya terjaga dari tangan-tangan jahil.

Mengenal lebih dekat Srengat: cerita sejarah, budaya, dan masa depannya


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Berita Terbaru

×