Artikel Pop Culture
Beranda » Mengapa celana baggy kembali merajai tren fashion?

Mengapa celana baggy kembali merajai tren fashion?

Illustrasi tiga remaja yang memakai baggy jeans (Ilustrasi dihasilkan dengan bantuan Gemini AI)
Jika Anda meluangkan waktu sejenak untuk mengamati dinamika di koridor pusat perbelanjaan atau coffeeshop populer di Jakarta, Bandung, hingga Surabaya, Anda akan menangkap sebuah transformasi siluet yang dramatis.
Era dominasi pakaian ketat yang membatasi kini telah resmi digantikan oleh “volume teatrikal” dari celana baggy. Pemandangan anak muda dengan kaos band favorit dan keychain andalan yang unik menjuntai di saku kini menjadi pemandangan urban yang lumrah.
Fenomena kembalinya celana dengan potongan rileks ini bukan sekadar siklus mode biasa; ini adalah antitesis dari skinny jeans yang telah berkuasa selama dua dekade. Namun, apa yang membuat gaya dari era 80-an dan 90-an ini bertransformasi menjadi simbol status dan alat ekspresi diri paling mutakhir bagi Gen Z di tahun 2025? Mari kita bedah lapisan budaya di baliknya.

Kenyamanan Tanpa Batas: Bukan Sekadar Tren, Tapi Kebutuhan 

Dunia mode sedang menyaksikan pergeseran filosofis yang fundamental: matinya doktrin “menderita demi gaya.” Bagi Generasi Z, keseimbangan antara estetika dan fungsionalitas adalah harga mati. Celana baggy menawarkan “kebebasan bergerak” yang menjadi kebutuhan primer dalam mobilitas tinggi masyarakat urban.
Data menunjukkan bahwa generasi ini secara kolektif mengadopsi comfort wear sebagai seragam harian. Pergeseran ini bukan sekadar asumsi, melainkan suara nyata dari para pemakainya. Chika (12), seorang remaja yang kini sepenuhnya beralih ke siluet longgar, menjelaskan:
“Menurut aku, skinny jeans bikin nggak nyaman, terutama kalau dipakai seharian. Aku lebih suka yang longgar dan tetap stylish.”
Sentimen ini diperkuat oleh Meta (13), yang menilai bahwa model ketat sudah tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman yang dipengaruhi oleh para influencer yang memprioritaskan kenyamanan tanpa mengorbankan visual.

Nostalgia yang Menular: Dari Hip-Hop 80-an hingga Demam Y2K 

Kebangkitan celana baggy adalah sebuah benang merah kebudayaan yang panjang. Tren ini berakar kuat pada subkultur hip-hop Amerika Serikat tahun 1980-an, di mana pionir seperti Run-D.M.C., LL Cool J, hingga N.W.A mengenakan pakaian oversized sebagai bentuk pemberontakan terhadap norma sosial dan pernyataan identitas jalanan.
Memasuki tahun 2025/2026, kita menyaksikan “90s revival” yang bersenyawa dengan estetika Y2K yang viral. Bagi generasi saat ini, era awal 2000-an melambangkan optimisme dan ekspresi diri yang tanpa kompromi. Media sosial seperti TikTok dan Instagram berperan sebagai mesin “nostalgia digital” yang sangat kuat.
Melalui algoritma, memori masa lalu dikonstruksi ulang menjadi bahasa visual yang universal, membuat tren ini menyebar lintas benua hanya dalam hitungan jam. Gaya masa lalu ini tidak lagi ditiru secara mentah, melainkan diinterpretasikan kembali dengan sentuhan yang lebih cerdas dan wearable.

Efek Hallyu: K-Pop sebagai Katalis Utama di Indonesia 

Indonesia memiliki posisi strategis dalam ekosistem mode global berkat pengaruh masif dari Korean Wave (Hallyu). Sebagai negara dengan basis penggemar K-Pop terbesar—menduduki peringkat ke-3 di Twitter dan menyumbang 9.9% dari total penayangan video K-Pop di YouTube secara global—pengaruh gaya para idol sangat menentukan arah pasar.
Gaya oversized sering kali dipopulerkan oleh grup megabintang seperti Blackpink. Hal ini terlihat nyata saat konser mereka di Jakarta, di mana para penggemar (BLINK) tampil maksimal dengan mix and match warna hitam dan pink yang ikonik, didominasi oleh penggunaan baggy pants.
Tren ini pun meresap ke komunitas dance cover, di mana pakaian longgar membantu mereka tampil lebih kharismatik dan energik saat menirukan koreografi idola.

Hijab-Friendly Synthesis

Para remaja kreatif melakukan adaptasi cerdas dengan memadukan gaya baggy ala Korea dengan hijab. Penggunaan manset atau teknik layering menjadi solusi kreatif untuk menjawab dua tantangan sekaligus, yakni kenyamanan dan kesopanan (modesty). Ini membuktikan bahwa tren global dapat bersinergi harmonis dengan nilai-nilai lokal Indonesia.

Fleksibilitas Urban: Investasi Fashion yang Berkelanjutan 

Bagi masyarakat urban Indonesia yang semakin teredukasi, celana denim baggy adalah investasi yang “bijak memilih.” Selain praktis untuk berbagai konteks—mulai dari lingkungan kerja kreatif, pertemuan sosial, hingga acara keluarga—denim memiliki daya pakai jangka panjang.
Karena tidak terpaku pada “anatomi yang membatasi”, celana baggy tetap nyaman digunakan meskipun terjadi perubahan pada bentuk tubuh pemakainya, menjadikannya pilihan fashion yang lebih berkelanjutan.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Mengenal kebiasaan “ngopi” kalangan gen z

×