Artikel
Beranda » Mengapa Blitar disebut “The land of kings”? ini sejarah dan maknanya

Mengapa Blitar disebut “The land of kings”? ini sejarah dan maknanya

Foto: Muhammad Thoha Ma'ruf/unsplash

Di bawah bayang-bayang Gunung Kelud yang perkasa, Blitar bukan sekadar titik koordinat di peta Jawa Timur. Ia adalah sebuah tempat persemayaman agung, sebuah fragmen waktu di mana batu-batu candi berbisik tentang kejayaan masa lalu.

Dalam sejarah, Blitar disebut sebagai “Tanah Para Raja”—atau Tanah Para Raja—karena menjadi tempat pertemuan sakral bagi para penguasa terbesar di Nusantara, mulai dari Kediri, Singasari, hingga puncak kejayaan Majapahit.

Sebagai seorang penjelajah budaya, mengunjungi Blitar adalah upaya menyusuri kembali urat nadi sejarah. Di sinilah para raja mencari perlindungan spiritual, membangun monumen untuk menaklukkan alam, dan pada akhirnya, memilih tanah ini sebagai tempat peristirahatan abadi.

Alasan mengapa nasi uceng adalah “jiwa” kuliner Blitar

Etimologi dan Filosofi: Dari Balitar hingga Bumi Laya Ika Tantra Adi Raja Secara historis

teks kuno Nagarakretagama dan naskah perjalanan Bujangga Manik menyebut daerah ini sebagai “Balitar.” Para ahli sejarah berpendapat bahwa nama ini berasal dari kata “Bale Altar”, yang merujuk pada banyaknya altar pemujaan yang tersebar di wilayah tersebut sebagai tempat peribadatan kerajaan.

Namun, frasa filosofis “Bumi Laya Ika Tantra Adi Raja”, yang diciptakan oleh Almarhum Bambang In Mardiono (Mbah Gudel), pendiri Blitar Heritage Society, memperkuat identitas spiritual Blitar kontemporer. Makna per katanya mencerminkan visi agung sebuah wilayah:

• Bumi: tanah yang digunakan sebagai tempat tinggal.
• Laya: Kekuatan, energi, atau tempat bersemayam.
• Ika: Satu atau kesatuan yang utuh.
• Tantra: Ajaran, ilmu, atau tatanan nilai.
• Adi Raja: Raja yang mulia atau penguasa tertinggi.

Rahasia di balik tarawih kilat Blitar yang tetap eksis selama 100 tahun

Secara utuh, filosofi ini bermakna “Tanah Agung Tempat Bersemayamnya Ajaran Satu Kekuatan Raja” Ini adalah sebuah pengingat bahwa kemakmuran Blitar bukan hanya hasil kekuatan fisik, melainkan sinergi antara kepemimpinan yang bijaksana dengan integritas spiritual dan moral.

Jejak Kerajaan: Titik Temu Tiga Dinasti

Blitar tidak pernah berdiri sebagai kerajaan mandiri, namun perannya sebagai dharma lepas (wilayah suci yang bebas pajak) menjadikannya prioritas bagi penguasa pusat.

1. Era Kediri: Pada tahun 1197 Masehi, Raja Srengga (Kertajaya) membangun Prasasti Palah, yang menetapkan Blitar sebagai tempat suci untuk memuja Sang Hyang Batara Palah dan meminta perlindungan dari letusan Gunung Kelud.

2. Era Singasari: Raja Kertanegara melanjutkan pembangunan di Blitar dengan membangun Candi Naga pada tahun 1286 M (1208 Saka) sebagai penghormatan kepada kekuatan bumi.

Ramadan 2026 di Blitar: jadwal imsak, war lapak takjil, dan pangan murah

3. Era Majapahit: Raja Hayam Wuruk menjabat sebagai raja yang paling penting di Blitar pada masanya. Dalam Negarakretagama, Mpu Prapanca mencatat kunjungan rutin Sang Raja ke “Palah” (Candi Penataran) untuk melakukan pemujaan kepada Sang Hyang Acalapati (Dewa Gunung).

Bahkan, status Kabupaten Blitar sebagai daerah swatantra secara resmi diberikan oleh Raja Jayanegara pada hari Minggu Pahing, 5 Agustus 1324 (1246 Saka) sebagai anugerah atas kesetiaan penduduk desa Bedander.

Candi Penataran: Labirin Batu dan Mitologi yang Hidup

Candi Penataran, yang secara historis dikenal sebagai Candi Palah, adalah kompleks Hindu Siwaitis terbesar di Jawa Timur. Setelah sempat “menghilang” ditelan hutan dan material vulkanik, situs ini kembali dilaporkan keberadaannya oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1815.

Dari Garum tersenyum ke Nikita Jibril, jejak sejarah komunitas punk sejak 1996

Sebagai “Candi Gunung,” arsitekturnya mengikuti pola linear—semakin ke belakang, semakin tinggi dan sakral. Uniknya, relief di sini menggunakan gaya Wayang, di mana figur manusia digambarkan pipih dan stilasi, sangat berbeda dengan relief gaya India yang lebih berisi di Jawa Tengah.

Candi Penataran Blitar: Ikon Per Halaman

Halaman Depan
Bangunan utama Bale Agung jadi tempat musyawarah pendeta zaman dulu, ditemani Candi Candra Sengkala (Candi Brawijaya) sebagai ikon simbol Kodam V Brawijaya.​

Halaman Tengah
Candi Naga menonjol dengan relief naga mengelilingi, disangga 9 tokoh berbusana raja—simbol perlindungan ilahi dari Majapahit.​

Menyingkap misteri Supriyadi lewat kesaksian keluarga di Blitar

Halaman Belakang
Candi Utama berbentuk piramida berundak paling sakral, penuh relief epik Ramayana dan Kresnayana dibaca prasawiya (berlawanan jarum jam).

Rahasia di Patirtan: Pesan Moral dalam Fabel

Jangan lewatkan bagian tenggara kompleks, di mana terdapat sebuah Patirtan (kolam pemandian suci) berangka tahun 1337 Saka. Di dindingnya terdapat relief cerita yang brilian.

Kisah Kura-kura dan Bangau yang mengajarkan bahwa “diam adalah emas” atau kisah Buaya dan Kerbau tentang pengabdian dapat ditemukan di sana. Cerita-cerita ini memberikan pelajaran kepada nenek moyang agar setiap orang yang membersihkan diri juga membersihkan batinnya dengan moralitas.

Bumi Penataran 2026 hadirkan wajah baru seni dan budaya Blitar

Pisowanan Ageng: Manifestasi Budaya 700 Tahun

Setiap tahun, tepatnya pada tanggal 5 Agustus, Blitar merayakan hari jadinya melalui upacara adat Pisowanan Ageng. Diadakan di Pendapa Agung Ronggo Hadi Negoro, acara ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah “pintu masuk” menuju atmosfer Majapahit.

Anda akan menyaksikan kirab pusaka berupa kitab sejarah dan panji-panji yang dikawal oleh pasukan Bhayangkara Majapahit dengan busana tradisional lengkap.

Prosesi ini bertujuan menyerap spirit nilai luhur masa lalu untuk dijadikan energi pembangunan masa depan. Kehadiran elemen-elemen tradisional ini menegaskan bahwa Blitar tetap setia pada akarnya meski zaman telah berganti.

Pagelaran seni tradisi meriahkan Paseban PIPP 2026

Melengkapi Perjalanan: Kuliner Khas “Tanah Para Raja”

Setelah lelah bereksplorasi, manjakan lidah Anda dengan cita rasa otentik Blitar yang kaya rempah namun ramah di kantong:
1. Pecel Blitar: Cobalah Warung Pecel Mbok Bari yang legendaris sejak 1964. Sambal kacangnya memiliki keseimbangan rasa pedas dan manis yang pas.

2. Soto Daging Blitar: Untuk sarapan, Soto Simpang Lawu menawarkan kuah gurih transparan dengan irisan daging yang empuk.

3. Lodho Ayam: Ayam panggang yang dimasak perlahan dalam santan kental berbumbu rempah. Tekstur dagingnya sangat lembut (lodho).

Gado-Gado Yami Sari Ayu, hidden gem di Sananwetan

4. Sego Uceng: Ikan sungai kecil yang digoreng krispi, sangat nikmat disantap dengan sambal terasi di Warung Barokah Pak Sabar.

5. Es Pleret: Minuman manis penyegar dahaga berisi bola-bola tepung beras, disiram santan dan juruh (sirup gula merah).

Panduan Wisata: Itinerary “The Land of Kings”

Untuk pengalaman yang efisien dan bermakna, ikuti rute perjalanan berikut:

• Pagi (08.00 – 10.30): Awali dengan mengunjungi Istana Gebang (rumah masa kecil Bung Karno) yang tak jauh dari stasiun, lalu lanjutkan ke Makam Bung Karno. Jelajahi museum dan perpustakaannya yang ikonik.

• Siang (12.00 – 13.30): Makan siang santai dengan menu Sego Uceng atau Pecel di pusat kota.

• Sore (14.00 – 16.30): Berkendara 12 km ke utara menuju Candi Penataran. Luangkan waktu untuk mengamati relief di Patirtan dan Candi Utama sebelum kompleks ditutup pukul 17.00 WIB.

Tips Belanja di Pasar Suvenir MBK: Pintu keluar Makam Bung Karno akan membawa Anda melewati “labirin” pasar suvenir. Anda bisa mendapatkan pernak-pernik mulai dari Rp2.000 hingga batik seharga Rp100.000-an. Jangan ragu untuk menawar, terutama jika membeli dalam jumlah banyak, dan selalu waspadai barang bawaan Anda di tengah keramaian.

Penutup: Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu

Blitar bukan sekadar destinasi; ia adalah sebuah perjalanan spiritual. Gelar “Bumi Laya Ika Tantra Adi Raja” bukan sekadar slogan, melainkan napas yang menghidupi setiap sudut kota ini.

Dari relief fabel di Patirtan hingga gema doa di pendapa, Blitar mengundang kita untuk berhenti sejenak, menghargai kekayaan moral para leluhur, dan pulang dengan semangat baru. Blitar adalah bukti nyata bahwa sejarah tidak pernah benar-benar mati; ia hanya menunggu untuk dikunjungi kembali.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Berita Terbaru

×