Blitar – Rencana besar Kabupaten Blitar untuk menghidupkan kembali kompetisi sepak bola tingkat pelajar pada tahun 2026 menghadapi tantangan berat.
Di tengah optimisme memutus rantai kegagalan regenerasi, dunia olahraga daerah ini masih terhimpit persoalan klasik: infrastruktur yang minim dan sengkarut manajemen anggaran.
Langkah revitalisasi ini krusial mengingat prestasi olahraga Kabupaten Blitar baru-baru ini disorot tajam.
Pada Porprov Jatim 2025, posisi kontingen Kabupaten Blitar melorot ke peringkat 14 dari sebelumnya peringkat 8 pada tahun 2023.
Penurunan prestasi ini disinyalir berkaitan erat dengan mampetnya kompetisi usia dini yang sistematis.
Fatatoh Hironi Ulya, Manajer Blitar Putra sekaligus Ketua Harian KONI Kabupaten Blitar, menegaskan bahwa ketiadaan kompetisi selama bertahun-tahun membuat 28 Sekolah Sepak Bola (SSB) di Blitar kehilangan arah.
Selain itu, fasilitas fisik di wilayah pelosok, terutama Blitar bagian selatan, sangat jauh dari standar kelayakan.
”Ini memang kita di wilayah selatan ini kita terbentur dengan fasilitas. Kalau hujan berlumpur, kalau kering berdebu dan pinggirnya jurang,” ujar Fatatoh dalam diskusi di kanal YouTube Bakul Kumpo.
Menurutnya, tanpa lapangan yang layak, teknik dasar pemain muda tidak akan pernah mencapai level profesional.
Data menunjukkan bahwa selain masalah fisik, Blitar juga mengalami krisis tenaga kepelatihan.
Sebagian besar pelatih di SSB lokal belum mengantongi lisensi C atau B PSSI, yang merupakan standar minimal untuk pembinaan usia muda yang benar.
Hal ini menyebabkan pola latihan di tingkat akar rumput sering kali hanya mengejar kemenangan jangka pendek (trofi) daripada pengembangan kemampuan individu.
Di sisi lain, persoalan anggaran juga menjadi ganjalan.
Meski KONI Kabupaten Blitar menerima dana hibah sebesar Rp 2,7 miliar dari APBD 2025, pemanfataannya masih tersedot besar untuk biaya kepesertaan ajang provinsi.
Namun, Fatatoh memastikan bahwa program kompetisi SMP tahun 2026 akan tetap menjadi prioritas untuk menjaring bibit unggul yang selama ini “tersembunyi” di sekolah-sekolah umum.
”Tahun 2026 jangan khawatir adik-adik, insyaallah nanti akan kita selenggarakan untuk tingkat SMP karena ini sudah lama vakum,” tegas Fatatoh yang juga menjabat sebagai anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar tersebut.
Kolaborasi antara PSSI, KONI, dan Dinas Pendidikan diharapkan mampu menyambung kembali rantai pembinaan yang terputus, sehingga talenta Blitar tidak lagi hanya menjadi penonton di kasta tertinggi sepak bola nasional.

