Artikel
Beranda » Membaca tanda-tanda dari Sungai Brantas di Kediri

Membaca tanda-tanda dari Sungai Brantas di Kediri

Gambaran kondisi jalan (Foto: polri.co.id)

Bagi warga Kediri, Taman Brantas adalah simbol modernitas sebuah oase estetis yang menawarkan ruang terbuka hijau di tengah hiruk-pikuk kota.

Namun, sebagai jurnalis yang lama memantau infrastruktur, saya melihat kontradiksi yang mengerikan di sini. Di balik bangku-bangku taman yang rapi, Sungai Brantas sebenarnya sedang “diuliti” oleh aktivitas manusia hingga ke titik nadir.

Sungai ini bukan sekadar aliran air; ia adalah urat nadi ekonomi. Namun, tahukah Anda bahwa dasar sungai ini telah “hilang” belasan meter?

Ramadan 2026: Ide tempat buka puasa bersama di Kediri yang layak dicoba

Kerusakan sistemik ini telah mencapai titik kritis yang mengancam jembatan, bendungan, hingga sawah-sawah yang memberi kita makan. Mari kita bedah realitas pahit yang tersembunyi di balik tenangnya permukaan Brantas.

1. Dasar Sungai yang “Hilang” Setinggi Gedung 4 Lantai

Data investigasi dari Perum Jasa Tirta I mengungkap fakta yang merontokkan akal sehat: dasar Sungai Brantas, mulai dari Kabupaten Kediri hingga Jombang, telah anjlok sedalam 12 meter pada tahun 2010.

Untuk memberikan konteks, pada tahun 1991, kedalaman sungai ini hanya berkisar 3 hingga 4 meter.

Pasar Kediri dan Ramadan 2026: menghadapi pedasnya harga cabai dengan bijak

Penurunan drastis setinggi gedung berlantai empat ini adalah akibat langsung dari penambangan pasir liar, baik secara manual maupun mekanik, yang dilakukan tanpa henti.

Aktivitas ini secara sistematis menguras “daging” sungai, meninggalkan lubang menganga yang merusak keseimbangan morfologi air dan menghancurkan fondasi segala sesuatu yang berdiri di atasnya.

2. Infrastruktur yang Menjerit: Tragedi Jembatan dan Bendungan

Dampak dari hilangnya dasar sungai ini bukan lagi sekadar ancaman masa depan, melainkan bencana yang sudah terjadi. Berdasarkan laporan teknis, terdapat sedikitnya 74 titik kerusakan fatal pada tanggul, plengsengan, dan bendungan.

Perayaan Imlek di Kediri: Lebih dari sekadar lampion merah dan barongsai

Jika menghitung jembatan, jalan, dan saluran irigasi, jumlahnya membengkak hingga ratusan.

Salah satu bukti nyata adalah kolapsnya Jembatan Mrican di Kota Kediri. Amblesnya fondasi jembatan ini melumpuhkan perdagangan dan memaksa warga memutar sejauh 10 kilometer, menambah beban ekonomi yang tidak sedikit.

Di sisi lain, Bendungan Mrican kini dalam kondisi kritis dengan fondasi yang menggantung setinggi 4 meter dari permukaan air. Kepala Sub Divisi Jasa Asa II Perum Jasa Tirta I, Maryadi, memberikan peringatan keras:

Dari Viral Menjadi berkah: Kisah “Macan Gemoy” Balongjeruk yang menggerakkan ekonomi desa

“Ini baru dampak dari satu infrastruktur yang rusak. Padahal, total ada ratusan infrastruktur rusak seperti tiang pancang Bendungan Waru Turi dan gerowongnya fondasi Bendungan Jati Mlerek di Jombang.”

Jika bendungan ini menyerah, ribuan hektar sawah di Kediri dan Nganjuk akan berubah menjadi padang gersang.

3. Logika Neglect: Mengapa “Retak Rambut” Bisa Menghancurkan Ekonomi?

Ada benang merah antara ambruknya infrastruktur sungai dan filosofi pemeliharaan jalan yang sering kita abaikan. Mengacu pada Manual Perbaikan Standar Bina Marga, sebuah infrastruktur memiliki “titik kritis” di mana kerusakan kecil harus segera ditangani sebelum meledak menjadi bencana finansial.

Cerita di balik dua gelar juara yang mengangkat nama Persik Kediri

Inilah “Logika Negelct” atau pembiaran: penambangan pasir awalnya dianggap masalah kecil, sama seperti hair crack (retak rambut) atau pothole (lubang kecil) di aspal.

Namun, manual teknis menegaskan bahwa kerusakan kecil akan meningkat dengan kecepatan eksponensial akibat cuaca dan beban.

Kegagalan kita melakukan pemeliharaan rutin preventif pada Sungai Brantas kini menuntut biaya pemulihan yang mencapai triliun rupiah sebuah angka yang jauh melampaui biaya pencegahan di masa lalu.

Cara memilih penginapan ideal di Kediri: rekomendasi & tips

4. Sains di Balik Perbaikan: Lebih dari Sekadar Menutup Lubang

Infrastruktur yang tahan lama membutuhkan presisi sains, bukan sekadar tambal sulam. Manual Bina Marga merinci kompleksitas ini agar perbaikan tidak menjadi sia-sia:

  • OMC (Optimum Moisture Content): Kunci kepadatan jalan bukan pada banyaknya material, tapi pada kadar air yang tepat. Jika material terlalu kering atau basah saat dipadatkan, ia tidak akan mencapai kepadatan maksimal dan akan cepat berlubang kembali.
  • Metode P5 (Penambalan Lubang): Untuk lubang sedalam > 50 mm, perbaikan adalah proses multi-lapis yang menuntut alat berat. Lapisan dasar harus dipadatkan dengan Vibrating Rammer (stamping), sedangkan lapisan agregat di atasnya wajib menggunakan Vibrating Plate Tamper sebelum akhirnya ditutup aspal dingin dan dipadatkan kembali.
  • Kegemukan Aspal (Bleeding): Aspal yang terlihat mengkilat dan licin (Kode Kerusakan 119) sebenarnya adalah tanda kegagalan campuran. Solusinya bukan dibiarkan, melainkan menggunakan Metode P1, yaitu penebaran pasir kasar dengan ketebalan presisi > 10 mm untuk mengembalikan friksi jalan.

5. Ironi Taman Brantas: Estetika di Tengah Risiko Kehancuran

Di sinilah letak ironi terbesar: Pemerintah Kota Kediri mengalokasikan Rp 8,5 miliar untuk membangun Taman Brantas yang dirancang oleh Ridwan Kamil. Di satu sisi, taman ini menyediakan fasilitas publik yang luar biasa:

Arena bermain sepeda BMX dan skate board.

5 hal tak terduga tentang Sungai Brantas: Urat nadi Jawa Timur yang membentuk peradaban

Jogging track dan taman bermain anak yang modern.

Namun, sebagai jurnalis infrastruktur, saya harus bertanya: Mengapa kita menghabiskan miliaran rupiah untuk proyek estetika di atas lahan yang izinnya sempat tersendat di BBWS Brantas karena risiko alam?

Lokasi taman yang berhimpitan dengan renovasi Jembatan Brawijaya dan berada tepat di bibir sungai yang dasarnya anjlok 12 meter menciptakan risiko permanen.

Trans7 sampaikan permohonan maaf ke Ponpes Lirboyo, keputusan akhir menunggu KH. Anwar Manshur

Saat musim hujan tiba dan debit air meningkat, taman mewah ini terancam tergerus oleh sungai yang fondasinya telah kita rusak sendiri.

Kesimpulan: Masa Depan Brantas Ada di Tangan Kita

Pemulihan Sungai Brantas adalah tantangan raksasa. Data dari Ecoton mengungkap beban tambahan: sungai sepanjang 340 kilometer ini dipaksa menelan 300 ton limbah cair tanpa diolah setiap harinya dari industri di sepanjang bantaran.

Data Jasa Tirta I menegaskan bahwa menghentikan penambangan pasir adalah harga mati. Namun, bahkan jika berhenti hari ini, perbaikan infrastruktur yang rusak akan memakan waktu bertahun-tahun dan biaya triliunan rupiah.

Kita kini berdiri di persimpangan jalan: Apakah kita akan terus memprioritaskan pembangunan RTH yang estetis dan berbiaya mahal, atau mulai berani mengalokasikan sumber daya untuk menyelamatkan ekosistem fundamental yang menyangga hidup jutaan orang?

Tanpa sungai yang sehat, taman secantik apa pun hanyalah panggung bagi bencana yang sedang menunggu waktu.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Berita Terbaru

×