Mahasiswa Yang Sedang Berdemonstrasi (Dok.www.shutterstock.com)
Di banyak kampus hari ini, suasana tampak baik-baik saja. Tidak ada kegaduhan ataupun poster protes yang menempel terlalu lama. Di postingan media sosial milik BEM dan Ormawa lainnya misalnya tidak ada suara yang terlalu keras mempertanyakan kebijakan. Yang ada justru barisan postingan prestasi, pengumuman lomba ataupun misalnya postingan mahasiswa yang mendapat program beasiswa dengan wajah-wajah tersenyum. Kampus terlihat tertib, rapi, serta produktif
Namun ketenangan semacam ini justru mencurigakan. Mahasiswa tetap membaca berita, mengikuti isu nasional dan tahu sebenarnya bahwa negeri ini tidak sedang baik-baik saja. Mereka tahu tentang kebijakan yang melukai rasa keadilan, tentang demokrasi yang makin prosedural, tentang hukum yang terasa makin jauh dari rasa kemanusiaan. Pengetahuan itu ada. Kesadaran itu sebenarnya hidup. Tapi semuanya berhenti di kepala, tidak pernah benar-benar turun ke kaki (secara konkret).
Tidak semua, tapi beasiswa kini menjadi salah satu penopang utama kehidupan mahasiswa. Di tengah biaya pendidikan yang terus naik dan kondisi ekonomi keluarga yang tak selalu stabil, beasiswa tidak hanya soal bantuan semata, namun adalah napas setiap mahasiswa yang memperolehnya. Siapa pun akan berpikir dua kali sebelum mengambil risiko yang bisa membuat napas itu terhenti.
Sebenarnya tak ada aturan tertulis yang melarang mahasiswa bersuara. Tidak ada pasal yang secara eksplisit menghukum kritik. Tapi nyatanya ketakutan bekerja dengan cara yang lebih canggih. Hal ini dinarasikan lewat cerita, asumsi ataupun pengalaman orang lain. Lewat kalimat-kalimat yang terdengar sepele seperti, “hati-hati”, “jangan neko-neko”, “ingat masa depan”. Akhirnya pun, kritik tidak lagi diukur dari kebenarannya melainkan dari tingkat keamanannya.
Kampus gemar menyebut dirinya ruang netral, tempat ilmu berkembang tanpa kepentingan. Di ruang kelas, mahasiswa diajak berpikir kritis, membaca teori perlawanan serta mendiskusikan ketidakadilan struktural. Tapi ketika kritik itu hendak diwujudkan di luar makalah dan presentasi, batas-batas mulai terlihat jelas. Ada kritik yang dianggap akademik, ada pula yang dianggap mengganggu. Ada keberanian yang dirayakan, ada pula yang diminta untuk diredam.
Sedangkan kalimat “jaga nama baik institusi” sering terdengar bijak, padahal kerap menjadi pagar tak kasat mata. Kritik boleh ada, asal tidak menyasar kekuasaan. Boleh lantang, asal tidak terdengar keluar pagar kampus. Di sinilah kampus kehilangan watak nuraninya dan berubah menjadi ruang aman yang terlalu nyaman.
Kalau dilihat, sebenarnya mahasiswa hari ini bukan tidak aktif. Mereka justru sangat aktif. Jadwal kuliah padat, agenda berlapis, kegiatan silih berganti. Seminar kepemimpinan, pelatihan soft skill, program pengembangan diri, semuanya berjalan rapi dan terukur. Aktivisme telah bergeser pemahaman dari semula kolektif menjadi personal, dari perlawanan menjadi portofolio. Kesibukan ini membuat segalanya tampak produktif, sekaligus membuat pertanyaan paling mendasar terlupakan yakni, apa yang sebenarnya sedang diperjuangkan?. Sertifikat bertambah, jejaring meluas tetapi keberanian untuk bersikap justru hilang.
Hari ini mahasiswa hidup dalam sistem yang mahal dan kompetitif. Salah langkah sedikit bisa berdampak panjang. Dalam situasi seperti ini, diam terasa sebagai pilihan paling rasional. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena terlalu sadar akan konsekuensi. Keberanian lalu dianggap kecerobohan, Idealisme dicap tidak realistis. Perlahan, mahasiswa belajar beradaptasi dengan 3M yakni Menimbang, Menunggu, Mengalah. Akhirnya tanpa disadari, diam menjadi kebiasaan yang diwariskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya.
Yang paling berbahaya dari kondisi ini bukanlah represi, melainkan normalisasi. Ketika situasi sunyi dianggap dewasa, ketika patuh dianggap matang bahkan sikap kritis dianggap fase yang harus segera dilewati. Mahasiswa tidak lagi dibungkam secara paksa. Mereka hanya diajak untuk tenang, untuk realistis serta fokus pada diri sendiri. Ajakan itu terdengar sangat masuk akal di tengah ketidakpastian hidup. Namun sejarah selalu menunjukkan satu hal yang sama bahwa perubahan tidak lahir dari generasi yang terlalu sibuk menjaga kenyamanan.
Mungkin suatu hari nanti, ketika semua sudah lulus, bekerja serta menempati posisinya masing-masing, kita akan menoleh ke belakang dan bertanya dengan nada reflektif, ke mana perginya mahasiswa kritis hari ini?. Jawabannya tidak perlu dicari terlalu jauh. Mereka tidak menghilang dan tidak dibungkam. Mereka masih ada, masih cerdas, masih peduli hanya saja, mereka telah belajar bahwa kehilangan nurani sering kali terasa lebih ringan daripada kehilangan beasiswa. Disitulah tragedi paling memilukan itu terjadi, bukan karena tidak ada yang berani melainkan karena terlalu banyak yang memilih aman sehingga jika ada hal-hal yang bisa mengancam tidak terjadi, Basi!.

