Artikel Berita
Beranda » Lebih dari sekadar lapangan: 4 fakta mengejutkan seputar stadion di Blitar yang akan mengubah cara pandang Anda

Lebih dari sekadar lapangan: 4 fakta mengejutkan seputar stadion di Blitar yang akan mengubah cara pandang Anda

Stadion Supriadi Kota Blitar.
Stadion Supriadi Kota Blitar. (Foto: Pemkot Blitar)

Stadion bukan sekadar beton dan rumput; ia adalah teks budaya yang merefleksikan denyut nadi sebuah kota.

Di Blitar, teks ini menceritakan kisah yang lebih kompleks dari yang terlihat—kisah tentang inovasi akar rumput yang menampar kemapanan, paradoks kebijakan publik, hingga takdir geografis yang menjebaknya dalam pusaran rivalitas abadi.

Mari telusuri empat fakta mengejutkan ini yang akan mengubah cara pandang Anda terhadap arena olahraga di kota kecil.

Kendang jimbe di Blitar: industri kreatif lokal

Isi Artikel: Empat Fakta Mengejutkan

1. Di Tengah Kebun Tebu, Ada Lapangan Desa Berstandar FIFA

Di tengah hamparan ladang tebu di Desa Gledug, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, terdapat sebuah fenomena unik: lapangan sepak bola desa dengan kualitas rumput yang luar biasa.

Dikelola secara swadaya oleh para pemuda setempat, lapangan ini bukan sekadar tanah lapang biasa. Corak rumputnya yang artistik diganti setiap minggu agar tidak membosankan bagi para pemain yang berlatih.

Hal yang mungkin belum kamu tahu tentang Jembatan Trisula di Blitar Selatan

Poin yang paling mengejutkan adalah kualitasnya telah sesuai standar FIFA untuk pantulan bola. Namun, keunggulan ini kontras dengan beberapa keterbatasan. Dengan luas 105 x 75 meter, lapangan ini belum memenuhi syarat ukuran untuk kompetisi Liga 1 dan Liga 2.

Selain itu, fasilitas pendukungnya masih sangat sederhana; belum ada tribun penonton, dan kamar ganti pemain hanya terbuat dari bambu beratap terpal.

Menurut Suryani, Ketua Karang Taruna Desa Gledug, seluruh biaya perawatan berasal dari swadaya para pemuda yang berlatih di sana. Semangat mereka terbayar dengan kepuasan yang dirasakan saat bermain.

Saat ibu-ibu ini siapkan 400 porsi hidangan Ramadan di sekitar Dayah Al-Musthafa Aceh Tamiang

“Para remaja dan pemuda yang berlatih di lapangan Gledug ini, mengaku senang dan betah dengan kondisi lapangan. Pasalnya, selain tekstur lapangan yang rata, juga corak rumput yang beraneka macam, sehingga membuat pemuda yang berlatih di lapangan Gledug ini menjadi betah.” – Andi Romdhon, pemuda setempat.

Kisah Lapangan Gledug adalah manifestasi kekuatan inisiatif akar rumput: sebuah tamparan elegan bagi kemapanan yang membuktikan bahwa kualitas premium tidak selalu lahir dari anggaran besar, melainkan dari semangat komunitas yang tak ternilai.

2. Satu Stadion, Dua Wajah: Tak Cukup Baik untuk Masa Depan, Tapi Layak untuk Liga 1

Stadion Soeprijadi, ikon sepak bola Kota Blitar, hidup dalam sebuah paradoks yang menarik. Di satu sisi, Pemerintah Kota Blitar memiliki wacana untuk membangun stadion baru karena Stadion Soeprijadi dianggap “kurang lagi representatif” untuk visi jangka panjang.

Blitar menyambut Ramadan 2026: antara ketegasan dan tenggang rasa

Rencana ambisius yang membutuhkan anggaran sekitar Rp 100 miliar ini masih dalam tahap pengkajian.

Namun, di sisi lain, stadion yang sama justru dianggap lebih dari layak untuk panggung tertinggi sepak bola nasional. Setelah lolos asesmen risiko dari Mabes Polri, Stadion Soeprijadi resmi menjadi markas (homebase) sementara bagi klub besar Arema FC untuk mengarungi Liga 1 musim 2024-2025.

Untuk memenuhi standar kompetisi, stadion ini menjalani perbaikan yang progresnya mencapai 90% pada Agustus 2024, termasuk pemasangan papan iklan LED jenis videotron modern.

Dari megengan ke bukber modern: Wajah ramadan 2026 di Blitar

Ini adalah cerminan dari sebuah realitas pembangunan di banyak daerah: aset yang dianggap usang untuk ambisi lokal justru menjadi properti panas di tingkat nasional, menyoroti perbedaan tajam antara visi jangka panjang dan kebutuhan pragmatis jangka pendek.

Fenomena ini menggarisbawahi kompleksitas perencanaan dari atas yang kadang menghasilkan narasi yang saling bertentangan.

3. Visi Megah yang Tertunda: Stadion Ramah Lingkungan Bertaraf Internasional di Nglegok

Stadion Gelora Penataran di Nglegok, Kabupaten Blitar, saat ini adalah fasilitas solid berkapasitas sekitar 10.000 penonton yang telah memenuhi standar PSSI untuk menggelar pertandingan sekelas Liga 3. Namun, di balik fungsinya saat ini, tersimpan sebuah visi yang jauh lebih megah.

Masjid ar-rahman: suasana madinah di Jawa Timur

Sebuah jurnal akademis mengungkap adanya rencana besar untuk mengembangkan stadion ini menjadi fasilitas bertaraf nasional, bahkan internasional, dengan kapasitas penonton yang melonjak hingga 30.000-50.000 orang.

Keunikan dari rencana ini adalah penerapan tema “Arsitektur Bioklimatik”. Konsep ini bukan sekadar tren, melainkan sebuah visi radikal: stadion yang ‘bernapas’ dengan iklim tropis Blitar, memanfaatkan angin dan matahari untuk mengurangi ketergantungan pada energi, dan menjadi monumen hidup bagi masa depan olahraga yang berkelanjutan.

Visi ini lahir dari penilaian bahwa stadion-stadion yang ada di Blitar masih “sangat kurang layak” untuk pertandingan bertaraf nasional.

Tradisi unik masyarakat Blitar menyambut Ramadan

Kondisi ini mencerminkan jurang yang lebar antara realitas (stadion untuk Liga 3) dan aspirasi besar (stadion ikonik berkonsep green architecture). Ini adalah potret tantangan klasik dalam pembangunan infrastruktur olahraga di daerah, di mana mimpi besar seringkali harus menunggu realisasi yang tak pasti.

4. Bukan Sekadar Kota Transit: Blitar sebagai Titik Rawan Rivalitas Abadi

Posisi geografis sebuah kota terkadang memberinya peran tak terduga dalam dinamika sosial yang lebih besar. Inilah yang terjadi pada Blitar dalam konteks rivalitas sepak bola paling sengit di Jawa Timur, “Derby Jatim”, antara Arema FC dari Malang (Aremania) dan Persebaya Surabaya (Bonek).

Terletak persis di antara Malang dan Surabaya, Blitar secara alami menjadi tempat transit atau titik kumpul bagi suporter kedua tim saat mereka melakukan perjalanan.

Masuk Ramadan, jam kerja ASN berkurang namun target kinerja tetap

Posisi strategis ini, sayangnya, juga membuatnya menjadi wilayah yang rawan konflik. Sejarah mencatat, pada tahun 2020, Blitar menjadi lokasi terjadinya kerusuhan antara kedua kelompok suporter.

Fakta ini menunjukkan bahwa Blitar bukan hanya penonton dalam rivalitas abadi ini. Geografi tidak memberinya pilihan; ia memaksa Blitar untuk menjadi panggung netral sekaligus titik didih dalam drama sosial terbesar sepak bola Jawa Timur, sebuah peran yang tak pernah ia minta namun harus diemban.

Penutup

Pada akhirnya, stadion di Blitar adalah mikrokosmos dari sepak bola Indonesia itu sendiri—sebuah arena di mana semangat akar rumput, kebijakan yang ambigu, mimpi besar, dan realitas sosial yang keras saling berbenturan.

Ia membuktikan bahwa arena olahraga lebih dari sekadar rumput dan tribun; ia adalah cerminan dari semangat komunitas, paradoks pembangunan, ambisi masa depan, dan persimpangan tak terduga dari rivalitas sosial yang membara.

Jadi, saat Anda melewati sebuah stadion di kota kecil, pernahkah terpikir cerita apa lagi yang tersimpan di balik tribun dan hijaunya rumput lapangan?

Berita Terbaru

×