Blitar bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir Sang Proklamator, melainkan museum rasa yang hidup dan terus bertahan melintasi zaman.
Beberapa destinasi kuliner di kota ini telah eksis sejak era 1930-an, menjadi saksi sejarah yang tetap tangguh menghadapi modernisasi.
Melalui resep turun-temurun, tempat-tempat ini menawarkan kapsul waktu bagi siapa saja yang ingin mencicipi cita rasa asli masa kolonial.
Kekuatan narasi sejarahnya menjadikan Blitar sebagai tujuan wisata yang mempertemukan lidah dengan nilai-nilai warisan budaya masa lalu.
Soto bok ireng: cita rasa sejak era 1940-an
Warga Blitar pasti sudah tak asing dengan Soto Bok Ireng yang telah melayani pelanggan sejak era tahun 1940-an.
Berlokasi di jalan kelud, kepanjen lor, tempat ini mempertahankan metode memasak tradisional dengan menggunakan tungku kayu bakar yang ikonik.
Aroma asap kayu memberikan kedalaman rasa pada kuah rempahnya yang gurih, namun sensasi segar tetap mendominasi setiap suapan sotonya.
Porsinya sengaja disajikan tidak terlalu besar, sehingga sangat ideal untuk menu sarapan bagi masyarakat lokal maupun wisatawan luar daerah.
Es drop: dari tahun 1937
Pabrik Es Drop Cap Burung Betet di Jalan Anggrek No. 51 telah memproduksi jajanan legendaris ini sejak tahun 1937.
Berbeda dengan es lilin modern, Es Drop memiliki panjang sekitar 10-15 cm dengan bahan dasar gula merah dan santan.
Stiknya menggunakan bambu atau lidi menyerupai tusuk sate, dibungkus selongsong kertas unik yang hanya menutupi bagian tengah batang es.
Cara penjualannya pun masih klasik; penjual berkeliling membawa termos kaca silinder berwarna merah atau coklat sambil membunyikan lonceng khas.
Varian Rasa Karakteristik Utama:
- Vanila: lembut dengan resep turun-temurun tanpa penggunaan mesin modern.
- Cokelat: rasa manis pekat yang mempertahankan standar kualitas sejak 1937.
- Kacang Hijau: gurih dengan sari kacang asli hasil olahan tangan tradisional.
- Durian: aroma buah yang kuat tanpa menggunakan campuran bahan kimia.
- Stroberi: rasa buah segar yang tetap terjaga keaslian tekstur khasnya.
- Melon: rasa manis yang ringan dan cocok sebagai penawar dahaga.
- Puding: tekstur kenyal yang menjadi varian unik dalam jajanan kolonial.
Nasi ampok: bekal para pejuang di medan perang
Nasi ampok atau nasi jagung merupakan kuliner fungsional yang muncul sebagai strategi bertahan hidup masyarakat pada masa sulit panceklik.
Karena stok beras sangat rendah saat perang, masyarakat mengolah jagung tua atau lapuk yang dikeringkan menjadi tepung jagung kasar.
Bagi para pejuang kemerdekaan, Nasi ampok adalah bekal andalan di medan tempur karena sifatnya yang praktis dan tahan lama.
Hidangan ini menjadi simbol ketahanan pangan yang membantu pahlawan lokal tetap bertenaga saat harus bersembunyi di dalam hutan.
Depot sri rejeki: kuliner sejak 1963 yang terjangkau
Berdiri sejak 1963, Depot sri rejeki terus mempertahankan ke esksistensian nya sebagai tempat makan legendaris yang tetap mempertahankan harga ramah di kantong para pelanggan.
Penjual menawarkan menu nasi campur ayam dengan harga terjangkau sebesar Rp18.000, sementara banyak pelanggan tetap menjadikan hidangan lontong cap gomeh sebagai pilihan utama.
Depot ini membuktikan bahwa konsistensi rasa selama puluhan tahun tidak harus mengorbankan keterjangkauan bagi seluruh lapisan masyarakat luas.
Lontong cap gomeh di sini menyajikan perpaduan kuah gurih dan sedikit manis yang sangat serasi dengan sayur labu lembut.
Jenang dan wajik kletik: filosofi dari era majapahit
Jenang dan wajik kletik merupakan ikon oleh-oleh Blitar yang akarnya tercatat dalam kitab nawaruci sejak zaman keemasan kerajaan majapahit.
Wajik kletik terbuat dari ketan dan gula merah dengan bungkus klobot atau kulit jagung kering yang sangat tradisional.
Teksturnya yang lengket memiliki makna filosofis sebagai simbol harapan agar hubungan keluarga atau ikatan pernikahan tetap erat dan manis.
Filosofi Hidup Bersahaja
Masyarakat lokal sering mengutip parikan Jawa yang berbunyi: “wajik kletik gula jawa, luwih becik sing prasaja”.
Kalimat ini mengandung pesan moral yang mendalam tentang keutamaan menjalani hidup secara bersahaja daripada mengejar kemewahan yang berlebihan.
Selain cita rasanya yang khas, kuliner legendaris Blitar mampu bertahan karena para pelakunya tetap setia mempertahankan resep asli dan cara pengolahan yang sangat tradisional
Mencicipi hidangan-hidangan seperti ini menjadi cara terbaik untuk mengapresiasi sejarah panjang yang melatarbelakangi setiap porsi makanan.
Mari kita terus lestarikan warisan budaya ini dengan berkunjung dan mendukung ekonomi kreatif lokal setiap kali singgah di Blitar. Jika berkunjung ke Blitar jangan lupa menikmati kuliner-kuliner legendarisnya ya.
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

