Artikel Feature
Beranda » Kodifikasi Al-Qur’an dan warisan kepemimpinan Abu Bakar

Kodifikasi Al-Qur’an dan warisan kepemimpinan Abu Bakar

Ilustrasi Nabi Muhammad dan masjid. (Foto: Internet)

Setelah Perang Riddah, umat Islam mulai menyadari satu hal penting: banyak penghafal Al-Qur’an gugur di medan perang. Kalau kondisi ini berlanjut, hafalan yang tersebar bisa hilang atau tidak utuh. Masalah ini belum pernah dihadapi sebelumnya.

Umar bin Khattab menjadi orang yang pertama kali mengusulkan pengumpulan Al-Qur’an dalam satu mushaf. Ia melihat risiko jangka panjang jika tidak segera bertindak.

Abu Bakar awalnya ragu. Baginya, ini sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi. Ia khawatir mengambil langkah yang terlalu jauh. Namun setelah dipikirkan matang, Abu Bakar menyetujui usulan tersebut. Keputusan ini diambil bukan karena tradisi, tapi karena kebutuhan.

Johan Cruyff dan cara Barcelona menemukan identitasnya

Zaid bin Tsabit ditunjuk untuk memimpin pengumpulan mushaf. Ia tidak hanya mengandalkan hafalan, tetapi juga bukti tertulis. Setiap ayat: harus dihafal oleh banyak sahabat, harus ada catatan tertulisnya, diverifikasi dengan saksi.

Proses ini dilakukan dengan hati-hati, bukan tergesa-gesa. Hasilnya adalah satu kumpulan Al-Qur’an yang terjaga keasliannya.

Mushaf yang terkumpul tidak disebarkan luas saat itu. Ia disimpan oleh Abu Bakar, lalu Umar, dan kemudian Hafsah. Ini menunjukkan bahwa pengumpulan Al-Qur’an bukan proyek politik, melainkan langkah menjaga ajaran.

Ini tantangan awal kepemimpinan Abu Bakar dan Perang Riddah

Selama menjabat, Abu Bakar hidup sederhana. Tidak ada perubahan gaya hidup. Ia tetap berdagang dan menerima tunjangan secukupnya.

Keputusan-keputusannya sering tegas, tapi tujuannya jelas: menjaga persatuan. Ia memimpin dalam waktu singkat, sekitar dua tahun, tapi dampaknya besar.

Menjelang wafat, Abu Bakar menunjuk Umar bin Khattab sebagai penggantinya. Keputusan ini diambil setelah berdiskusi dengan banyak sahabat. Ia tidak ingin umat kembali ke situasi bingung seperti setelah wafatnya Nabi. Penunjukan ini diterima karena Umar dikenal tegas dan adil.

Pemakaman nabi dan awal transisi kepemimpinan umat Islam

Dari kepemimpinannya, terlihat bahwa: keberanian mengambil keputusan penting tidak selalu populer, menjaga ajaran kadang butuh langkah baru, kesederhanaan memperkuat kepercayaan. Abu Bakar tidak membangun monumen. Ia meninggalkan sistem yang berjalan.

Sumber: Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman al-Mubarakfury

Wafatnya Nabi Muhammad SAW: Hari ketika umat kehilangan penopang utama
×