Aceh Tamiang – Di balik senyum malu-malu para santri tersimpan cerita yang sulit dibayangkan oleh siapa pun.
Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) dari relawan PCNU Kabupaten Blitar mengungkap fakta mengenai perjuangan delapan belas santri yang berhasil bertahan hidup saat banjir bandang menerjang Aceh Tamiang pada November silam.
Dalam kesaksian yang dibagikan pada Kamis, 19 Februari 2026, tim LDP membeberkan bahwa belasan santri ini bukan sekadar saksi mata, melainkan penyintas yang bertarung nyawa di tengah kepungan material bencana.
Tim LDP, Ami Hapsari menceritakan bahwa delapan belas santri tersebut harus melihat jalanan yang tertutup lumpur longsoran setinggi pinggang.
Dalam kondisi pakaian basah yang kering di badan, mereka terus melangkah tanpa kepastian, tanpa alas kaki yang memadai, dan tanpa asupan makanan apa pun selama berhari-hari.
“Mereka sempat terpisah dari keluarga tanpa kabar sama sekali saat bencana itu memuncak,” ungkapnya.
Kondisi psikologis para santri yang sempat terisolasi dari orang tua dan sanak saudara tersebut menjadi perhatian utama tim relawan.
Tim LDP menegaskan bahwa tugas mereka di Aceh Tamiang selama dua belas hari ini bukan sekadar menghibur, melainkan merangkul kembali jiwa-jiwa yang sempat “hilang” karena trauma hebat tersebut.
Melalui pendekatan personal dan pendampingan berkelanjutan, relawan asal Blitar ini berupaya meyakinkan para santri bahwa masa-masa kelam itu telah berlalu dan kini saatnya menatap masa depan di tempat belajar yang lebih aman.
Hingga saat ini, pendampingan psikososial terus diintensifkan di lokasi-lokasi pengungsian dan Dayah, mengingat memori kolektif tentang bencana yang terjadi pada November 2025 lalu belum sepenuhnya hilang. (nu/blt)

