Sebagai pemimpin Partai Nasional Indonesia, Soekarno menjanjikan Indonesia merdeka melalui Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan perjuangan Massa Aksi.
Janji ini disambut luas oleh rakyat, dan Soekarno sendiri menanggung risiko besar: penjara, pengasingan, dan tekanan politik dari pemerintah kolonial.
Namun Tan Malaka mempertanyakan satu hal penting: sejauh mana janji itu ditepati. Dalam praktiknya, Soekarno dinilai terlalu lentur dalam menafsirkan prinsip.
Kerja sama dengan Jepang selama pendudukan, penerimaan berbagai kompromi politik setelah kemerdekaan, hingga persetujuan perjanjian dengan Belanda dianggap sebagai bentuk penyimpangan dari semangat perjuangan awal.
Bagi Tan Malaka, fleksibilitas itu bukan taktik, melainkan gejala hilangnya keteguhan ideologi. Revolusi, menurutnya, tidak bisa dijalankan dengan setengah hati dan kompromi yang terus-menerus, karena pada akhirnya rakyat yang menanggung akibatnya.
Sumber: Tan Malaka, Dari Ir. Soekarno sampai ke Presiden Soekarno, Jajasan Tjahaja Kita, Jakarta, 1966.

