Artikel
Beranda » Ini kesaksian salah satu relawan dari PCNU Kabupaten Blitar melihat aktivitas penyeberangan di Jembatan Gantung Perintis Aceh Tamiang

Ini kesaksian salah satu relawan dari PCNU Kabupaten Blitar melihat aktivitas penyeberangan di Jembatan Gantung Perintis Aceh Tamiang

Jembatan Gantung Perintis di Aceh Tamiang. (Foto: Ahmad/Bicarablitar.com)

Aceh Tamiang – Sebuah pemandangan tak biasa terekam dalam catatan perjalanan tim relawan PCNU Kabupaten Blitar saat mengunjungi perbatasan dua kecamatan di Aceh Tamiang: Kecamatan Sekerak dan Kecamatan Bandar Pusaka pada Jumat, 20 Februari 2026.

Di atas puing jembatan utama yang putus akibat banjir bandang November 2025 lalu, kini membentang Jembatan Gantung Perintis yang menjadi tumpuan tunggal mobilitas warga.

Dua minggu pasca-dioperasikan, jembatan ini menjadi satu-satunya penyambung asa bagi warga yang ingin menyeberang antar dua kecamatan tersebut. Namun, pemanfaatan jembatan ini bukanlah tanpa kendala.

Meniti harapan di jembatan gantung Perintis, saat warga Sekerak dan Bandar Pusaka Aceh Tamiang inginkan akses permanen

Pantauan di lokasi menunjukkan betapa tingginya risiko yang harus diambil masyarakat demi memotong waktu perjalanan yang jauh jika harus berputar arah.

Muhammad Thoha Ma’ruf, salah satu relawan PCNU Kabupaten Blitar, menceritakan suasana ramai yang terjadi di lokasi.

Pengendara yang lewat di Jembatan Gantung Perintis di Aceh Tamiang. (Foto: Ahmad/Bicarablitar.com)

Ia menyaksikan para petugas berjaga ketat untuk mengarahkan warga agar melintas secara bergantian guna menjaga keseimbangan jembatan.

Mengenal Atmi Hapsari, srikandi Fatayat dari Kabupaten Blitar yang punya peran dalam dukungan psikososial kepada anak-anak di Aceh Tamiang

“Di lapangan, kita bisa mendengar sesekali teriakan para penyeberang yang merasa ketakutan saat jembatan bergoyang. Ada petugas yang sibuk mengatur ritme agar penyeberangan dilakukan satu per satu, bergantian dari kedua sisi,” ungkapnya menggambarkan ketegangan di lokasi.

Akses ini tidak hanya dilewati oleh pejalan kaki, tetapi juga pengendara roda dua yang nekat melintas demi efisiensi waktu.

Ada alternatif lain di lokasi, yakni mengandalkan perahu tambangan yang beroperasi tepat di sisi jembatan gantung tersebut.

Jantung pemulihan dari Hiroshima hingga Aceh Tamiang

Kehadiran jembatan perintis dan perahu tambangan ini menjadi bukti bahwa urat nadi perekonomian warga belum pulih sepenuhnya.

Masyarakat setempat menyampaikan harapan besar kepada pemerintah agar segera dibangun jembatan permanen yang dapat dilalui kendaraan roda empat. Hal ini krusial karena jembatan tersebut merupakan jalur vital distribusi logistik dan hasil bumi yang menghubungkan dua kecamatan di Aceh Tamiang.

Tanpa jembatan permanen, warga terpaksa harus memilih antara bertaruh nyali di atas jembatan gantung. (nu/blt)

Potret Desa Menanggini dari udara, saat ‘atap oranye’ jadi saksi bisu perjuangan para penyintas di Aceh Tamiang

×