Ditulis oleh Dimas Maulana Ibnu Sabil(1), Asvia Rachmawati(2), Fadia Auralivia(3), Savina Ivadatul Khusna(4), Leo Andika Jaya(5), mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar, Indonesia
Email:
ibnusabill2005@gmail.com(1)
asviarachmawatixyz@gmail.com(2)
liviaaura266@gmail.com(3)
savinaifa@gmail.com(4)
coldm905@gmail.com(5)
Tersedia online di https://ojs.unublitar.ac.id/index.php/jtpdm
Abstrak
Pembelajaran Bahasa Jawa sebagai muatan lokal memiliki peran strategis dalam pelestarian budaya daerah sekaligus pembentukan karakter peserta didik. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pelaksanaan pembelajaran Bahasa Jawa kelas VI Sekolah Dasar berdasarkan hasil observasi lapangan.
Fokus kajian meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian dan tindak lanjut, pengelolaan kelas, serta interaksi guru dan siswa. Metode yang digunakan adalah observasi langsung terhadap proses pembelajaran di kelas VI UPT SDN Sananwetan 03 Kota Blitar.
Hasil observasi menunjukkan bahwa guru telah melaksanakan pembelajaran Bahasa Jawa secara terencana, interaktif, dan kondusif dengan memanfaatkan media pembelajaran serta menerapkan model discovery inquiry. Interaksi guru dan siswa terjalin secara positif, serta penilaian dilakukan secara berkelanjutan.
Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Jawa dapat berjalan efektif apabila didukung oleh perencanaan yang matang, pengelolaan kelas yang baik, serta pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa.
Pendahuluan
Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah dengan jumlah penutur terbesar di Indonesia dan memiliki nilai historis, filosofis, serta kultural yang tinggi.
Sebagai bagian dari muatan lokal di sekolah dasar, pembelajaran Bahasa Jawa tidak hanya bertujuan mengembangkan kemampuan berbahasa siswa, tetapi juga menanamkan nilai-nilai budaya seperti unggah-ungguh, sopan santun, dan kearifan lokal.
Menurut Sudaryanto (2018), bahasa daerah berperan penting sebagai sarana pewarisan nilai budaya antargenerasi. Pada jenjang sekolah dasar, khususnya kelas VI, pembelajaran Bahasa Jawa menghadapi berbagai tantangan, antara lain menurunnya minat siswa terhadap bahasa daerah, dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing, serta pengaruh teknologi digital terhadap pola komunikasi siswa.
Oleh karena itu, guru dituntut untuk memiliki kompetensi pedagogik yang memadai agar mampu mengelola pembelajaran secara menarik dan bermakna (Mulyasa, 2017).
Observasi pembelajaran menjadi salah satu cara untuk memperoleh gambaran nyata mengenai praktik pembelajaran di kelas.
Melalui observasi, dapat diketahui sejauh mana perencanaan pembelajaran diterapkan, bagaimana proses pembelajaran berlangsung, serta bagaimana interaksi antara guru dan siswa selama kegiatan belajar mengajar. Hasil observasi ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah dasar.
Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik observasi langsung. Observasi dilakukan pada pembelajaran Bahasa Jawa kelas VI di UPT SDN Sananwetan 03 Kota Blitar pada Sabtu, 22 November 2025.
Subjek observasi adalah guru kelas VI dan siswa kelas VI. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi yang memuat aspek perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian dan tindak lanjut, pengelolaan kelas, serta interaksi guru dan siswa.
Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan kondisi pembelajaran yang berlangsung. Selain itu, data sekunder dikumpulkan melalui studi literatur dari berbagai sumber tertulis, seperti artikel jurnal, berita daring, ensiklopedia daring, dan tulisan populer yang membahas Implementasi Pembelajaran pada umumnya. Teknik analisis data dilakukan dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara tematik.
Hasil dan Pembahasan
Perencanaan Pembelajaran Bahasa Jawa
Hasil observasi menunjukkan bahwa guru telah melaksanakan perencanaan pembelajaran Bahasa Jawa secara sistematis dan terstruktur. Guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau modul ajar sebelum kegiatan pembelajaran berlangsung.
Perencanaan tersebut mencakup penetapan tujuan pembelajaran, pemilihan materi, strategi pembelajaran, media, serta teknik penilaian yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. Penyampaian tujuan pembelajaran kepada siswa di awal kegiatan juga menjadi indikator bahwa guru memahami pentingnya transparansi tujuan agar siswa mengetahui capaian kompetensi yang harus diraih.
Perencanaan pembelajaran yang matang merupakan fondasi utama dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dan bermakna. Sanjaya (2016) menegaskan bahwa perencanaan pembelajaran berfungsi sebagai pedoman guru dalam mengelola proses belajar agar berjalan sistematis dan terarah. Tanpa perencanaan yang baik, pembelajaran berpotensi berlangsung secara sporadis dan tidak mencapai tujuan yang diharapkan.
Selain itu, guru menyesuaikan materi pembelajaran Bahasa Jawa dengan tingkat perkembangan kognitif dan sosial siswa. Materi cerita tradisional Jawa dipilih karena dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa serta sarat akan nilai-nilai budaya dan karakter. Hal ini sejalan dengan prinsip pembelajaran kontekstual yang menekankan keterkaitan materi dengan pengalaman nyata siswa (Trianto, 2015).
Guru juga menyiapkan media pembelajaran berupa laptop dan smart TV untuk menampilkan teks dan visual cerita tradisional Jawa. Penggunaan media visual membantu siswa memahami isi cerita secara lebih konkret dan menarik, terutama bagi siswa yang memiliki gaya belajar visual.
Arsyad (2019) menyatakan bahwa media pembelajaran dapat memperjelas pesan, meningkatkan motivasi belajar, serta mengurangi verbalisme dalam pembelajaran.
Model pembelajaran yang digunakan adalah discovery inquiry, yaitu model pembelajaran yang mendorong siswa untuk menemukan konsep dan makna secara mandiri melalui kegiatan mengamati, bertanya, berdiskusi, dan menyimpulkan.
Model ini sangat relevan dengan pembelajaran abad ke-21 yang menekankan keterampilan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi (Hosnan, 2014).
Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Jawa
Pada tahap pelaksanaan, guru membuka pembelajaran dengan salam, doa, dan apersepsi. Kegiatan pembukaan ini berfungsi untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif serta mempersiapkan kondisi psikologis siswa agar siap mengikuti pembelajaran. Apersepsi dilakukan dengan mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.
Selama proses pembelajaran, guru menggunakan bahasa yang komunikatif, mudah dipahami, dan sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Guru juga aktif melibatkan siswa melalui kegiatan tanya jawab dan diskusi kelompok. Interaksi dua arah ini membuat siswa tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga berperan aktif dalam proses belajar.
Pemanfaatan media pembelajaran dilakukan secara efektif dan proporsional. Tampilan cerita tradisional Jawa melalui smart TV membuat siswa lebih fokus dan antusias mengikuti pembelajaran. Media visual membantu siswa memahami alur cerita, tokoh, dan pesan moral secara lebih jelas.
Guru juga menunjukkan kemampuan pengelolaan kelas yang baik selama pelaksanaan pembelajaran. Guru mampu menjaga ketertiban kelas, mengatur waktu pembelajaran, serta mengondisikan siswa agar tetap fokus. Pembelajaran berlangsung dalam suasana yang interaktif dan menyenangkan.
Penilaian dan Tindak Lanjut Pembelajaran
Penilaian pembelajaran Bahasa Jawa dilakukan secara berkelanjutan selama proses pembelajaran berlangsung. Guru melakukan penilaian melalui observasi sikap, keaktifan siswa dalam diskusi, serta pemberian tugas individu maupun kelompok.
Penilaian yang dilakukan tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses belajar siswa. Hal ini sejalan dengan prinsip penilaian autentik yang menekankan penilaian secara menyeluruh terhadap sikap, pengetahuan, dan keterampilan siswa (Kunandar, 2014).
Guru juga memberikan umpan balik secara langsung kepada siswa setelah penilaian dilakukan. Sebagai tindak lanjut pembelajaran, guru memberikan tugas rumah yang relevan dengan materi yang telah dipelajari.
Pengelolaan Kelas dan Interaksi Guru-Siswa
Guru menunjukkan kemampuan pengelolaan kelas yang efektif selama pembelajaran Bahasa Jawa berlangsung. Guru mampu menciptakan suasana kelas yang tertib, aman, dan nyaman bagi siswa.
Interaksi antara guru dan siswa berlangsung secara positif dan harmonis. Guru menggunakan bahasa yang sopan, ramah, serta tidak bersifat menghakimi. Guru memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh siswa untuk terlibat dalam kegiatan pembelajaran.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi dan pembahasan yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Bahasa Jawa telah dilaksanakan secara terencana, sistematis, dan sesuai dengan prinsip pembelajaran yang efektif. Guru menunjukkan kompetensi pedagogik yang baik melalui perencanaan, pelaksanaan, penilaian, pengelolaan kelas, serta interaksi yang positif dengan siswa.
Pembelajaran Bahasa Jawa tidak hanya meningkatkan kemampuan berbahasa siswa, tetapi juga berkontribusi dalam pelestarian budaya lokal dan pembentukan karakter peserta didik.
Daftar Rujukan
Arsyad, A. (2019). Media pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Djamarah, S. B., & Zain, A. (2018). Strategi belajar mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hosnan, M. (2014). Pendekatan saintifik dan kontekstual dalam pembelajaran abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia.
Kunandar. (2014). Penilaian autentik. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Mulyasa, E. (2017). Menjadi guru profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sanjaya, W. (2016). Perencanaan dan desain sistem pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Sudaryanto. (2018). Bahasa daerah dan pelestarian budaya. Jurnal Pendidikan Bahasa, 12(2), 115–123.
Trianto. (2015). Model pembelajaran terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.
Uno, H. B. (2016). Teori motivasi dan pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara.

