Bagi warga Blitar, berjalan menyusuri lorong sempit Pasar Legi atau Pasar Pon di H-7 menjelang Ramadan 2026 bukan sekadar rutinitas belanja harian, melainkan ujian ketangguhan finansial rumah tangga yang sesungguhnya.
Bayangkan, label harga cabai rawit yang sempat Rp70.000 per kg kini merangkak ke Rp84.000–Rp108.000, daging ayam potong melonjak dari Rp37.000 menjadi Rp42.000 per kg, telur ayam Rp29.000–Rp30.000 per kg, bahkan daging sapi bisa tembus Rp120.000–Rp143.000 per kg di tingkat ritel.
Fenomena “ritual tahunan” ini meninggalkan keresahan mendalam, tapi sebagai pengamat ekonomi lokal, saya yakin angka-angka mencekik ini punya cerita lebih dalam: jalinan dinamika pasar global seperti kenaikan Crude Palm Oil (CPO), kebijakan nasional termasuk PPN 11% dan program MBG, hingga kearifan spesifik Bumi Bung Karno.
Inflasi Januari 2026 sudah 3,55%, diprediksi puncaknya Maret saat Lebaran, dengan Bank Indonesia (BI) proyeksi melebihi 3% tahunan. Artikel ini bedah sisi lain krisis ini, jauh dari sekadar “penawaran kurang-permintaan banjir”.
Kenaikan harga Lebaran 2026 punya ritme terukur, seperti diungkap Ikappi dengan tiga fase gelombang yang wajib diwaspadai warga Blitar. Fase pertama, sepekan sebelum Ramadan (sekitar akhir Februari 2026), fokus komoditas bumbu dapur. Cabai rawit langsung puncak, naik hingga 75% seperti bawang merah di Pasar Legi, gara-gara panic buying awal.
“Ini sudah masuk puncaknya,” tegas Reynaldi Sarijowan, Sekjen Ikappi, soal cabai yang jadi ujung tombak fase ini. Fase kedua, H-3 Lebaran (pertengahan Maret), jadi “puncak seragam”: lonjakan permintaan hidangan Idulfitri seperti opor ayam, rendang, bikin hampir semua label beras premium Rp14.900/kg, minyak goreng Rp18.500/liter meledak serentak.
Ketiga, sepekan pasca-Lebaran, fase tersembunyi paling brutal: rantai distribusi lumpuh akibat mudik massal, pasokan minim sementara stok rumah tangga habis, harga sering lebih tinggi dari sebelumnya contoh daging sapi pasca-Lebaran pernah normal Rp120.000/kg tapi lonjak Rp30.000 pre-Lebaran. “Tanpa regulasi ketat, lonjakannya bisa tak terkendali,” tambah Reynaldi.
Di Blitar, TPID terus pantau, tapi hama jamur-bakteri serang 6 hektar cabai (dari total 9 ha), daun kuning-buah busuk, produksi anjlok gap harga petani Rp80.000 ke ritel Rp108.000 nunjukin logistik mahal.
Geser ke Kabupaten Blitar, wilayah sentra peternakan Desa Kendarejo, Kecamatan Srengat, ceritanya paradoksal. Harga telur ayam peternak Rp26.000/kg, pengecer Rp29.000–Rp30.000/kg, naik signifikan berkat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang serap stok masif via Dapur Satuan Layanan Pemenuhan Gizi.
Pemkab Blitar kembangkan cabai off-season 16 ha panen Februari-Maret via DBHCHT, tapi peternak belum fully lega: pakan ternak melambung, margin tipis nutup HPP.
“Sebelumnya anjlok di bawah ongkos produksi, sekarang alhamdulillah naik, peternak bisa bernapas lega meski pakan masih mahal,”
ujar Haji Wiknadi, peternak senior Kendarejo. BPS Jatim catat ayam ras Rp38.494/kg awal Maret, tapi MBG sub malah bikin peternak Blitar Raya sambat awalnya karena distribusi telur lokal belum terserap optimal.
Tradisi lokal Blitar tambah kompleksitas: di Pasar Legi, daging ayam Rp42.000/kg tak hentikan serbuan pembeli, karena Megengan atau Punggahan ritual “menahan” sambut Ramadan dari bahasa Jawa “unggah” (naik ke bulan suci).
Warga ziarah makam leluhur, doa bersama, bagi nasi marangan atau paket sembako mentah plus kue apem wajib simbol permintaan maaf dan syukur.
Yuni dari Sukorejo tetap beli meski mahal: “Tradisi tak bisa ditawar, marwah keluarga prioritas.” Inelastisitas permintaan ekstrem ini buat ekonomi “tunduk” budaya, bukan sebaliknya.
Psikologis perkuat badai: self-fulfilling prophecy di mana ketakutan kelangkaan picu borong, spekulan naikkan harga. Ditambah cost-push dari CPO global, BBM naik, PPN 11%, inflasi bulanan bisa 1,6% saat Lebaran 5 kali normal. BPS prediksi puncak Maret 2026 gara-gara timing Ramadan pertengahan Februari.
“Dasar belanja kebutuhan terbatas, bukan keinginan unlimited begitu bedain, finansial stabil,” pesan Dr. Imron Mawardi, ekonom UNAIR.
Tapi, mahalnya harga juga sinyal positif: THR, zakat, infak, sedekah tingkatkan likuiditas masyarakat Blitar.
Dana
mustahiq langsung mengalir ke pedagang Pasar Templek-Legi, gerakkan UMKM lokal redistribusi kekayaan organik di balik inflasi. Contoh, surplus cabai Blitar-Kediri ribuan ton bikin Kementan optimis stabil, tapi hama kaper tetap ancam.
Menjadi konsumen bijak kunci utama. Harga daging sapi Rp143.000/kg, cabai rot hama, ketimpangan distribusi semua ingatkan mawas diri. Kendali bukan selalu di pemerintah, tapi kebijakan dompet pribadi: prioritaskan kebutuhan, hindari panic buying fase tiga gelombang.
Di Lebaran 2026 ini, pilih belanja bijak atau ikut arus? Itu yang tentukan “luka” dompet pasca-ramai usai. Blitar kuat, yuk hadapi bareng!
Artikel diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

