Artikel
Beranda » Hal yang mungkin belum kamu tahu tentang Jembatan Trisula di Blitar Selatan

Hal yang mungkin belum kamu tahu tentang Jembatan Trisula di Blitar Selatan

Ilustrasi Jembatan Trisula di Blitar (Gambar dihasilkan oleh GPT AI)

Melintasi Jembatan Trisula di Kademangan saat senja mulai meluruh. Deru angin dari aliran Sungai Brantas menyelinap di sela jendela, sementara siluet konstruksi baja melengkung tampak gagah memayungi aspal.

Bagi pelintas awam, nama “Trisula” mungkin hanyalah label penunjuk arah yang jamak ditemui mulai dari jembatan, jalan raya yang berkelok, hingga monumen yang menjulang di ufuk selatan.

Padahal, ia bukan sekadar aspal dan beton; ia adalah identitas yang merajut benang sejarah, mobilitas modern, hingga bisikan mitos yang masih dipercaya hingga hari ini.

Blitar menyambut Ramadan 2026: antara ketegasan dan tenggang rasa

Kisah Dua Jembatan: Perpaduan Era 60-an dan Modernitas

Di atas aliran Brantas sungai terpanjang di Jawa Timur, berdiri dua struktur yang mewakili pergulatan zaman yang berbeda. Banyak pelintas yang tak menyadari bahwa mereka sedang menyeberangi dua era teknologi.

Jembatan Trisula I (Lama)

Dibangun pada rentang 1968-1969, tepat setelah operasi militer berakhir. Kini, jembatan ini melayani arus lalu lintas dari arah Tulungagung menuju Kota Blitar.
Menariknya, jembatan ini sempat memerlukan penguatan struktural karena dampak aktivitas penambangan pasir di dasar Brantas yang mengakibatkan pengikisan dan pendangkalan di sekitar kaki-kaki jembatan.

Jembatan Trisula Baru

Hadir dengan estetika modern melalui konstruksi baja melengkung, jembatan ini dibangun antara tahun 2011 hingga 2013. Berfungsi melayani arus dari Kota Blitar menuju selatan.
Jembatan ini menjadi gerbang utama bagi para pelancong yang ingin mencicipi manisnya Kampung Coklat, melakukan ziarah ke Candi Simping, atau menikmati deburan ombak di Pantai Tambakrejo. Cukup ambil arah kiri setelah melintasi jembatan ini, dan Anda akan memasuki nadi wisata Blitar Selatan.

Jalan Trisula: Jalur Utama yang Membentang Melintasi 11 Wilayah

Jalan Trisula bukanlah sekadar jalan kecamatan biasa; ia adalah urat nadi strategis yang menghubungkan jalur provinsi menuju jantung pelosok Blitar Selatan. Jalan ini membentang panjang sebagai penghubung fisik antara Jembatan Trisula dengan Monumen Trisula di Bakung.
Berikut adalah wilayah-wilayah yang disatukan oleh jalan ini:
• Kelurahan Kademangan
• Desa Sumberjati
• Desa Dawuhan
• Desa Sumberjo
• Desa Suruhwadang
• Desa Bendosari
• Desa Pasiraman
• Desa Lorejo
• Desa Kedungbanteng
• Desa Ngrejo
• Desa Bakung
Eksistensi jalan ini sangat vital bagi lanskap geopolitik lokal karena menjadi akses satu-satunya menuju pusat administratif dan keamanan. Seperti Mapolsek Lodoyo Barat (di Kademangan), Mapolsek Bakung, serta Makoramil di kedua kecamatan tersebut.

Prasasti Tersembunyi dan Patung Misterius

Jika melambatkan laju kendaraan dan menepi sejenak, Trisula menyimpan rahasia fisik yang sering terabaikan oleh mata yang terburu-buru. Di sisi sebelah timur jembatan, menempel erat pada fondasi Jembatan Trisula I di bantaran Sungai Brantas, terdapat sebuah “Prasasti Jumbo”.
Prasasti ini adalah bukti autentik yang memahat tahun pembangunan sebagai pengingat masa lalu bagi siapa saja yang mau menelusurinya hingga ke bawah konstruksi. Tak hanya itu, di ujung jembatan berdiri dua patung yang seolah bertindak sebagai penjaga sunyi.
Keberadaannya mengundang tanya, apakah mereka sekadar penghias estetika, ataukah manifestasi dari “penjaga” spiritual yang dihormati warga? Kehadiran patung-patung ini memberikan kesan sakral sekaligus misterius, menyiratkan bahwa area penyeberangan ini adalah ruang transisi yang penting antara wilayah Utara dan Selatan.

Mitos Ayam Jantan dan Ritual di Atas Brantas

Masyarakat lokal tidak hanya melihat Trisula sebagai beton teknis, melainkan ruang yang sarat akan makna spiritual. Hingga hari ini, sebuah tradisi unik masih kerap dilakukan.

Tradisi Membuang Ayam Jantan

Pasangan pengantin yang berasal dari desa di seberang sungai (dari Utara ke Selatan atau sebaliknya) wajib membuang seekor ayam jantan di ujung jembatan sebelum menyeberang. Tindakan ini dipercaya sebagai simbol permohonan izin dan keselamatan kepada “penguasa” sungai saat melewati batas wilayah.

Tabur Bunga

Pada hari-hari tertentu, sering ditemukan taburan bunga di area jembatan atau di kaki patung. Praktik ini adalah bentuk penghormatan kolektif masyarakat terhadap energi yang ada di area jembatan, mengubah sebuah infrastruktur publik menjadi ruang ritual yang hidup.

Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Dari megengan ke bukber modern: Wajah ramadan 2026 di Blitar
×