Harmoni cahaya festival di Thailand
Malam bulan purnama pada bulan ke-12 kalender lunar Thailand menyuguhkan pemandangan cahaya yang luar biasa bagi setiap pengunjung.
Cahaya lilin berpendar di permukaan air sungai, sementara ribuan titik api melayang memenuhi angkasa malam yang gelap.
Fenomena visual ini berasal dari dua festival besar yang berlangsung secara bersamaan, yaitu Yi Peng dan Loi Krathong.
Meskipun keduanya melibatkan pelepasan lentera, masing-masing memiliki identitas, akar sejarah, dan makna spiritual yang berbeda.
Penyelenggaraan kedua tradisi ini menciptakan harmoni antara elemen api dan air yang menarik perhatian wisatawan mancanegara setiap tahun.
Masyarakat Thailand menjaga warisan ini sebagai simbol pembersihan diri dan penghormatan kepada kekuatan alam serta entitas suci dalam ajaran Buddha.
Akar Budaya: Tradisi Kerajaan Lanna dan Penghormatan Nasional
Festival Yi Peng memiliki akar sejarah yang kuat di wilayah utara Thailand, khususnya dalam tradisi Kerajaan Lanna kuno atau “Kerajaan Sejuta Sawah”.
Nama “Yi Peng” berasal dari kata “Yi” yang berarti dua dan “Peng” yang berarti hari bulan purnama. Istilah ini merujuk pada perayaan bulan purnama di bulan kedua kalender lunar Lanna yang telah berlangsung sejak abad ke-13.
Sejarah festival ini tersimpan dalam naskah daun lontar kuno yang menceritakan pengabdian seekor burung pembawa lilin kepada Buddha.
Berbeda dengan Yi Peng yang menonjolkan identitas kedaerahan Lanna, Loi Krathong merupakan perayaan nasional yang menyatukan seluruh masyarakat Thailand.
Tradisi ini berfungsi sebagai bentuk penghormatan dan permohonan maaf kepada Dewi Air, Phra Mae Khongkha.
Masyarakat menjalankan ritual ini untuk mensyukuri keberadaan air sekaligus memohon ampun atas pencemaran sungai.
Meskipun kini kedua festival menyatu dalam satu rangkaian acara besar, Yi Peng tetap membawa napas religius Lanna yang kental melalui tradisi Tang Tham Luang.
Dalam tradisi tersebut, para biksu membacakan khotbah Vessantara Jātaka yang menjadi inti spiritualitas masyarakat
Lentera: Khom loi dan loi Krathong
Media utama dalam kedua festival ini menggunakan bahan yang berbeda dan mengandung simbolisme yang sangat spesifik.
Orang-orang dapat mengenali perbedaannya melalui bentuk fisik dan cara pelepasan media tersebut ke alam.
Khom Loi (Yi Peng) menggunakan kertas beras tipis yang menempel pada rangka bambu atau kawat. Lentera ini berfungsi layaknya balon udara kecil dengan sel bahan bakar di bagian bawah.
Umat Buddha melepaskan Khom Loi ke langit sebagai simbol pelepasan nasib buruk, kemalangan, dan beban masa lalu.
Cahaya lentera tersebut menjadi persembahan bagi stupa surgawi Phra That Kaew Chulamanee atau Cūḷāmaṇi Cetiya yang berada di surga Trāyastriṃśa.
Masyarakat juga memasang khom khwaen atau lentera gantung dalam lima warna suci. Warna biru, merah, kuning, putih, dan oranye melambangkan Chapphannarangsi atau aura cahaya Buddha yang berfungsi melindungi lingkungan dari gangguan roh jahat.
Krathong (Loi Krathong) menggunakan bahan dasar alami seperti potongan batang pohon pisang dan daun pisang.
Pengrajin menghias wadah berbentuk teratai ini dengan bunga berwarna-warni, dupa, dan lilin. Pelepasan krathong ke sungai melambangkan rasa hormat kepada dewi air dan upaya membuang sifat-sifat buruk.
Fokus tradisi ini mengarah ke elemen air, sementara Yi Peng memfokuskan pengabdian ke arah langit.
Di kuil-kuil, umat Buddha juga menyalakan phang pratheep atau lampu tanah liat kecil sebagai bentuk pemujaan kepada lima Buddha dalam era Bhadrakalpa.
Titik perayaan utama: Chiang Mai dan wilayah lainnya
Chiang Mai menempati posisi sebagai pusat perayaan Yi Peng yang paling megah. Di kota ini, masyarakat menghias pintu masuk rumah dan kuil dengan sum pratu pa atau gerbang hutan yang menggunakan daun kelapa dan pohon pisang.
Pemandangan ini meniru suasana hutan Himavanta dalam legenda Buddha.
Lokasi lain seperti Taman Bersejarah Sukhothai menyelenggarakan perayaan selama sepuluh hari dengan latar belakang reruntuhan bangunan kuno yang bersinar keemasan.
Di Bangkok, Kanal Phadung Krung Kasem menjadi pusat aktivitas melalui tema Amazing Night of Lights. Lokasi ini menawarkan pengalaman interaktif bagi pengunjung melalui lokakarya pembuatan krathong yang mudah mengurai (biodegradable).
Wilayah Samut Songkhram menampilkan keunikan melalui Loi Krathong Kap Kluai yang menggunakan pelepah pisang kepok.
Sementara itu, wilayah Tak menyelenggarakan tradisi 1000 Lentera Tak Loi Krathong Sai yang menghanyutkan ribuan batok kelapa berisi lilin di sepanjang Sungai Ping.
Setiap daerah menunjukkan kreativitas lokal tanpa meninggalkan nilai spiritual utamanya.
Kedua festival ini pada dasarnya menjadi sarana bagi umat Buddha untuk mencari pahala atau tham bun. Melalui persembahan cahaya, masyarakat mengekspresikan pengabdian kepada ajaran suci dan rasa syukur kepada alam semesta.
Yi Peng dan Loi Krathong berhasil menyatukan keindahan tradisi kuno dengan kebutuhan pariwisata modern.
Perpaduan antara lentera yang menghiasi langit dan krathong yang menerangi air menciptakan harmoni budaya yang menjadi simbol kedamaian bagi masyarakat Thailand.
Kehadiran ribuan cahaya ini bukan sekadar pesta visual, melainkan sebuah doa kolektif untuk masa depan yang lebih cerah dan bersih dari kemalangan masa lalu.

