Artikel
Beranda » Fakta tentang Kabupaten Aceh Tamiang yang berlokasi di ujung timur Serambi Mekah dan jadi ‘buffer zone’

Fakta tentang Kabupaten Aceh Tamiang yang berlokasi di ujung timur Serambi Mekah dan jadi ‘buffer zone’

Peta Kabupaten Aceh Tamiang. (Foto: Wikipedia)

1. Pendahuluan: Lebih dari Sekadar Titik Perbatasan

Bagi pejalan yang menempuh jalur darat dari Sumatera Utara menuju Serambi Mekah, Kabupaten Aceh Tamiang sering kali hanya menjadi pemandangan yang lewat sepintas di balik jendela bus.

Sebagai “pintu masuk” utama di pesisir timur, wilayah seluas 1.957,02 km² ini kerap dianggap sekadar titik transit administratif sebelum pelancong memacu kendaraan menuju jantung Provinsi Aceh. Padahal, jika kita bersedia menepi sejenak, kabupaten yang terdiri dari 12 kecamatan ini menyimpan lapisan sejarah dan kekayaan budaya yang begitu berlapis.

Resmi mekar pada tahun 2002 dari Kabupaten Aceh Timur, Aceh Tamiang adalah sebuah anomali yang memikat. Ia adalah jembatan budaya yang menghubungkan karakter tangguh Tanah Rencong dengan kelembutan identitas Melayu.

Kisah para santri Aceh Tamiang, bertahan hidup di tengah lumpur yang tinggi

Di balik labelnya sebagai daerah perbatasan, “Bumi Muda Sedia” ini menawarkan narasi tentang kejayaan kuno yang mendunia, ketangguhan ekonomi di masa sulit, hingga arsitektur yang menghormati aliran air.

Mari kita bedah mengapa wilayah ini adalah permata tersembunyi yang layak mendapatkan apresiasi lebih dari sekadar jalur perlintasan.

2. Jejak Kuno “Da Miang” yang Mendunia

Nama Aceh Tamiang bukanlah sekadar label administratif modern, melainkan sebuah gema dari masa lalu yang terekam dalam tinta sejarah berbagai peradaban besar.

Jejak lumpur di Menanggini: Kesaksian relawan dari Blitar atas pemulihan pascabencana banjir Aceh Tamiang

Istilah “Tamiang” berakar dari kata Da Miang, sebuah entitas yang eksistensinya diakui secara global sejak abad ke-14. Jejaknya tertoreh dalam Prasasti Sriwijaya, membuktikan signifikansi wilayah ini dalam jejaring maritim nusantara.

Tak hanya itu, literatur Tiongkok kuno melalui karya Wee Pei Shih mencatat keberadaan sebuah negeri bernama Kan Pei Chiang (Tamiang). Bahkan, pujangga Majapahit, Prapanca, menyertakan nama Tumihang dalam Kitab Negarakertagama sebagai salah satu wilayah bawahan.

Analisis atas catatan lintas negara ini membawa kita pada kesimpulan intelektual yang menarik: jauh sebelum era globalisasi modern, Tamiang telah menjadi hub global yang diperhitungkan oleh kekuatan-kekuatan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, hingga Kekaisaran Tiongkok.

Saat ibu-ibu ini siapkan 400 porsi hidangan Ramadan di sekitar Dayah Al-Musthafa Aceh Tamiang

Ini adalah bukti bahwa Tamiang adalah pusat peradaban yang telah “melek dunia” sejak ratusan tahun silam.

“Aceh Tamiang memegang julukan ‘Bumi Muda Sedia’, yang diambil dari nama Raja Muda Sedia (memerintah 1330–1336). Sebagai bentuk legitimasi dan kedaulatan, raja ini menerima Cap Sikureung (Stempel Sembilan) serta hak Tumpang Gantung dari Sultan Aceh atas wilayah Karang dan Kejuruan Muda.”

3. Oase Melayu di Tanah Rencong

Keunikan demografis Aceh Tamiang sering kali mengejutkan para antropolog budaya. Meskipun berada di bawah naungan Provinsi Aceh yang identik dengan suku Aceh, kabupaten ini adalah satu-satunya wilayah di Aceh yang didominasi oleh etnik Melayu. Fenomena ini menjadikan Aceh Tamiang sebagai “buffer zone” atau jembatan budaya yang unik.

Ceria di Dayah Al-Musthafa: Puluhan anak di Aceh Tamiang larut dalam dongeng dari relawan PCNU Kabupaten Blitar

Identitas Melayu di sini tidak berdiri sendiri dalam eksklusivitas, melainkan tumbuh menjadi mozaik sosial yang harmonis bersama suku Aceh, Gayo, Jawa, hingga Karo. Kemajemukan ini menjadi kekuatan sosial bagi kabupaten yang baru berusia dua dekade ini.

Dalam perspektif jurnalisme regional, harmoni ini mencerminkan sebuah kearifan bahwa perbedaan etnis bukanlah garis pemisah, melainkan kekayaan yang memperkuat pondasi sosial masyarakat Tamiang dalam membangun identitas kolektif yang inklusif namun tetap memegang teguh akar Melayunya.

4. Anomali Ekonomi: “Harga Medan” dan Logistik Sungai

Secara geografis, Aceh Tamiang berada di ujung timur Aceh, namun secara ekonomi, denyut nadinya sangat terhubung dengan Sumatera Utara. Dengan jarak hanya sekitar 250 km dari Kota Medan, wilayah ini menikmati keuntungan logistik yang luar biasa.

Pulihkan penerangan di rumah belajar Al-Qur’an, dua Banser asal Blitar ini benahi instalasi listrik di TPQ An-Nasihah Aceh Tamiang

Akses barang yang lebih dekat membuat harga berbagai kebutuhan pokok di sini relatif lebih murah dibandingkan daerah Aceh lainnya—sebuah kondisi yang populer disebut warga sebagai “Harga Medan”.

Ketangguhan ekonomi wilayah ini juga teruji secara historis. Kota Kuala Simpang tetap menjadi pusat aktivitas yang berdenyut kencang bahkan di masa-masa sulit konflik masa lalu, menunjukkan resiliensi masyarakatnya.

Selain mengandalkan jalur darat, Aceh Tamiang memiliki aset logistik strategis berupa aliran sungai besar seperti Sungai Tamiang (dengan cabang Simpang Kiri dan Simpang Kanan) serta Sungai Kaloy sebagai jalur transportasi air alternatif.

Pererat silaturahim, NU Peduli Blitar dan PCNU Aceh Tamiang perkuat misi kemanusiaan

Adapun penopang utama ekonomi wilayah ini bersandar pada tiga pilar:

  • Minyak dan Gas Bumi: Pusat produksi yang telah eksis selama puluhan tahun sebagai penunjang pendapatan daerah.
  • Kelapa Sawit: Menjadi salah satu sentra perkebunan sawit utama yang menggerakkan roda ekonomi rakyat.
  • Pertanian dan Perdagangan: Pemanfaatan dataran rendah yang subur untuk ketahanan pangan lokal.

5. Keajaiban Seribu Tingkat dan Ekowisata Berprestasi

Sektor pariwisata Aceh Tamiang kini sedang mengalami akselerasi besar. Salah satu primadonanya adalah Air Terjun 1.000 di Desa Rongoh, yang memiliki keunikan berupa grojokan air yang seolah tak terhitung tingkatannya.

Untuk mendukung pertumbuhan ini, pemerintah pusat bahkan mengucurkan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp21 miliar pada tahun 2023, di mana Rp14 miliar dialokasikan khusus untuk pembangunan akses jalan menuju Air Terjun 1.000 demi memudahkan wisatawan.

Bawa formasi lengkap, tim relawan PCNU Kabupaten Blitar all out bantu penyintas bencana di Aceh Tamiang

Prestasi Aceh Tamiang juga telah diakui di level nasional melalui Anugerah Pesona Indonesia (API) Awards. Tercatat, Ekowisata “Ujung Tamiang” meraih penghargaan pada 2021, diikuti oleh “Kain Tenun Putri Lindung Bulan” pada 2022.

Destinasi lain seperti pemandian Gunung Pandan pun terus bersolek dengan rencana pembangunan infrastruktur pendukung.

“Dampak dari pengembangan pariwisata ini mulai terasa secara nyata bagi masyarakat lokal. Kepala Disparpora Aceh Tamiang, Muhammad Farij, mengungkapkan bahwa ekonomi kreatif dan UMKM baru tumbuh subur di sekitar desa wisata, dengan perputaran uang mencapai Rp8–10 juta setiap akhir pekan.”

Cerita mahasiswa UNU Blitar di Aceh Tamiang: Saat anak-anak kecil juga butuh perhatian

6. Arsitektur yang Menghormati Aliran Sungai

Kebudayaan Tamiang mewariskan kearifan lokal yang mendalam melalui arsitektur tradisionalnya. Rumah panggung Tamiang bukan sekadar tempat bernaung, melainkan simbol harmoni antara manusia dan alam. Tinggi rumah induk dibuat setinggi “sekerunjong” (sejauh penjangkauan tangan orang dewasa ke atas) dengan jumlah tiang yang diatur secara adat: 9 atau 12 tiang.

Detail estetika rumah ini dapat dilihat pada motif ukiran simetris yang saling menyambung yang disebut “Awan Berarak”, menghiasi bagian dinding dan penahan angin.

Namun, yang paling menarik adalah aturan adat yang melarang (pamali) membangun rumah dengan posisi bubungan yang melintang sungai.

Rumah-rumah tradisional harus menghadap ke sungai atau ke arah Barat. Filosofi ini menunjukkan betapa besarnya penghormatan masyarakat Tamiang terhadap sungai (Simpang Kiri dan Simpang Kanan) sebagai urat nadi kehidupan mereka, memastikan bahwa hunian manusia tidak pernah “membelakangi” sumber kehidupan.

7. Penutup: Menatap Masa Depan di Bumi Muda Sedia

Aceh Tamiang adalah wilayah yang sedang bertransformasi dengan penuh visi. Meski dihadapkan pada tantangan alam seperti risiko bencana banjir dengan skor indeks 187.3, pemerintah dan masyarakatnya terus berupaya membangun infrastruktur jalan yang lebih merata untuk membuka keterisolasian wilayah wisata.

Dengan sejarah panjang Da Miang yang mendunia, komposisi etnis yang harmonis, hingga kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Aceh Tamiang memiliki modal yang lebih dari cukup untuk bangkit sebagai kekuatan baru di Gerbang Timur Aceh.

Setelah mengetahui sejarah panjang dan kekayaan tersembunyi yang dimilikinya, akankah kita tetap melihat Aceh Tamiang hanya sebagai sekadar gerbang perbatasan, atau sebagai tujuan yang layak untuk dieksplorasi lebih dalam?


Artikel ini diolah dari berbagai sumber

Berita Terbaru

×