Artikel
Beranda » Eksistensi sentra tahu Pakunden yang tak tergerus zaman

Eksistensi sentra tahu Pakunden yang tak tergerus zaman

sentra tahu di Pakunden (sumber foto: web Pemkot Blitar)

Bagi kebanyakan orang, tahu bisa menjadi kawan setia di atas piring setiap harinya. Namun, jarang ada yang menyadari bahwa di balik kelembutan tekstur dan rasa gurihnya, tersimpan denyut nadi ekonomi yang telah berdetak selama lebih dari setengah abad di Kelurahan Pakunden, Blitar.

Sejak pagi buta, aroma khas rebusan kedelai dan kepulan uap dari tungku-tungku kayu bakar sudah memenuhi udara, menandakan dimulainya aktivitas. Ada alasan di balik eksistensi sentra tahu Pakunden yang tak pernah lekang oleh waktu.

Warisan Legendaris Sejak Era 70-an

Reputasi Pakunden sebagai sentra tahu bukanlah hasil promosi instan, melainkan sejarah panjang yang dimulai sejak tahun 1970-an. Di sini, tradisi bukan sekadar kata benda, melainkan aktivitas harian.
Memasuki gang-gang di Pakunden, Anda akan disuguhi pemandangan unik di mana rumah-rumah warga merangkap sebagai pabrik. Meskipun zaman kian modern, para produsen tetap setia mempertahankan teknik manual.
Proses penggilingan, perebusan dengan kayu bakar yang memberikan aroma khas, hingga pencetakan manual tetap dijaga demi mempertahankan rasa autentik yang sulit ditiru oleh mesin pabrikasi industri besar. Inilah yang membuat tahu Pakunden tetap menjadi primadona pasar meski dikelilingi oleh berbagai produk pangan modern.

Galeri Tofu: Menuju Wisata Edukatif

Pemerintah Kota Blitar menunjukkan komitmen serius melalui rencana strategis pembangunan Galeri Tofu. Dengan anggaran mencapai Rp 3,5 miliar, proyek di atas lahan seluas 1.425 m² di Jalan Bengawan Solo ini dirancang untuk mengubah citra Pakunden dari sekadar lokasi produksi menjadi pusat edukasi kuliner. Proyek ini bertujuan membawa industri rumah tangga ke ranah publik yang lebih luas.

“Jaring Pengaman” Ekonomi yang Tangguh

Riset dari Universitas Gadjah Mada mengungkap rahasia mengapa industri Pakunden tetap kokoh meski dihantam fluktuasi harga kedelai yakni adanya kekuatan jaringan sosial. Di sini, hubungan kerja tidak bersifat transaksional kaku, melainkan personal dan kekeluargaan.
Jaringan ini berperan vital dalam dua tahap utama.
1. Tahap Produksi.
Hubungan informal dengan keluarga dan tetangga memastikan keamanan sumber daya dan fleksibilitas kerja yang tinggi.
2. Tahap Distribusi.
Peran “loper” (penjual) bukan sekadar kurir, melainkan agen image building yang membangun loyalitas pelanggan serta memperlancar pertukaran informasi pasar secara cepat. Sistem “jaring pengaman sosial” inilah yang memfasilitasi rantai pasok tetap berjalan mulus dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tantangan Lingkungan dan Urgensi Keberlanjutan

Penelitian menunjukkan kadar BOD (Biological Oxygen Demand) mencapai 132 mg/L dan COD (Chemical Oxygen Demand) menyentuh 406,5 mg/L. Angka ini menunjukkan beban polutan organik yang sangat berat bagi ekosistem sungai.
Meskipun pemerintah telah membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpadu, pada kenyataannya fasilitas ini sering kurang mendapat perhatian serius atau diabaikan oleh oknum pengusaha.
Keberlanjutan industri tahu Pakunden di masa depan sangat bergantung pada kemauan kolektif untuk mengoptimalkan IPAL dan tidak lagi membuang limbah langsung ke lingkungan.

Masa Depan Sentra Tahu Pakunden

Sentra Tahu Pakunden adalah bukti nyata kekuatan tradisi yang bertemu dengan upaya inovasi. Dari pemberdayaan perempuan melalui Kelompok Wanita Tani hingga visi besar Galeri Tofu, Pakunden sedang berupaya naik kelas.

Namun, prestasi ekonomi ini harus dibayar dengan tanggung jawab lingkungan yang lebih besar agar sungai tetap lestari bagi generasi mendatang.

Kendang jimbe di Blitar: industri kreatif lokal


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Berita Terbaru

×