Bagi masyarakat urban Indonesia, kedatangan Ramadan selalu membawa sebuah paradoks tahunan: bulan yang seharusnya menjadi momen perenungan dan kesederhanaan, justru bertransformasi menjadi periode dengan jadwal koordinasi sosial paling padat sepanjang tahun.
“Jadwal bukber” bukan lagi sekadar ajakan makan, melainkan ritual sosiokultural yang tak terelakkan.
Di tahun 2026 ini, kita melihat pergeseran yang semakin tajam.
Agenda buka bersama telah berevolusi dari sekadar membatalkan puasa menjadi panggung pertunjukan identitas, memicu pertanyaan mendalam: apakah meja makan kita masih menjadi ruang silaturahmi yang tulus, ataukah telah berubah menjadi arena validasi sosial yang melelahkan?
1. Tradisi ‘Unggahan’: Akar Spiritual yang Melampaui Meja Makan
Jauh sebelum estetika kafe menginvasi layar ponsel kita, masyarakat di Blitar khususnya di Dusun Beji telah menjaga fundamen spiritual melalui tradisi Unggahan atau Megengan.
Secara etimologis, Unggahan berasal dari kata “munggah” yang berarti naik, sebuah metafora indah tentang pelaporan amal perbuatan manusia kepada Sang Pencipta menjelang bulan suci.
Tradisi ini, yang lekat dengan napas Nahdlatul Ulama (NU) sebagaimana yang diamanatkan K.H. Hasyim Asy’ari untuk menjaga kearifan lokal, menyimpan filosofi kesetaraan yang mendalam. Sunan Bonang dahulu memperkenalkan konsep Panca Makara, di mana masyarakat duduk melingkar mengelilingi makanan.
Posisi melingkar ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan simbol bahwa di hadapan Tuhan, tidak ada hierarki sosial; semua setara dalam rasa syukur. Menu yang disajikan nasi gurih, apem, hingga ayam ingkung adalah simbol penghormatan, baik kepada Tuhan maupun kepada para leluhur yang diyakini “pulang” menyambut Ramadan.
“Biyen jarene lek arep posoan, leluhur podho balik ning omah (Dulu katanya kalau menjelang puasa, para leluhur pulang ke rumah),” tutur Sugiyat (2025), merefleksikan kedalaman spiritualitas yang menjadi jangkar tradisi ini.
Menariknya, esensi “munggah” atau pelaporan ini masih bertahan hingga 2026, meski medianya telah bergeser. Jika leluhur kita “melapor” kepada Langit, generasi hari ini seolah merasa perlu “melapor” kepada lingkaran digital mereka.
Inti dari akuntabilitas itu tetap ada, hanya audiensnya yang kini berpindah ke layar kaca.
2. Perang Generasi: Evolusi ‘Social Debt’ di Meja Makan
Memasuki tahun 2026, meja bukber menjadi saksi bisu perbedaan kontras antara tiga generasi. Ini bukan sekadar perbedaan selera lidah, melainkan evolusi nilai sosiologis dalam memandang relasi:
- Baby Boomers (Usia 62–80 tahun): Bagi mereka, bukber adalah ruang berbagi kebijaksanaan hidup. Fokus obrolan bukan lagi tentang “kapan nikah”, melainkan topik-topik pragmatis manula: rekomendasi rumah sakit yang nyaman, proses pembayaran berobat agar tidak membebani anak, hingga bantuan bagi teman seangkatan yang membutuhkan.
- Generasi X (Usia 46–61 tahun): Generasi ini adalah penjaga gawang nostalgi. Mereka lebih memilih tempat yang intim, datang tepat waktu, dan yang paling kontras memiliki kesepakatan tak tertulis untuk menyimpan gawai.
Bagi Gen X, kemewahan adalah mengobrol tanpa interupsi notifikasi. Dalam hal pembayaran, mereka masih memegang tradisi “traktiran bergiliran” atau membayar sendiri-sendiri sebagai bentuk kemandirian.
- Milenial (Usia 30-an hingga 45 tahun): Di tahun 2026, milenial telah menjadi generasi yang mapan dan berkeluarga. Fokus mereka bergeser pada tempat yang nyaman untuk anak-anak namun tetap memiliki pencahayaan bagus untuk konten.
Koordinasi via grup chat dilakukan berminggu-minggu sebelumnya, dan sistem “split bill” via QRIS telah menghapuskan “drama” uang kembalian, menciptakan efisiensi sosial yang tanpa cela namun terkadang terasa mekanis.
3. Bukber Sebagai Panggung “Update Kehidupan dan Simbol Status”
Sosiolog Awan Setia Dharmawan membedah fenomena ini melalui kacamata Symbolic Interactionism. Di era digital yang kian matang, lokasi restoran, pilihan outfit bertema warna seragam, hingga menu yang dipesan adalah simbol yang merepresentasikan posisi sosial.
Terkadang, hadir dalam bukber bukan lagi didasari rindu, melainkan Fear of Missing Out (FOMO) ketakutan kolektif akan dianggap tidak solid atau tertinggal dalam “peta” pergaulan.
Namun, kita perlu bersikap inklusif dalam memandang fenomena ini. Yolan Wandasari, seorang milenial dari Blitar, berpendapat bahwa ajang “update kehidupan” di meja bukber adalah kebutuhan tulus untuk tetap terhubung di tengah kesibukan hidup yang semakin terfragmentasi.
Berbagi pencapaian terbaru baginya adalah bentuk quality time, bukan sekadar pamer. Namun, batas antara personal branding yang sehat dan konsumsi simbol yang berlebihan sering kali menjadi abu-abu.
“Dalam perspektif sosiologis, fenomena pamer dalam bukber dapat dipahami sebagai bagian dari teori hyper consumption, di mana masyarakat cenderung mengonsumsi barang lebih dari kebutuhan untuk mengekspresikan identitas. Maka, kurangi perilaku pamer; show off-lah pada circle-mu yang imbang,” tegas Awan Setia Dharmawan.
4. ‘Time Travel’ di Blitar: Kerinduan akan Pengalaman Otentik
Ada sebuah tren menarik di tahun 2026: masyarakat mulai jenuh dengan kafe modern yang serba minimalis dan serupa. Muncul kerinduan akan narasi sejarah dan tekstur alam yang nyata.
Di Blitar, De Karanganjar Koffieplantage menjadi jawaban atas dahaga akan orisinalitas ini. Terletak di perkebunan kopi yang berdiri sejak 1874, tempat ini menawarkan sensasi “perjalanan waktu”.
Pengunjung tidak hanya datang untuk paket bukber seharga 40 ribu yang menawarkan menu variatif seperti Nasi Gila, Chicken Teriyaki, hingga Mie Kuah, tetapi juga untuk inovasi edukatif seperti English Camp.
Di sini, bukber menjadi paket lengkap: sejarah, kuliner, dan pengembangan diri. Sementara itu, bagi mereka yang mencari kedamaian pedesaan, Luweng Lempung Heritage Resto & Community Space menawarkan menu legendaris blendi tewel (nangka muda pedas) dengan latar belakang asri hamparan sawah yang hijau.
Pilihan pada tempat bertema heritage ini membuktikan bahwa di tengah kepungan dunia virtual, manusia tetap mencari akar yang membumi.
5. Mengembalikan Esensi di Tengah Hiruk-Pikuk
Pada akhirnya, bukber di tahun 2026 adalah cermin dari siapa kita hari ini. Kita bisa menjadikannya beban finansial dan mental dengan terjebak dalam kompetisi status, atau mengembalikannya sebagai ruang refleksi yang menyehatkan jiwa.
Baik itu di sebuah perkebunan kopi bersejarah dengan chicken steak di tangan, atau di pinggir sawah dengan seporsi blendi tewel, keberkahan (barakah) sebuah pertemuan tidak terletak pada kemewahan menunya, melainkan pada ketulusan kehadiran kita bagi orang lain.
Pilihan kini kembali ke tangan Anda: menjadikan Ramadan sebagai deretan galeri foto yang estetik, atau sebagai momen untuk benar-benar mendengar cerita sahabat di hadapan Anda tanpa distraksi layar.
Tahun ini, apakah undangan bukber Anda didasari oleh kerinduan untuk bertemu, atau sekadar rasa takut untuk tertinggal?
Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

