Artikel Feature
Beranda » Cerita mahasiswa UNU Blitar di Aceh Tamiang: Saat anak-anak kecil juga butuh perhatian

Cerita mahasiswa UNU Blitar di Aceh Tamiang: Saat anak-anak kecil juga butuh perhatian

Isa Anshori Tertibi, mahasiswa UNU Blitar saat memperbaiki sepeda milik anak kecil di Aceh Tamiang, Rabu, 18 Februari 2026. (Foto: Ahmad/Bicarablitar.com)

Aceh Tamiang – Di tengah puing-puing sisa banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang pada November 2025 lalu, ada dari seorang relawan yang masih muda. Dia adalah Isa Anshori Tertibi, mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar.

Isa yang tergabung dalam rombongan Relawan NU Peduli PCNU Kabupaten Blitar, tampak sibuk bukan hanya dengan urusan logistik, melainkan juga menghibur anak-anak penyintas bencana.

Pada Rabu, 18 Februari 2026, Isa terlihat memperbaiki sebuah sepeda milik salah seorang anak kecil di lokasi terdampak. Tindakan ini menjadi simbol kecil dari upaya pemulihan trauma (trauma healing) yang sedang diupayakan oleh tim relawan.

Kisah para santri Aceh Tamiang, bertahan hidup di tengah lumpur yang tinggi

“Duka yang dialami para penyintas, terutama anak-anak, memerlukan penanganan yang lebih dari sekadar bantuan pangan,” ungkapnya.

Dalam wawancaranya, Isa mengungkapkan bahwa selain kebutuhan fisik, pendampingan psikososial menjadi poin krusial yang harus segera dipenuhi.

Ia menyampaikan bahwa anak-anak di Aceh Tamiang sangat membutuhkan perhatian khusus agar keceriaan mereka tidak terenggut oleh memori kelam bencana banjir tahun silam.

Jejak lumpur di Menanggini: Kesaksian relawan dari Blitar atas pemulihan pascabencana banjir Aceh Tamiang

Mahasiswa semester 4 Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) UNU Blitar ini menuturkan bahwa kondisi lapangan menunjukkan adanya kebutuhan mendesak akan tempat belajar yang layak.

Ia mengamati bahwa infrastruktur pendidikan yang rusak membuat proses belajar-mengajar menjadi terhambat, sehingga kehadiran ruang yang aman dan representatif untuk menuntut ilmu menjadi kerinduan kolektif bagi anak-anak di sana.

Isa, yang dijadwalkan akan mengabdi di Aceh Tamiang selama 10 hari, mengaku melihat secara langsung bagaimana wajah wilayah tersebut masih berupaya pulih pasca diterjang banjir.

Saat ibu-ibu ini siapkan 400 porsi hidangan Ramadan di sekitar Dayah Al-Musthafa Aceh Tamiang

“Perhatian dari berbagai pihak sangat dibutuhkan oleh para penyintas untuk benar-benar bangkit dari bencana yang telah terjadi di sini,” katanya. (nu/blt)

Berita Terbaru

×