Artikel
Beranda » Cara gen z meningkatkan minat literasi di era digital

Cara gen z meningkatkan minat literasi di era digital

gambar sebuah buku yang dibuka dengan lampu string di tengahnya (sumber foto: Nong di Unsplash)
Kita sering mendengar atau melihat statistik indeks minat baca Indonesia hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang, hanya satu yang benar-benar punya nyali untuk melahap buku secara serius. Data UNESCO dan Kemenkominfo ini diperparah oleh laporan PISA 2019 yang menempatkan kemampuan literasi kita di peringkat 62 dari 70 negara.
Indonesia memang punya tradisi lisan yang luar biasa cerita rakyat kita tak tertandingi. Namun, transisi ke budaya tulisan seolah macet. Membaca masih sering dianggap sebagai tugas sekolah yang membosankan, bukan sebuah petualangan.
Padahal, literasi adalah bahan bakar utama daya saing bangsa. Tanpanya, kita hanya akan menjadi penonton di panggung global, mudah termakan hoaks, dan kehilangan ketajaman berpikir kritis. Namun, di sela-sela krisis ini, sebuah gerakan justru lahir secara organik dari tempat yang paling tidak terduga yakni, media sosial.

Apakah gen z masih memburu buku fisik?

Sebagai digital native, gen z seharusnya menjadi garda terdepan pengadopsi e-book. Namun, survei GoodStats 2024 memberikan kejutan. Sekitar 73,4% gen z justru lebih memilih buku fisik. Mengapa? Jawabannya adalah perlawanan terhadap distraksi.
Di era di mana video pendek internet terus menggerus attention span (durasi konsentrasi), buku fisik seolah-olah menawarkan perlindungan. Sekitar 70% responden mengaku bahwa buku fisik memungkinkan mereka untuk fokus secara penuh tanpa gangguan notifikasi yang terus-menerus muncul di layar.
Membaca buku fisik bukan lagi sekadar nostalgia, melainkan kebutuhan taktis untuk menjaga kedalaman berpikir di tengah dunia yang makin dangkal. Aroma kertas dan sensasi membalik halaman menjadi oase bagi konsentrasi yang mulai memendek.

Fiksi sejarah: Gerbang pembuka menuju kebenaran masa lalu

Bagi banyak partisipan, genre fiksi sejarah adalah candu pertama yang membawa mereka ke dunia literasi serius. Akun seperti @kangmassugik dan @sunfleurbelle mengakui bahwa mereka yang awalnya bukan pembaca aktif, kini mulai rutin berburu fakta setelah terpikat oleh narasi fiksi yang kuat.
Dampak nyata dari “pintu masuk” ini terlihat pada pengalaman Sore (@arjwaderana). Berawal dari event mengulas buku Pulang, ia mendapatkan hadiah buku Laut Bercerita yang kemudian membawanya menyelami sejarah Orde Baru lebih dalam.
Bahkan, penulis Leila S. Chudori dalam bukunya Namaku Alam menyebut komunitas ini sebagai pencatat sejarah modern.
Beberapa karya legendaris yang menjadi rekomendasi utama BBSB meliputi:
• Rasina karya Iksaka Banu
• Laut Bercerita dan Pulang karya Leila S. Chudori
• Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer
• Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan

Bukan sekadar hobi, tapi daya saing bangsa

Literasi yang rendah bukan hanya masalah individu, tetapi juga ancaman ekonomi. Daya saing tenaga kerja kita saat ini menduduki peringkat ke-46 dunia, tertinggal jauh di belakang Singapura (peringkat 2), Malaysia (peringkat 27), dan Thailand (peringkat 34).
Tanpa kemampuan menyerap informasi yang kompleks, kita akan selalu kalah dalam inovasi. Kurangnya literasi membuat kita pasif dalam belajar dan lemah dalam berargumen. Sebaliknya, generasi yang gemar membaca adalah generasi yang mampu menciptakan solusi inovatif dan berdaya saing global.

Harmoni antara tradisi dan teknologi

Fenomena BBSB membuktikan bahwa teknologi (X/Twitter) dan tradisi (buku fisik) tidak perlu bertentangan. Keduanya bisa berjalan beriringan untuk menciptakan ekosistem belajar yang menyenangkan. Media sosial bertindak sebagai pengeras suara, sementara buku fisik tetap menjadi jangkar bagi kedalaman intelektual.
Masa depan literasi Indonesia ada di tangan komunitas-komunitas organik yang berani mengubah pengetahuan menjadi sebuah gaya hidup yang membanggakan. Literasi bukan lagi soal menghafal angka tahun di buku pelajaran, melainkan tentang memahami siapa kita dan ke mana bangsa ini akan melangkah.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Mengenal kebiasaan “ngopi” kalangan gen z

Berita Terbaru

×