Artikel
Beranda » Candi penataran: situs besar di Jawa Timur yang masih kokoh

Candi penataran: situs besar di Jawa Timur yang masih kokoh

candi penataran (gambar dihasilkan oleh Gemini AI)
Di balik susunan andesit yang bisu di lereng barat daya Gunung Kelud, tersimpan lapis-lapis ambisi, doa, dan rahasia politik yang jarang terjamah oleh kurikulum sekolah.
Candi Penataran atau yang secara historis dikenal sebagai Candi Palah, berdiri teguh di ketinggian 450 Mdpl sebagai saksi bisu metamorfosis peradaban Nusantara.
Kompleks ini bukan sekadar peninggalan satu penguasa. Namun, sebuah mahakarya lintas zaman yang berhasil merangkul tiga era kerajaan besar Kediri, Singasari, hingga Majapahit ke dalam satu pelataran suci seluas 12.946 meter persegi.

Benteng Spiritual Terhadap Amukan Gunung Kelud

Pembangunan awal Penataran pada masa Raja Srengga dari Kerajaan Kediri (abad ke-12) bukanlah tanpa alasan estetika semata. Ia dibangun sebagai “Candi Gunung”, sebuah benteng spiritual untuk menjinakkan temperamen Gunung Kelud yang legendaris.
Melalui Prasasti Palah (1194), kita mengetahui bahwa situs ini adalah tempat pemujaan kepada Hyang Acalapat, perwujudan Dewa Siwa sebagai Girindra atau Raja Gunung. Menariknya, istilah Girindra ini membuka tabir misteri sejarah yang lebih dalam.
Nama ini identik dengan gelar yang disandang oleh Ken Arok, pendiri wangsa Rajasa di Singasari. Hal ini memicu perdebatan di kalangan arkeolog bahwa Penataran mungkin merupakan tempat pendharmaan atau perabuan terakhir bagi Ken Arok, mengingat kedekatan sifat Sang Raja dengan pemujaan Bathara Siwa.
Di sini, kita melihat bagaimana masyarakat kuno tidak hanya memandang bencana alam sebagai ancaman fisik, tetapi sebagai entitas spiritual yang harus diajak berdialog melalui arsitektur dan ritual.

Relief Ramayana sebagai Alat Propaganda Visual Majapahit

Ketika kita melangkah ke Candi Induk, mata kita akan tertuju pada relief Ramayana yang dipahat dengan gaya selektif. Berbeda dengan pakem kakawin yang kronologis, relief di sini justru menghilangkan bagian awal dan akhir epos tersebut.
Narasi sengaja difokuskan pada episode “Hanuman Duta” dan dahsyatnya pertempuran di Alengka. Ini bukan sekadar transformasi kreatif dari teks ke batu, melainkan sebuah pesan politik yang tajam.
Dengan menonjolkan Hanuman sebagai utusan yang loyal dan perkasa, penguasa Majapahit khususnya pada masa Tribhuwanatunggadewi sedang menyusun sebuah manual loyalitas bagi para abdinya di tengah upaya konsolidasi kekuasaan.

Kisah Bujangga Manik dan Sisi “Duniawi” Peziarah Kuno

Sejarah sering kali menampilkan tempat suci sebagai ruang yang murni transendental, namun catatan perjalanan bangsawan Sunda, Bujangga Manik, pada abad ke-15 memberikan perspektif yang lebih membumi. Setelah menetap selama setahun di Candi Palah untuk memperdalam agama, sang peziarah akhirnya memutuskan pergi dengan rasa kecewa.
Bujangga Manik mencatat bahwa kesucian Candi Palah mulai tergerus oleh keramaian peziarah yang memanfaatkannya untuk kepentingan duniawi. Bayangkan sebuah situs agung yang perlahan berubah atmosfernya menjadi serupa pasar atau ruang negosiasi ambisi pribadi.
Refleksi ini menjadi cermin bagi kita hari ini. Dinamika antara komersialisasi dan kesakralan di tempat ibadah bukanlah fenomena modern, melainkan tegangan sosial yang telah ada sejak ratusan tahun silam.

Harmoni Magis “Purnama Seruling Penataran”

Candi Penataran bukanlah fosil sejarah yang mati. Kehidupannya terus berdenyut melalui tradisi “Purnama Seruling Penataran”. Di bawah siraman cahaya bulan yang memantul pada relief naga dan arca Dwarapala, udara malam yang dingin di kaki Kelud menjadi hangat oleh getaran ratusan seruling bambu.
Tanpa panggung formal, suara seruling menyatu dengan desis angin pegunungan dan aroma tanah basah. Menciptakan resonansi yang seolah memanggil kembali ruh kejayaan masa lalu.
Cahaya rembulan yang jatuh di atas pahatan batu purba memberikan dimensi visual yang mistis, membuat batas antara masa kini dan masa Majapahit seolah memudar.

Warisan yang Terus Berdenyut

Candi Penataran adalah bukti nyata dari ketangguhan budaya Nusantara. Ia sanggup bertahan melintasi pergantian dinasti yang berdarah, terkubur abu vulkanik, hingga akhirnya ditemukan kembali oleh Thomas Stamford Raffles pada 1815.
Meski imperium Kediri, Singasari, dan Majapahit telah runtuh, batu-batu di Penataran dan alunan seruling di malam purnama tetap bertahan sebagai pengingat akan kreativitas manusia yang tak lekang oleh zaman.

Berita Terbaru

×