Artikel
Beranda » Bukan sekadar rak buku, Perpustakaan Bung Karno mampu melahirkan inovasi

Bukan sekadar rak buku, Perpustakaan Bung Karno mampu melahirkan inovasi

perpustakaan Bung Karno
Bagi sebagian orang, perpustakaan mungkin masih terpatri dalam ingatan sebagai sebuah rak buku raksasa dalam gedung sunyi, eksklusif, dan penuh debu yang hanya relevan bagi akademisi.
Namun, jika Anda berkunjung ke Kota Blitar, persepsi usang tersebut akan runtuh seketika saat melangkah masuk ke UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno.
Jauh dari kesan kaku, perpustakaan ini telah bertransformasi menjadi mesin penggerak kesejahteraan masyarakat. Bukan sekadar klaim emosional, dampaknya terukur nyata melalui data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kota Blitar berhasil ditekan dari 6,68% pada tahun 2020 menjadi 5,39% pada tahun 2022.

Kegiatan Literasi

Sebagai bagian dari Program Prioritas Nasional ke-4 yang didukung oleh Bappenas RI, transformasi ini membuktikan bahwa literasi memiliki kekuatan praktis untuk mengubah nasib ekonomi.
Melalui konsep Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), tempat ini bertindak sebagai inkubator bisnis kreatif. Perpustakaan tidak lagi sekadar memberikan “ikan” (buku bacaan), melainkan “kail” berupa keterampilan teknis yang siap pakai di pasar modern.
Dua program unggulannya, Literasi Hasta Karya dan Wastra Nusantara, menghadirkan narasumber ahli seperti Yuliana Fitri (Founder Aruna Creative) dan Nina (Owner Lemayung).
Warga tidak hanya belajar teori, tetapi langsung mengeksekusi produk bernilai jual seperti tas, bando, sabuk, kipas, hingga kain lilit.
Inovasi ini memastikan wastra nusantara seperti batik dan tenun tidak hanya berhenti sebagai pajangan, tapi menjadi komoditas ekonomi kreatif yang kompetitif.
“Lewat TPBIS, kita akan menguatkan transfer knowledge. Perpustakaan diharapkan tidak hanya menjadi fasilitator pengetahuan, tetapi mampu menjadi sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Nurny Syam, Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno.
Salah satu fakta paling unik adalah bagaimana perpustakaan ini mengajarkan kemandirian pangan melalui Literasi Hidroponik dengan metode Akuaponik. Menariknya, pelatihan ini tidak hanya soal menanam, tetapi mengadopsi prinsip ekosistem sungai yang melibatkan mikroorganisme dan penggunaan bebatuan sungai sebagai media tanam.
Dipandu oleh praktisi seperti Tumpal Gultom (Owner Kebun Mahobi), warga diajarkan untuk membudidayakan ikan yang memiliki daya adaptasi tinggi seperti nila, lele, gurami, hingga bawal, bersamaan dengan tanaman produktif.
Ini adalah literasi yang berbau tanah dan air, sebuah simulasi ekosistem alami yang dipindahkan ke pekarangan rumah untuk menciptakan ketahanan pangan keluarga.
Selain itu, perpustakaan ini memiliki keterikatan batin yang kuat dengan sejarah melalui Literasi Mustika Rasa. Pelatihan memasak ini didasarkan langsung pada Mustika Rasa, buku resep legendaris yang diinisiasi oleh Bung Karno sendiri untuk mendokumentasikan kekayaan kuliner nusantara.
Selain keterampilan teknis, perpustakaan juga membekali warga dengan soft skill melalui Literasi Public Speaking bersama profesional seperti Grace Mamahit, agar warga mampu menjual ide dan produk mereka dengan percaya diri.
“Literasi bukan lagi soal mengeja kata-kata di atas kertas, tetapi soal kemampuan membaca peluang untuk meningkatkan taraf hidup secara nyata,” ujar Hartono, Pustakawan Ahli Utama.

Waktu Operasional dan Fasilitas

Lalu, hambatan klasik masyarakat produktif dalam mengakses ilmu adalah jam operasional yang terbatas. Menjawab tantangan ini, Perpustakaan Bung Karno membuka akses lebih lama, yakni dari pukul 08.00 hingga 20.00 WIB.
Perpustakaan ini juga menerapkan konsep GLAM sebuah perpaduan antara Gallery, Library, Archive, dan Museum. Pengunjung mendapatkan pengalaman sensorik yang lengkap melalui:
• Gallery: Pameran karya seni dan koleksi wastra nusantara.
• Library: Akses koleksi buku cetak dan digital yang komprehensif.
• Archive: Dokumen sejarah autentik yang terjaga rapi.
• Museum: Memorabilia dan artefak peninggalan Sang Proklamator.
Pendekatan ini efektif menarik berbagai segmen masyarakat. Anak-anak TK datang untuk menikmati galeri, sementara para seniman lokal menyelami arsip sejarah untuk mencari inspirasi karya baru.

UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno telah membuktikan bahwa ruang publik bisa menjadi jantung pemberdayaan ekonomi jika dikelola dengan visi yang cerdas. Perpustakaan bukan lagi sekadar gedung sunyi penjaga masa lalu, melainkan motor penggerak masa depan bangsa.


Artikel ini diolah dari berbagai sumber dengan bantuan AI

Kendang jimbe di Blitar: industri kreatif lokal

Berita Terbaru

×